Siapa Sih Lansia yang Suka Dikritik? - Mabur.co

Siapa Sih Lansia yang Suka Dikritik?

Mabur.co – Belakangan ini, pemerintahan presiden Prabowo kerap dihadapkan pada satu situasi pelik, yang mungkin belum pernah dialami oleh presiden-presiden sebelumnya sejak era reformasi.

Ya, rezim kepemimpinan Prabowo-Gibran sangat identik dengan pemerintahan yang anti kritik, kerap melakukan represi, kooptasi, sekaligus kriminalisasi, terhadap siapapun rakyat yang melakukan kritik, dan sebagainya.

Salah satu yang terparah bahkan sampai disiram air keras, seperti yang dialami aktivis KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekeras), Andrie Yunus.

Namun jika ditelusuri lebih jauh, sepertinya ada satu korelasi yang cukup selaras, antara sikap anti kritik dengan faktor “U” (usia).

Seperti yang kita ketahui bersama, Prabowo Subianto adalah mantan jenderal TNI kelahiran 17 Oktober 1951, dan saat ini ia berusia 74 tahun. Dan pada Oktober nanti ia akan berusia 75 tahun.

Sehingga Prabowo sudah sangat sah dikategorikan sebagai lansia (lanjut usia, diatas 60 tahun), dan juga manula (manusia lanjut usia).

Selain itu, Prabowo juga sangat lekat dengan zaman orde baru. Apalagi sang presiden orde baru, Soeharto, juga merupakan mertua dari Prabowo sendiri.

Dengan usia yang akan menginjak 75 tahun dalam beberapa bulan lagi, sikap anti kritik yang kerap ditunjukan oleh Prabowo beserta jajarannya di kabinet Merah Putih, bisa jadi merupakan sesuatu yang lumrah.

Bagaimana tidak, usia 75 tahun adalah usia yang secara umum sudah tidak mampu lagi untuk “dididik” menjadi sesuatu yang berbeda, dari apa yang sudah diyakininya selama berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

Itu artinya, apapun masukan dari rakyat, pengamat, maupun “antek-antek asing” sekalipun, selama itu bertentangan dengan keyakinan pribadinya, semua masukan itu tetap tidak akan mampu mengubah pendirian sang presiden, untuk membawa suatu perubahan sesuai dengan keinginan rakyat.

Karena bagi Prabowo, yang sering dianggap menganut sistem otoritarian (kekuasaan terpusat kepada penguasa, yakni presiden), masukan atau kritik dari rakyat bisa dianggap sebagai ancaman, suara-suara “bising”, maupun sesuatu yang harus ditertibkan, dan seterusnya.

Sayangnya, itulah yang menjadi keyakinan seorang lansia seperti Prabowo, yang sepertinya sangat tidak mungkin diubah oleh siapapun juga. Kecuali oleh seorang Prabowo sendiri.

Sementara terkait fenomena “kriminalisasi pengamat” maupun akademisi yang terjadi belakangan ini, Prabowo seolah-olah memang sedang menjalankan misinya, untuk benar-benar menertibkan pengamat maupun pengkritik pemerintah sampai ke akar-akarnya, sehingga keyakinan pribadinya akan kekuasaan absolut (sama seperti periode mertuanya berkuasa) akan benar-benar terwujud.

Fenomena ABS (Asal Bapak (Prabowo) Senang)

Selain bersikap anti kritik, pemerintahan saat ini juga dikenal dengan istilah ABS (Asal Bapak (Prabowo) Senang). Dimana setiap laporan yang masuk ke telinga presiden, haruslah yang bersifat indah, optimistik, ataupun mencerahkan. Sekalipun lagi-lagi hal itu belum tentu sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Tanpa disadari, ABS adalah sifat yang sangat identik dengan lansia (tidak selalu, tapi kebanyakan).

Karena yang namanya lansia, alias seseorang yang sudah berusia lanjut, mendengarkan atau membaca informasi yang menyakitkan tentu saja akan berbahaya bagi kesehatan dirinya sendiri.

Sebab umumnya, yang namanya kakek ataupun nenek, mereka seringkali hanya ingin mendengarkan sesuatu yang indah dari anak-anak maupun cucu-cucunya.

Entah itu informasi tentang pendidikan, pekerjaan, karier, kehidupan pribasi (asmara), maupun pencapaian tertentu lainnya. Semua itu haruslah yang memiliki narasi yang indah, tidak menyakitkan hati dan telinga, dan sebagainya.

Bahkan bisa saja, seorang anak terpaksa berbohong kepada orang tuanya yang sudah lansia, agar tidak kena marah, amukan, dan seterusnya.

Karena ia tahu, menceritakan sesuatu secara real (sesuai fakta, yang tidak selalu indah) akan membuat hati seorang lansia menjadi terluka, yang mana akibatnya juga bisa fatal bagi kesehatan lansia itu sendiri, akibat tidak siap menerima informasi yang tidak ia inginkan.

Dengan segala kecenderungan di atas, tidak usah heran ketika melihat rezim kepemimpinan yang satu ini sangat identik dengan sikap anti kritik, mengkriminalisasi atau membungkam setiap kritik dengan segala cara, sampai hanya menghendaki informasi yang indah-indah saja (ABS).

Karena sekali lagi, memang itulah nature seorang lansia, dan itu sudah tidak bisa diubah lagi oleh siapapun juga, selain lansia itu sendiri.

Nikmatilah “rezim lansia” ini, selagi beliau masih ada kesempatan untuk menjadi pemimpin negara. Sebuah pengabdian terbaik seorang warga negara terhadap bangsanya sendiri, meskipun harus merusaknya perlahan-lahan, akibat gaya kolot serta totalitariannya, yang memang sudah melekat sejak lama.

Mungkin inilah takdir bangsa Indonesia hari ini, agar kita semua segera tersadar, bahwa negara ini memang sudah sebegitu rusaknya. Sampai-sampai seorang lansia begitu ngebet untuk menjadi presiden, bahkan sampai mendaftar (nyapres) sebanyak empat kali.

Dan setelah akhirnya terpilih (menjadi presiden), ia ingin terus mengabdi disana, sampai akhir hayatnya.

Tak peduli seberapa rusak negara ini setelah dipimpinnya, yang penting keyakinan pribadinya selalu tercapai. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *