Menelusuri Jejak Kyai Syihabudin, Pendiri Masjid Pathok Negoro Dongkelan - Mabur.co

Menelusuri Jejak Kyai Syihabudin, Pendiri Masjid Pathok Negoro Dongkelan

Mabur.co – Selain Masjid Gedhe atau Masjid Agung yang berada di pusat pemerintahan, Kasultanan Yogyakarta selama ini dikenal memiliki empat masjid yang tersebar di empat penjuru mata angin atau biasa disebut sebagai Masjid Pathok Negoro.

Selain berfungsi sebagai “Pathok’ atau penanda batas wilayah kekuasaan Kerajaan, Masjid Pathok Negoro ini juga memiliki fungsi sebagai kepanjangan tangan otoritas kerajaan, baik di sektor keagamaan, pendidikan, budaya, hingga pertahanan. 

Hingga saat ini keempat Masjid Pathok Negoro ini masih bisa ditemukan di wilayah Yogyakarta. Keempatnya berada di wilayah pinggiran Kuthanegara (pusat pemerintahan) sekaligus berada di perbatasan wilayah Negaragung (wilayah penyangga). 

Keempat masjid itu adalah Masjid Pathok Negoro An-Nur Mlangi di sisi Barat, Masjid Pathok Negoro Sulthoni Plosokuning di sisi Utara, Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat Babadan di sisi Timur, serta Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan di sisi Selatan. 

Dari keempat Masjid Pathok Negoro itu, Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan mungkin menjadi yang paling unik dan menarik dari masjid lainnya. Baik itu dari sisi awal sejarah berdirinya, perkembangan bentuk arsitekturnya, maupun pengaruhnya terhadap perkembangan kultur masyarakat di sekitarnya. 

Gapura menuju Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan (foto : JH Kusmargana)

Sejarah Pendirian

Terletak di wilayah Kauman, Dongkelan, tepatnya di Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan pertama kali dibangun pada tahun 1777 oleh penghulu pertama masjid ini bernama Kyai Syihabudin.

Menurut Raden Bekel Muhammad Burhanudin, Abdi Dalem sekaligus Penghulu Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan saat ini, pembangunan masjid ini dilakukan bersamaan dengan pembangunan serambi Masjid Agung atau Masjid Gede di sisi Barat Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta. 

Lalu siapakah sebenarnya Kyai Syihabudin? Sehingga ia dipercaya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, Raja Pertama sekaligus pendiri Kasultanan Yogyakarta untuk membangun masjid Pathok Negoro Dongkelan dan menjadi penghulunya?

Menurut penuturan Burhanudin, Kyai Syihabudin adalah sosok seorang santri alim yang memiliki ilmu agama serta ilmu kanoragan tinggi. Ia berasal dari Kedung Wot, Pucangan, Ambal, Kebumen. 

“Saat itu sebelum Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan HB I) sedang menghadapi konflik dengan Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyowo) yang merupakan keponakan sekaligus menantunya sendiri,” ujar Burhanudin yang merupakan keturunan ke7 Kyai Syihabudin. 

Karena kesulitan menghadapi Raden Mas Said yang dikenal sangat sakti dan tak pernah kalah dalam setiap pertempuran, Pangeran Mangkubumi pun berupaya untuk mencari bantuan pihak lain.

“Pangeran Mangkubumi lalu mendapatkan wangsit lewat mimpi bahwa ia harus mencari Jago Wiring Kuning. Dengan petunjuk dalam mimpi, ia pun mengirimkan utusan ke arah barat untuk menemui seorang Kyai di Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu Kebumen,” lanjutnya.

Suasana Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan (foto : JH Kusmargana)

Disana utusan Pangeran Mangkubumi itu pun lalu mengutarakan maksud dan tujuannya. Mengetahui hal itu sang Kyai akhirnya menunjuk salah seorang santri ‘pilihan’nya yang tak lain adalah Kyai Syihabudin untuk membantu Pangeran Mangkubumi menghadapi Raden Mas Said. 

“Saat itu Kyai Syihabudin menyanggupi, namun dengan satu syarat, jika ia berhasil mengalahkan Raden Mas Said, ia meminta agar diangkat sebagai patih. Dan Pangeran Mangkubumi pun setuju” katanya.

Setelah bergabung dengan Pangeran Mangkubumi, Kyai Syihabudin yang berjuluk kesatria Wiring Kuning itu pun akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Raden Mas Said. Dengan kesaktiannya ia berhasil memukul mundur Pangeran Samber Nyowo yang sangat terkenal itu.

“Namun pasca perjanjian Giyanti dan Pangeraan Mangkubumi menjadi Raja Pertama Kasultanan Yogyakarta, beliau lupa akan janjinya pada Kyai Syihabudin. Karena jabatan Patih justru diberikan kepada Bupati Banyumas, Tumenggung Yudhonegoro III yang kemudian bergelar Patih Danurejo I. Sementara itu Kyai Syihabudin justru diangkat sebagai Pengulu Keraton Yogyakarta,” jelasnya.

Meski menerima keputusan Sri Sultan HB I, Kyai Syihabudin yang saat itu bertugas di masjid Keraton Ambarketawang Gamping (sebelum keraton Yogyakarta berdiri) merasa kecewa. 

Setiap malam Kyai Syihabudin kerap ditemui Gurunya lewat mimpi yang meminta agar ia menolak atau tidak menerima jabatan penghulu tersebut karena tidak sesuai dengan janji awal sang raja. Tak berselang lama, Kyai Syihabudin pun akhirnya mengundurkan diri. 

“Kyai Syihabudin menolak halus jabatan penghulu Keraton dengan cara menabuh bedug lebih awal dari waktu semestinya. Dari situlah ia akhirnya diijinkan mengundurkan diri dan diberikan tanah perdikan (bebas pajak) di wilayah sebelah selatan Yogyakarta),” katanya. 

Wilayah yang ditempati Kyai Syihabudin itu akhirnya hingga saat ini disebut dengan Dongkelan, yang dalam bahasa Jawa diartikan sebagai cabutan. Hal ini Merujuk pada status Kyai Syihabudin yang dicabut dari jabatannya sebagai penghulu Keraton.

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan (foto : JH Kusmargana)

Setelah Kyai Syihabudin mengundurkan diri, jabatan Penghulu Keraton akhirnya diberikan kepada Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat yang merupakan saudara ipar dari Sultan Hamengkubuwono I.

Di tahun itulah yakni sekitar 1773 Masjid Agung atau Masjid Gede Kauman Keraton Yogyakarta dibangun. Sehingga membuat Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat dikenal sebagai penghulu masjid Agung Keraton Yogyakarta yang pertama.  

“Jika bangunan utama Masjid Agung keraton dibangun tahun 1773, maka serambinya baru dibangun tahun 1777. Disaat itu pula lah Masjid Pathok Negoro Dongkelan ini juga dibangun. Setelah Kyai Syihabudin diangkat menjadi Pengulu Pathok Negoro,” katanya.

Meski sama-sama memiliki jabatan pengulu, namun jabatan Pengulu Masjid Pathok Negoro secara hirarki lebih rendah dibanding Pengulu Masjid Agung Keraton. Jabatan itu berada setingkat dibawahnya.

Meski sama-sama menguasai bidang hukum dan syariat agama Islam, penghulu Pathok Negoro hanya bertugas wilayah perdikan dan mengelola masjid di wilayah tersebut.

“Awalnya Kyai Syihabudin hendak mendirikan masjid di sisi timur sungai Winongo. Namun karena masih satu garis lurus dengan bangunan Keraton, maka tidak diijinkan Sultan HB I, sehingga akhirnya pembangunan masjid dipindah di sisi barat sungai seperti saat ini,” ungkapnya. 

Sejak saat itulah Masjid Pathok Negoro Dongkelan berdiri yakni dengan Kyai Syihabudin sebagai penghulu pertamanya. Dengan ketinggian ilmu agama yang dimiliknya, Kyai Syihabudin bertugas memberikan dakwah pengajaran atau pendidikan keagamaan kepada masyarakat. 

Termasuk juga menjalankan peradilan keagamaan mewakili pihak Keraton yang memutus hukum perkara pernikahan, perceraian atau pembagian waris. 

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *