Mabur.co- Selat Malaka merupakan selat yang membentang sejauh 805 kilometer (520 mil) di antara perairan Semenanjung Malaysia (Malaysia Barat) dan Pulau Sumatra, Indonesia.
Selat Malaka memainkan peran penting dalam jalur penyebaran Islam ke Nusantara. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, sehingga memungkinkan penyebaran Islam ke wilayah Nusantara.
Dalam sejarahnya, Selat Malaka sebagai jalur perdagangan dipergunakan untuk lalu lintas pelayaran internasional. Telah dimulai sejak awal abad masehi. Bukti-bukti arkeologis memperkirakan bahwa hubungan perdagangan antarkawasan pantai timur Pulau Sumatra itu telah ada sejak masa-masa jauh sebelumnya.
Selat Malaka menjadi gerbang utama penyebaran Islam ke Asia Tenggara, dan pedagang di Selat Malaka memiliki peran besar dalam proses Islamisasi di Nusantara, terutama di daerah Sumatra. Selat Malaka ini diberi nama setelah Kerajaan Malaka menguasai kepulauan ini antara tahun 1414 hingga 1511.
Sebelum periode Islam, Nusantara sudah dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil rempah-rempah terbesar di dunia, seperti cengkih, pala, kapulaga, pinang, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, gading, timah, rempah-rempah, penyu, perak, dan emas. Barang-barang ini dibeli atau ditukar oleh pedagang asing dengan porselen, kain katun, dan kain sutra.
Selat Malaka menjadi pusat perdagangan dunia yang penting. Selat ini memiliki peran strategis sebagai penghubung para pedagang seperti India, Timur Tengah, Cina, dan bahkan Eropa, yang ingin tahu dan mencari rempah-rempah ke Nusantara.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyinggung potensi penerapan biaya bagi kapal yang melintas di Selat Malaka. Wacana itu muncul saat ia membandingkan kebijakan Iran yang mengenakan tarif di Selat Hormuz.
Menurut Purbaya, jika skema serupa diterapkan, Indonesia berpeluang mendapat tambahan penerimaan negara.
Pendapatan tersebut, kata dia, bisa dibagi dengan Malaysia dan Singapura sebagai negara yang berbagi wilayah Selat Malaka.
“Kapal lewat Selat Malaka enggak kita charge, ya. Sekarang Iran meng-charge kapal lewat Selat Hormuz. Kalau kita bagi tiga, Indonesia, Malaysia, Singapura, lumayan, kan,” ujarnya dilansir Republika, Jumat (24/4/2026).
Purbaya mengibaratkan pembagian pendapatan dapat disesuaikan dengan panjang wilayah masing-masing negara. Dalam hal ini, Indonesia dan Malaysia disebut berpotensi memperoleh porsi lebih besar dibanding Singapura.
Menurut Purbaya, posisi Indonesia sebenarnya memang sangat strategis dalam jalur perdagangan dan energi global. Hal ini juga sejalan dengan arahan Presiden agar Indonesia tidak melihat diri sebagai negara pinggiran.
“Indonesia ini bukan negara pinggiran, kita ada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia,” ujarnya. ***



