Kang Dedi Mulyadi yang saya hormati,
Saya menulis surat terbuka ini bukan dari meja kerja yang dipenuhi berkas dan telepon yang berdering tanpa henti.
Saya juga tidak menulisnya dari ruang tamu rumah yang televisinya menyala sementara masing-masing anggota keluarga sibuk dengan dunianya sendiri.
Saya menulis surat ini dari sebuah tenda kecil di Rest Area Gunung Mas, di tengah udara Puncak yang malam ini terasa menggigit pelan.
Di luar tenda, kabut turun perlahan melewati kebun teh seperti seseorang yang sedang menurunkan tirai malam dengan hati-hati agar tidak membangunkan anak-anak yang sudah tertidur. Sesekali angin datang menyentuh dinding tenda tipis kami, membuatnya bergetar kecil seperti napas yang tertahan.
Di samping saya, istri dan anak-anak sudah terlelap. Anak bungsu saya sesekali bergerak di balik selimut, mungkin sedang bermimpi.
Barangkali ia sedang bermimpi berlari di rumput luas yang siang tadi membuatnya tertawa, atau mungkin sedang bermimpi tentang sesuatu yang lebih sederhana: ayahnya yang sedang benar-benar bersamanya.
Sebab saya baru menyadari, Kang, di rumah yang kami tempati sehari-hari, kami memang sering berkumpul, tetapi belum tentu benar-benar bertemu.
Saya tinggal di Bekasi. Kota tempat kendaraan dan pekerjaan seolah saling berlomba mengejar waktu. Di sana, pagi datang terlalu cepat dan malam sering terasa terlalu pendek.
Anak sibuk dengan layar telepon genggamnya, istri sibuk dengan urusan rumah yang seperti tidak pernah selesai, sementara saya sendiri tenggelam dalam pekerjaan dan pikiran yang sering kali ikut terbawa pulang.
Kami tinggal dalam satu atap, tetapi kadang hidup di pulau-pulau kecil yang berbeda. Karena itu sesekali kami datang ke Gunung Mas.
Bukan ke hotel berbintang, bukan ke vila yang mahal, bukan pula ke tempat wisata yang mengharuskan kami mengeluarkan banyak uang. Kami datang hanya membawa tenda kecil.
Lucu sekali rasanya, karena kadang manusia baru merasa dekat justru ketika ruang hidupnya dipersempit. Di dalam tenda itu kaki saling bertemu, bahu saling bersentuhan, anak-anak berebut selimut, lalu tiba-tiba obrolan yang lama hilang datang begitu saja. Tawa mengalir tanpa direncanakan. Dan tanpa terasa kami kembali menjadi keluarga.
Belakangan saya mulai memahami mengapa semakin banyak orang datang ke tempat ini. Saya melihatnya di berbagai media sosial dan video-video yang beredar.
Ada keluarga-keluarga dari Bekasi, Jakarta, Tangerang, Bandung, bahkan dari berbagai kota lain yang datang dengan mobil sederhana, dengan motor, dengan perlengkapan seadanya, membawa tenda kecil dan anak-anak mereka.
Mereka bukan datang mencari kemewahan. Mereka datang mencari sesuatu yang lebih mahal daripada vila dan hotel mana pun: kebersamaan.
Dan ternyata tempat ini memang menawarkan sesuatu yang sederhana namun terasa seperti kemewahan kecil bagi banyak keluarga. Tiga puluh ribu rupiah untuk satu tenda.
Jika ingin listrik, tinggal menambah dua puluh ribu rupiah lagi. Murah sekali. Nyaris terasa tidak masuk akal di zaman ketika hampir semua hal semakin mahal.
Tetapi setelah beberapa kali datang ke sini, saya mengerti bahwa sesungguhnya yang dibayar bukanlah tanah tempat tenda berdiri.
Yang dibayar adalah kesempatan untuk bernapas lebih pelan. Kesempatan untuk mendengar suara anak-anak tertawa lebih lama. Kesempatan untuk duduk tanpa tergesa-gesa dan memeluk keluarga lebih dekat.
Tetapi malam ini saya mendengar cerita lain yang diam-diam berjalan di antara kios-kios dan warung-warung di Rest Area Gunung Mas.
Cerita tentang orang-orang yang menunggu kehidupan kembali datang. Saya membaca kisah tentang para pedagang yang dahulu menempati pinggir jalan Puncak. Tentang hari ketika kendaraan Satpol PP datang, ketika papan nama dicabut dan atap warung dibuka satu per satu.
Tentang perpindahan mereka ke tempat yang lebih tertata, lebih rapi, lebih indah dipandang. Namun rupanya membangun bangunan lebih mudah daripada membangun keramaian. Sebab bangunan dapat dipindahkan, sementara langkah kaki manusia tidak bisa dipaksa datang.
Malam ini saya berjalan pelan menyusuri warung-warung yang mulai hidup. Saya melihat orang membeli kopi panas. Saya melihat anak-anak meminta mi instan.
Saya melihat keluarga memesan jagung bakar sambil menunggu dingin semakin turun. Saya melihat pedagang tersenyum ketika ada pembeli datang menghampiri. Dan saat itulah saya merasa memahami sesuatu yang selama ini mungkin luput dari perhatian banyak orang.
Tenda-tenda kecil ini diam-diam sedang menolong banyak kehidupan. Sebab setiap tenda membawa manusia. Setiap manusia membawa lapar.
Setiap lapar mencari warung. Setiap warung menyalakan lampu. Dan setiap lampu membuat tempat ini sedikit lebih hidup.
Bayangkan, Kang, jika pada suatu malam ada seratus tenda berdiri di sini. Maka mungkin ada ratusan gelas kopi yang terjual, ratusan jagung yang dibakar, ratusan mi instan yang dimasak, dan mungkin ada ratusan senyum pedagang yang pulang ke rumah dengan hati yang lebih tenang.
Kadang-kadang ekonomi memang tidak selalu lahir dari proyek besar dan bangunan tinggi. Kadang ia lahir dari api kecil kompor, dari uap kopi yang naik ke udara dingin, dari orang-orang yang memutuskan untuk tinggal lebih lama.
Karena itu saya ingin mengajak Kang Dedi datang ke sini. Datanglah bukan sebagai gubernur, bukan sebagai pejabat yang dikelilingi protokol dan kamera. Datanglah sebagai seorang ayah.
Datanglah membawa keluarga dan sebuah tenda sederhana. Menginaplah semalam saja di sini.
Dengarkan suara angin yang melewati kebun teh. Dengarkan suara anak-anak yang berlarian. Duduklah di warung-warung kecil itu, minumlah kopi dari tangan para pedagang yang sedang menunggu kehidupan mereka kembali ramai.
Biarkan Gunung Mas memeluk Kang Dedi semalam saja. Sebab mungkin dari dalam tenda kecil, kita dapat melihat hal-hal yang tidak terlihat dari balik meja rapat dan ruang pertemuan.
Bahwa rakyat sesungguhnya tidak selalu meminta terlalu banyak. Mereka hanya ingin tempat kecil untuk hidup, tempat kecil untuk berdagang, tempat kecil untuk tertawa, dan tempat kecil untuk pulang.
Dan malam ini, di tengah dingin Rest Area Gunung Mas, saya sedang menunggu. Bukan hanya menunggu pagi datang, melainkan menunggu suatu malam ketika Kang Dedi benar-benar datang membawa tenda, lalu tidur bersama rakyatnya di bawah langit yang sama. ***
Salam hangat dari dingin Gunung Mas,
Surat Terbuka dari Thowaf Zuharon, warga Bekasi, Jawa Barat




