Mabur.co– Selama ini masyarakat mengenal Ki Hadjar Dewantara sebagai pelopor pendidikan Indonesia dan pendiri Taman Siswa. Namun di balik peran besarnya itu, ada sisi lain yang jarang diketahui publik.
Di Museum Dewantara Kirti Griya, yang berada di jalan Taman Siswa No. 31, Wirogunan, Mergangsan, Kota Yogyakarta, jejak kehidupan pribadinya masih tersimpan dan memperlihatkan sosok Ki Hadjar yang lebih manusiawi, hangat, serta penuh perjuangan.
Ki Hadjar Dewantara ternyata dikenal sangat peduli terhadap kenyamanan keluarganya. Di rumahnya, ruang kerja dibuat terpisah dari kamar tidur agar suara mesin ketik tidak mengganggu istri dan anak-anaknya.

Pemandu museum, Ki Agus Purwanto, mengatakan, Ki Hadjar Dewantara sangat mencintai seni. Ia percaya pendidikan tidak cukup hanya lewat buku, tetapi juga lewat musik, tari, dan kebudayaan.
Di rumahnya tersimpan piano yang digunakan menciptakan tembang dolanan anak. Ia juga ikut mengenalkan seni keraton kepada masyarakat luas agar bisa dinikmati rakyat biasa.
“Lahir dari keluarga ningrat dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat, Ki Hadjar justru memilih meninggalkan gelar kebangsawanannya,” ucapnya, saat ditemui di museum, Sabtu (2/5/2026).
Ki Agus Purwanto menjelaskan, sebelum dikenal sebagai tokoh pendidikan, Ki Hadjar adalah penulis kritis yang berani melawan pemerintah kolonial Belanda.
“Tulisan terkenalnya berjudul ‘Jika Aku Seorang Belanda’, membuat pemerintah kolonial marah. Ia kemudian dipenjara dan diasingkan. Dari sini terlihat Ki Hadjar bukan hanya pendidik, tetapi juga pejuang intelektual yang berani bersuara,” ucapnya.
Ki Agus Purwanto mengatakan, meski berasal dari keluarga terpandang, Ki Hadjar memilih hidup sederhana. Ia lebih fokus memperjuangkan pendidikan rakyat daripada menikmati status sosial.
“Sikap rendah hati inilah yang membuat namanya dihormati lintas generasi hingga sekarang,” ucapnya.
Ki Agus Purwanto menuturkan, sisi tersembunyi Ki Hadjar Dewantara memperlihatkan beliau bukan sekadar tokoh pendidikan.
“Ki Hadjar Dewantara adalah sosok ayah penyayang, pencinta budaya, pejuang berani, dan pribadi sederhana,” ucapnya kepada mabur.co.
Ki Agus Purwanto mengatakan, nama museum diberikan seorang ahli bahasa Jawa, Hadiwidjono, yang artinya rumah yang berisi hasil kerja Ki Hajar Dewantara. Dari nama itu diharapkan para pengunjung dapat mempelajari, memahami, dan mewujudkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ke dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Rumah ini bergaya Indis, perpaduan arsitektur Eropa dan Jawa dan dibangun pada tahun 1915,” ucapnya.
Ki Agus Purwanto mengatakan, pada tanggal 3 November 1957, Ki Hajar pindah ke rumah yang diberikan para alumni dan pecinta Tamansiswa di Jl. Kusumanegara 131, Yogyakarta.
Pada tahun 1958, Ki Hajar mengajukan permintaan kepada sidang Pamong Tamansiswa agar rumah bekas tempat tinggalnya dijadikan museum.
“Setelah Ki Hajar wafat pada tahun 1959, mulai tahun 1960, Tamansiswa berusaha untuk mewujudkan gagasan almarhum,” ucapnya.

Ki Agus Purwanto menjelaskan, setelah melewati beberapa proses, Museum Dewantara Kirti Griya diresmikan pada 2 Mei 1970.
Hal itu bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Kata “Dewantara” diambil dari nama Ki Hajar Dewantara sedangkan Kirti berarti “pekerjaan”, dan Griya berarti “rumah”.
“Dengan demikian arti lengkapnya adalah rumah yang berisi hasil kerja Ki Hajar Dewantara tersebut,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu pengunjung asal dari Magelang, Jawa Tengah, Dinda, mengatakan, Museum Dewantara Kirti Griya bisa menjadi wadah untuk mengenang dan memahami kembali warisan nilai-nilai Tut Wuri Handayani dari Ki Hadjar Dewantara.
“Karena pendidikan itu kan kunci untuk kita semua, bahkan sampai hari ini kita semua berhak untuk memiliki akses pendidikan yang baik,” ucapnya. ***



