Salah satu implementasi dari kebijakan reorganisasi di Hindia Belanda adalah pembentukan Kabupaten Bondowoso dan Panarukan. Pembentukan dua kabupaten tersebut berdasarkan Besluit tanggal 20 Mei 1850 No 1.
Menyatakan bahwa Afdeling Bondowoso wilayahnya meliputi distrik Bondowoso, Wonosari, Penanggongan, Sukokerto, Jember, dan Poeger. Afdeling tersebut diletakkan di bawah pengawasan seorang asisten residen dan seorang bupati berkedudukan di Bondowoso.
Afdeling Panarukan wilayahnya meliputi distrik Panarukan, Situbondo, Prajekan, Kapongan, Kali Tikus, dan Sumberwaru, yang juga diletakkan di bawah pengawasan asisten residen dan seorang bupati berkedudukan di Situbondo.
Sebenarnya, sebelum pendirian Kabupaten Bondowoso, di Bondowoso sudah ada pemerintahan Daerah yang bermula tahun 1819.
Pemerintahan ini bermula dari pemisahan daerah Bondowoso pada tahun 1819, kemudian menjadi Keranggan (Keronggoan) Bondowoso dan pengangkatan Ki Ronggo I Bondowoso Raden Bagus Asra atau Mas Ngabehi Astrotruno sebagai patih yang berdiri sendiri dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro.
Ketika pada tahun 1830 beliau mengundurkan diri, beliau digantikan oleh putra keduanya bernama Joko Sridin yang pada waktu itu menjabat sebagai patih Kabupaten Probolinggo. Beliau menjabat dari tahun 1830-1838 dengan gelar Mas Ngabehi Kertokusumo dengan predikat Ronggo II.
Meski sudah ada keronggoan pemerintah Hindia Belanda mengangkat seorang bupati untuk Kabupaten Bondowoso.
Pejabatnya seorang patih Probolinggo bernama Raden Abdoerachman dan bergelar Raden Tumenggung Wirodipuro III.
Beliau adalah keturunan ke IV dari Ki Patih Alus dari Besuki. Beliau adalah putera Sugoto alias Mertodipuro, sedang Sugoto adalah anak R Sahidurin alias Raden Wirodipuro II.
Sahidurin anak Bagus Kasim alias Wirodipuro I (Ki Patih Aloes). Selain itu beliau juga menantu Bupati Besuki yang pada waktu itu kedudukan pusat pemerintahannya masih di Prajekan.
Tetapi pada tahun 1859 pusat pemerintahannya dipindahkan ke Bondowoso. Dengan demikian antara tahun 1850-1858 terjadi dualisme pemerintahan di Kabupaten Bondowoso. Akhirnya Pemerintah Hindia Belanda mengangkat Mas Ngabehi Kertokusumo menjadi Bupati Bondowoso tetapi langsung dipensiun.
Adapun para bupati yang memerintah sampai tahun 1945 adalah:
- RT Wirodipuro (1850-1879)
- RT Wondokoesoemo (1879-1891)
- RAA Kertosoebroto (1891-1911)
- RTA Senthot Sastro Prawiro ( 1911-1925)
- RT Tirtoadhisewojo (1923-1929)
- RT Notodiningrat (1929—1935)
- RT Herman Hidayat (1935-1939)
- RT Safioedin o,g. Atmosoedirdjo (1939-1945)
Tentang Panarukan
Kabupaten Panarukan terletak di pantai timur Laut Jawa membentang ke timur hingga Kalitikus, ke arah selatan hingga Prajekan dan ke Tenggara sampai Gedongdowo.
Menurut tulisan-tulisan kuno dan menurut memori kolektif masyarakat di Situbondo, kota di pinggir pantai yang kini dinamakan Panarukan tersebut pada zaman kuno belum disebut-sebut, tetapi yang disebut adalah Poerbosari.
Poerbosari ini terletak di pinggir muara kali Sampean dan merupakan kota pelabuhan untuk perahu dari kepulauan sekitarnya.
Poerbosari dan daerah sekitarnya termasuk wilayah kerajaan Blambangan dan merupakan pelabuhan di sebelah utara Blambangan.
Ketika orang-orang Portugis pertama berlabuh di sana mereka diterima baik oleh orang-orang di sana, sehingga lama kelamaan orang Portugis mengadakan hubungan perdagangan dengan penduduk setempat.
Pada tahun 1526 orang-orang Portugis telah membangun tempat tinggal. Orang-orang Portugis yang tinggal di Panarukan bernama Pontonio de Bruto dan Joao Moreno.
Pada tahun 1580 mereka mendirikan benteng pertahanan untuk menimbun barang-barang dagangannya, seperti lada, cengkeh, dan pala yang dibawanya dari Kepulauan Maluku.
Orang-orang Portugis di Panarukan juga membangun asrama dan gereja Katolik. Oleh karena kota kecil ini menjadi tempat penarukan barang-barang milik orang Portugis, maka lama-lama kota kecil tersebut diberi nama Panarukan.
Ketika Panarukan di bawah Kompeni sebagai akibat dari perjanjian antara Mataram dengan VOC tahun 1743, VOC mengangkat seorang demang Bernama Kyai Tisman, yang merupakan saudara sepupu Wiradipura dari Besuki.
Namun setelah Kompeni berhasil mengalahkan Blambangan tahun 1767, Kompeni memberikan Panarukan kepada Panembahan Sumolo Natakusuma.
Karena dia telah membantu VOC mengalahkan Blambangan dan di Panarukan diangkat seorang patih Bernama Mertayuda. Kemudian digantikan putranya yang menjabat sebagai rangga, Bernama Ronggo Mertadipura.
Pada tahun 1850, ketika diadakan reorganisasi oleh pemerintah Hindia Belanda, Panarukan dinaikkan statusnya menjadi kabupaten. Pembentukan Kabupaten Panarukan ini berdasarkan Besluit tanggal 20 Mei 1850 No 1.
Menyatakan bahwa Afdeling Panarukan wilayahnya meliputi distrik Panarukan, Situbondo, Prajekan, Kapongan, Kalitikus dan Sumberwaru, yang diletakkan di bawah pengawasan asisten residen dan seorang bupati berkedudukan di Situbondo.
Namun pada tahun 1850 baru dibentuk Panarukan yang dipercayakan kepada Bupati Bondowoso (kedudukan di Prajekan) untuk mempersiapkan infrastruktur dan administrasi sebagai kabupaten.
Baru pada tahun 1859 pula diangkat bupati baru, yang dipercarya oleh pemerintah Hindia Belanda adalah Raden Pandu, putra Bupati I Besuki, RAA Prawiro Adiningrat I. Kemudian bergelar Raden Tumenggung Ario Surioamidjojo (1859-1872).
Adapun nama-nama Bupati Panarukan adalah:
- RTA Soerioamidjojo (1859-1872)
- RTA Soeridiputro (1872-1885)
- RMTA Koesoemodiputro (1885-1908)
- RMTA Poestokopranowo (1908-1925)
- RAA Soedibiokoesoemo (1925-1945)
Dengan demikian sampai tahun 1859, Karesidenan Besuki sudah terdiri atas tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Besuki, Panarukan, dan Bondowoso.
Masing-masing kabupaten membawahi beberapa daerah administrasi yang lebih kecil yang disebut distrik yang dalam struktur pemerintahan pribumi disebut kawedanan.
Jumlah distrik pada masing-masing kabupaten tidak sama. Pada tahun 1870 di Karesidenan Besuki ada 17 distrik yang terdiri atas 576 desa dengan penduduk yang terdiri atas 388 orang Eropa, 380942 orang pribumi, 842 orang Cina, 941 orang Arab, dan hanya 2 orang yang dikategorikan bangsa timur asing. ***
Referensi:
- Staatsblad van Nederlands Indie No 191, tahun 1850.
- Heather Sutherland, “Note On Java’s Regent Families Part I” dalam Indonesia No 15 (Oktober) 1974 hlm. 146.
- H. Mashoed, 2004, Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya: Papyrus.




