Mabur.co – Sejumlah petani lahan pasir di kawasan pesisir pantai selatan Bantul mencoba membudidayakan bawang bombai untuk pertama kalinya.
Penanaman bawang bombai ini dilakukan dengan teknologi smart farming yang memanfaatkan perangkat pertanian canggih seperti sensor kelembapan, tingkat keasaman atau PH tanah, hingga kadar nutrisi dalam tanah.
Bibit bawang merah varietas Trovi yang diimpor langsung dari Belanda ini, dipilih karena dinilai sangat adaptif sehingga cocok ditanam di dataran rendah, termasuk kawasan pesisir.
Ketua Kelompok Tani Pasir Makmur, Srigading, Sanden, Bantul, Sumarna, mengatakan, pada tahap uji coba ini ia mengaku akan menanam sebanyak 10.000 benih dari biji di lahan 1000 meter.
“Kita yakin uji coba ini akan berhasil karena kita menerapkan sistem smart farming. Mulai dari penggunaan sistem pengairan kabut yang dapat dikendalikan dengan telepon seluler. Hingga sensor kelembapan, tingkat keasaman atau PH tanah, hingga kadar nutrisi dalam tanah yang bekerja secara otomatis,” ungkapnya kepada mabur.co, Sabtu (9/5/2026).
Dengan sistem ini, jika tingkat keasaman atau PH tanah naik, maka sensor akan mendeteksi dan melakukan pengendalian lewat metode solenoid valve (katup solenoid).
Sistem ini bekerja lewat metode fertigasi atau otomatisasi pertanian yang berbasis IoT (Internet of Things). Nantinya Solenoid akan bertindak sebagai pintu air otomatis yang diatur oleh mikrokontroler untuk menyalurkan larutan penetral pH, seperti kapur dolomit cair, atau asam humat.
“Sebelumnya sudah saya coba untuk komoditas bawang merah dan berhasil. Semoga dengan komoditas bawang bombai ini juga bisa berhasil,” katanya.
Hingga saat ini budi daya bawang bombai sendiri masih sangat jarang dilakukan di Indonesia karena kurangnya pengetahuan tentang teknik budi daya di kalangan petani.
Hal itu membuat 95 persen konsumsi bawang bombai harus dipenuhi dari produk impor. Padahal secara geografis Indonesia sebenarnya memiliki beragam lahan yang sangat cocok untuk membudidayakan bawang bombai.
“Lahan pasir juga cocok karena memiliki tingkat drainase yang bagus. Baik itu saat musim hujan atau kemarau tidak masalah. Yang penting kita tahu SOP-nya,” katanya.
Dengan potensi pasar yang masih sangat luas, Sumarna berharap, bisa berhasil dalam uji coba pengembangan bawang bombai ini.
Dari 10 ribu bibit yang ditanam, diproyeksikan bawang bombai yang dihasilkan akan bisa mencapai 9 kuintal hingga 1,2 ton dengan masa panen 60 hari. Yakni dengan harga jual Rp20-25 ribu per kilogram. ***




