Jika ditanya dengan tegas buku apakah yang memengaruhi hidup saya pastilah jawabannya sederhana. Buku-buku budayawan Emha Ainun Nadjib. Itu yang utama, baru setelah nama tersebut ada banyak buku lain yang mampu memengaruhi hidup saya.
Kenapa buku-buku Emha Ainun Nadjib saya sebut yang pertama, karena faktanya memang dari buku-bukunya saya merasa bisa mendapatkan banyak pelajaran dari beragam perspektif. Mulai dari agama, filsafat, sastra, sosial, dan sebagainya.
Apalagi buku-buku Emha Ainun Nadjib juga banyak bersumber dari kolom-kolom lepasnya yang berserakan di berbagai koran dan majalah yang eksis di era kejayaan dunia media cetak dulu.
Saya sendiri lahir pada 1976 dan pengaruh literasi aksara melalui koran serta majalah tak ketinggalan buku begitu merasuk. Mewarnai perkembangan bacaan saya sejak SMP, SMA, hingga kuliah.
Dulu, waktu zaman masih sekolah hingga kuliah, kalau numpang membaca koran dinding atau majalah entah di mana saja (bisa saja sembari nunggu antrean di warung telekomunikasi yang setengah jam lebih baru bisa dapat jatah telepon), lantas menjumpai kolom Emha Ainun Nadjib, pasti segera saya lahap. Baca tuntas.
Di semua media massa, jika ada rubrik kolom, pastilah segera saya nomorsatukan membaca dengan baik. Karena bagi saya hanya rubrik kolom yang relatif memuat gagasan orisinal, autentik, spontan, dan ekspresif. Tidak sibuk memoles referensi, menata teori, atau memaksakan narasi argumen.
Waktu masih sekolah dan kuliah itu pula, saya bayangkan kolom yang ditulis Emha Ainun Nadjib bisa sekali jadi, barangkali tanpa edit, kecuali secara redaksional ketika sampai di meja redaktur media tertentu.
Sering saya tebak dan saya buktikan, kolom Emha di media tertentu yang pernah saya baca, akhirnya memang dibukukan, dan merupakan kebanggaan tersendiri bahwa saya bisa membaca sebelum dibukukan. Seperti kacang goreng saja, kolom Emha Ainun Nadjib dulu bisa mudah dijumpai di media mana saja.
Pastilah saya berbeda dengan Anda, para pembaca mabur.co yang budiman. Pengalaman literasi aksara Anda bisa saja lebih canggih dan lebih maju dari saya. Memang saya mulai dan terus belajar dari renik-renik yang sederhana dan sampai sekarang tetap saja merasa haus bacaan.
Mudah-mudahan pengalaman ringan ini ikut memperkaya khazanah perspektif pengalaman membaca kita masing-masing. Saya sedikit merasa beruntung, hidup di era yang dulu tidak begitu banyak terjadi distraksi hoaks.
Berbeda dengan era media sosial kini, apalagi dengan adanya Artificial Intelligence (AI) yang kerap menjebak, dan sepertinya kita lebih banyak dikepung oleh distraksi hoaks. Setidaknya framing yang niatnya sudah tidak lagi autentik.
Jangan-jangan apa yang didapat pembaca di era kini memang sudah tidak lagi merupakan gagasan orisinal, autentik, spontan, dan ekspresif? ***




