Untuk kesekian kalinya, prediksi Emha Ainun Nadjib, yang lama disampaikan, terangkat ke publik. Sebuah potongan ceramah yang memuat jejak peradaban Nusantara, saat itu, akan ditemukan di Garut, Bantul dan Kediri. Yang terakhir, dikaitkan dengan penemuan situs candi Adan-Adan.
Dalam banyak kesempatan, Cak Nun, demikian akrab disapa, menyampaikan betapa agung dan hebatnya peradaban Nusantara. Jauh sebelum seperti apa yang diketahui publik. Pernah, Cak Nun dengan nada setengah marah, menyampaikan rasa bangganya menjadi orang Jawa.
Dalam potongan ceramah di salah satu kanal, Cak Nun berucap, “Aku ini oleh Gusti Allah diperintah menjadi orang Jawa, perintah Allah! Aku tidak berani melanggar Allah. Aku bukan orang Arab, aku orang Jawa, Cuk!”
Jawa memang memiliki keunikan, bila bukan sebuah keunggulan, dibandingkan dengan suku bangsa lain di mana pun. Jika peradaban diukur dari kualitas bahasa, maka bahasa Jawa memiliki kesempurnaan yang tak ditemukan dalam bahasa lain.
Silakan cek, bagaimana bahasa ini berkembang dari Sanskerta, Kawi, Jawa Kuna sampai sekarang. Kaya, lengkap dan sempurna bagaimana bahasa ini dipakai di masyarakat.
Apabila tinggi rendahnya peradaban diukur dari peninggalan sejarahnya, bisa dibandingkan percandian yang ada di Jawa dengan India, Kamboja, Cina, Vietnam, dll. Tidak saja jauh lebih rumit dan agung, tetapi juga besar dan fenomenal.
Kurang hebat apa Borobudur, Prambanan dan Muara Takus yang ada di Sumatra. Jika dilacak lebih jauh, di balik candi-candi itu ada banyak kisah yang belum semuanya terungkap. Baik di dalam prasasti maupun relief, memiliki kisah sejarah yang panjang dan menggetarkan.
Apabila predikasi Cak Nun benar, soal candi raksasa di ketiga wilayah, maka bisa dibayangkan betapa dahsyat peradadan yang pernah hidup dan berkembang di Jawa. Salah satu sebabnya, Yogyakarta dilalui tujuh sungai yang legedaris.
Dalam narasi lama dikenal dengan sapta sindava, tujuh sungai, yakni Kali Progo, Kali Winongo, Kali Code, Kali Bedog, Kali Gajahwong, Kali Kuning, Kali Opak. Mana ada kota yang diperkaya dengan tujuh sungai.
Penulis menjadi teringat dengan dialog bersama filolog yang lama meneliti peradaban Jawa, KRT Manu J. Widyasěputra. Beliau berkata bahwa jauh sebelum adanya Mataram Kuna, di Jawa telah ada peradaban yang agung dan besar.
Sebagian bisa kita ikuti pada kanalnya. Rama Manu, demikian beliau akrab disapa, telah melacak hampir tiga puluh tahun di Leiden Belanda untuk membaca manuskrip-manuskrip dari Jawa.
Terlepas benar dan tidaknya pendapat atau prediksi kedua tokoh, bagi orang sejarah, tak ada sejarah yang benar-benar utuh dan sempurna.
Sejarah akan selalu ditulis ulang, diperbarui narasinya, dan disempurnakan faktanya. Kuncinya ada pada ada tidaknya data atau sumber sejarah. Kebenaran selalu diperbarui begitu ada fakta baru.
Apakah penemuan situs Candi Adan-Adan, Gurah, Kediri, Jawa Timur akan sebesar apa yang diprediksi Cak Nun? Apakah itu menandai mulai tersingkapnya peradaban Nusantara lama? Masih menunggu data yang dikumpulkan para arkeolog.
Dari hasil identifikasi sementara, itu diduga merupakan candi bercorak Buddha terbesar yang ditemukan terkait era Kediri-Singasari (abad 11-13 M). Kita hanya bisa sabar menanti temuan data dan fakta baru.
Di balik itu semua, ada pertanyaan yang muncul, untuk apa kita susah payah mengangkat kembali kisah peradaban lama, sehabat apapun itu, jika kini masyarakat dijauhkan dari kebanggaan pada kebudayaan sendiri sambil disuruh menelan budaya asing?
Hidup memang tak bisa mundur ke belakang, tapi tanpa sejarah, kita hanya akan membuktikan diri sebagai bangsa yang dungu tanpa harga diri. ***
Ksatrian Sendaren, 8 Mei 2026




