Buku yang Tak Lagi Netral - Mabur.co

Buku yang Tak Lagi Netral

Sebuah buku pastilah mempunyai ideologi, mempunyai tujuan untuk diterbitkan. Apa pun buku itu. Yang penting isinya jujur. Mau framing atau tidak terserah.

Dulu ketika masih pelajar saat membaca buku saya tinggal menikmati saja. Tidak berpikir apa-apa.

Bagus atau tidak itu urusan subjektif saya. Apalagi kadang-kadang saya juga tergoda untuk meresensi buku.

Kalau tulisan resensi buku dimuat di media nasional alangkah dobel rasa senangnya, dibandingkan saat hanya dimuat di media lokal.

Namun semenjak mahasiswa saya sadar bahwa setiap buku ternyata membawa beban tidak netral. Setiap buku pada akhirnya juga mengedepankan keberpihakan.

Tentu saja itu juga tidak salah. Tapi di era AI sekarang ini, muatan buku sepertinya menjadi lebih problematis lagi. Setidaknya bagi saya sendiri.

Entah mengapa belakangan ini saya seperti dirundung “sikap waspada” terhadap buku yang saya jumpai, sepertinya sudah lebih dari tidak netral.

Saya selalu dirundung pikiran aneh: apakah buku itu dikerjakan pakai AI? Bagaimana kalau 100 persen?

Saya tidak bicara benar atau salah. Tapi saya kira pikiran aneh itu wajar juga muncul. Kadang saya berpikir juga mau dibawa ke mana peradaban literasi tekstual ini berkelana?

Terbayang bagaimana dulu para pujangga menuliskan huruf Jawa kuno, huruf Pallawa, misalnya. Terbayang bagaimana huruf-huruf itu bisa menempel di rontal atau lontar?

Jika akal imitasi lebih menguasai literasi tekstual, lalu di manakah posisi rasionalitas kita yang sesungguhnya? Cukupkah hanya terwakili saja?

Saya memang manusia yang tergolong sekte romantis, barangkali saja juga sedang merindukan autentisitas meskipun hal itu di masa kini juga pasti memicu perdebatan tak berujung.

Jadi, intinya di Hari Buku hari ini, saya memang hanya mengajak berefleksi singkat saja, tidak lebih. Mungkin ada gunanya, tidak juga tidak apa-apa.

Oleh karena itu kini saya juga rindu menulis tangan lagi meskipun hasilnya jelek. Tapi buat apa juga tulisan tangan. Buat apa juga pemikiran kalau semuanya sudah tertuang di akal imitasi, sudah runtut juga?

Selamat Hari Buku, kolom ini meskipun pendek saya tulis ketik manual lho, bukan AI. Hahaha… ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *