Mabur.co – Sejak ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 2014 lalu, peringatan Hari Buruh Nasional (national labour day/May Day) kerap diwarnai dengan aksi demo di berbagai kota, yang bertujuan untuk menuntut hak-hak buruh sedemikian rupa, agar memperoleh perhatian serius dari pemerintah, sekaligus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan (gaji), dan seterusnya.
Peringatan May Day sebagai hari libur nasional sebenarnya telah diinisiasi oleh Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) pada 2013 lalu, berkat perjuangan panjang para serikat buruh agar pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib mereka pada saat itu.
Namun, sejak 2014 hingga saat ini (2026), apa saja yang sudah didapatkan oleh buruh dalam setiap aksi demonya selama bertahun-tahun setiap tanggal 1 Mei tersebut?
Kata “buruh” sendiri sejatinya sudah berkonotasi negatif sejak lama. Karena buruh merupakan representasi pekerja kasar yang hanya dibayar seadanya, tidak mendapat fasilitas jaminan yang aman dan layak, serta rentan terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) kapan saja.
Melansir dari laman Liputan6, Jumat (1/5/2026), berbagai aksi demo yang berlangsung sejak 12 tahun lalu itu telah berhasil “memaksa” pemerintah untuk memberikan berbagai respons.
Mulai dari penyesuaian regulasi, hingga pembentukan jaminan sosial baru bagi para pekerja.
Namun dalam perkembangannya sampai sejauh ini, seluruh respons perubahan tersebut belum benar-benar cukup untuk memastikan bahwa pekerjaan buruh telah dilindungi oleh negara secara keseluruhan.
Seperti biasa, dalam peringatan May Day, pemerintah hanya datang dan menyapa para buruh dengan janji omon-omon ala kampanye, yang sejak dahulu juga sudah diserukan oleh rezim-rezim sebelumnya.
Namun tetap saja, perubahannya tidak pernah berlangsung signifikan.
Sulit membayangkan jika aksi-aksi demo tersebut akan membuat seorang buruh bertransformasi menjadi sosok miliarder, sanggup membeli rumah seharga Rp500 miliar tanpa nyicil, ataupun membeli mobil juga tanpa nyicil, dan seterusnya.
Tidak hanya itu, kita juga kemungkinan tidak (dan tidak akan) pernah melihat situasi di mana orang-orang konglomerat atau miliarder melakukan demo besar-besaran di Gedung DPR, Istana Negara, dan seterusnya, untuk menuntut hak-hak mereka yang diabaikan oleh pemerintah, sampai-sampai diperingati sebagai hari libur nasional, dan sebagainya.
Seolah buruh memang sudah ditakdirkan untuk menjadi kaum yang hidupnya miskin, bodoh, tukang protes, tukang pinjem duit (atau pinjol), dan lain sebagainya.
Nasib buruh juga sebenarnya tidak jauh beda dengan guru (terutama honorer), yang juga salah satu bagian dari buruh itu sendiri.
Dari satu rezim ke rezim berikutnya, yang namanya guru seolah-olah nasibnya akan selalu sama, hidupnya pun sepertinya tidak pernah berubah, yang ada justru berubah jadi lebih buruk.
Meskipun semua rezim akan selalu mengucapkan janji-janji manis kepada kaum guru (terutama soal kesejahteraan), namun realitasnya di lapangan tidak pernah seindah janji omon-omon tersebut, dengan berbagai alasan “klasik” yang menyertainya.
Bahkan nasib guru pun sudah dikalahkan oleh program “kemarin sore” bernama MBG (Makan Bergizi Gratis), yang begitu dianak-emaskan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Mungkin memang benar, bahwa buruh akan selalu jadi buruh. Labour will always be a labour.
Unless they do something for themselves. Misalnya dengan belajar membuka usaha sendiri, agar melepaskan diri dari status buruh tersebut.
Sehingga mereka tidak perlu lagi “merayakan” atau memperingati hari buruh (dengan melakukan aksi demo) setiap tanggal 1 Mei, karena itu sudah bukan urusan mereka lagi. (*)



