Pameran Karya Logam Mutakhir, Tampilkan Nilai Fungsi dan Estetika - Mabur.co

Pameran Karya Logam Mutakhir, Tampilkan Nilai Fungsi dan Estetika

Mabur.co- Pameran karya logam, ‘Metal In Flux: Crafting Tradition an Innovation’, mempersembahan karya lima nama seniman kriya, yakni Alfi Lufiani, Budi Hartono, Dhyani W. Hendranto, Timbul Raharjo, dan Titiana Irawani yang dipamerkan di Omah Budaya, Jl. Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan Kota Yogyakarta.

Kurator pameran, Sudjud Dartanto mengatakan, pameran ini menawarkan perspektif kosmologis yang menantang kesadaran manusia yang selama berabad-abad menganggap logam sebagai entitas beku, mati, dan tak tertembus.

“Melalui ‘Metal in Flux’, paradigma tersebut dibongkar dengan memperlihatkan bahwa logam sesungguhnya bernapas, merespons, dan mengalir ketika dihadapkan pada intervensi tangan manusia, pijar api, dan teknologi,” ujar Sudjud Dartanto saat ditemui mabur.co, Selasa (19/5/2026).

Visitors in a bright gallery observing wall-mounted artwork; white walls, sculptures on a pedestal visible to the right.
Pengunjung sedang melihat-lihat pameran karya logam, Metal In Flux: Crafting Tradition an Innovation yang dipamerkan di Omah Budaya, Jl. Karangkajen No. 793, Brontokusuman, Mergangsan Kota Yogyakarta.
(Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Sudjud Dartanto mengatakan, di era yang penuh dengan kebingungan dan terus mencair, material logam yang bertransformasi (in flux) ini menawarkan sebuah cermin bagi manusia untuk memahami kembali posisi eksistensialnya.

“Pameran ini memberikan jawaban nyata atas visi seni di masa depan dalam konteks kontemporer dengan menolak hierarki kaku antara fine art (seni murni) dan kriya,” jelasnya.

Merespons Kelenturan Logam

Sudjud Dartanto, mengatakan, kelima perupa merespons kelenturan material logam dengan kekaryaan yang sarat akan eksplorasi teknis dan kedalaman filosofis, Alvi Lufiani menghadirkan karya Sculptural-Studio Contemporary Jewelry berskala besar yang secara tajam merespons urgensi krisis ekologis terkait keberlanjutan dan deforestasi.

“Ia menolak menggunakan material organik yang mudah terurai dan sengaja memilih fabrikasi logam kokoh untuk menegaskan bahwa pesan moral penyelamatan bumi harus digaungkan secara permanen dan tak tergerus zaman,” katanya. 

Sudjud mengatakan, Dhyani W. Hendranto, dalam memamerkan karyanya, ia merombak fungsi perhiasan kuningan dari sekadar estetika menjadi senjata dan tameng psikologis yang mengintimidasi, sengaja dibentuk menjadi tajam dan menusuk.

“Karya-karyanya merupakan representasi fisik dari represi emosional perempuan urban yang hidup dalam keterasingan di era modernitas cair,” katanya. 

Sementara itu Titiana Irawani secara radikal mengekskavasi memori masa lalunya terhadap lingkungan bengkel dengan memungut material limbah pasca-industri berupa knalpot dan gir motor buatan tahun 1968, yang dirakit bersama batu alam Pacitan.

“Perpaduan tersebut menyimbolkan kerapuhan perempuan yang kemudian didekap dan ditopang oleh kokohnya gir logam berkarat agar tetap tampil tegar dan kuat,” katanya.

Salah satu pengunjung, Otok Herum Marwoto mengatakan, sangat kagum dengan karya-karya logam dari lima seniman kriya yang menampilkan dari berbagai ragam keteknikan yang masing-masing mempunyai karakter berbeda.

“Kita diajak untuk melihat kriya logam bukan sebagai produk jadi, tapi sebagai proses yang belum selesai. Setiap goresan pahat, setiap lelehan patri, setiap keputusan untuk mempertahankan ketidaksempurnaan manual, adalah argumen: bahwa nilai bukan hanya pada fungsi atau harga, tapi pada jejak manusia di antara mesin dan material.

Biasanya orang menghargai perhiasan itu dari nilai materialnya saja, seperti emas, perak, platinum. Nah ini kita ambil bahan dasar wayer yang dari segi harga murah tapi bisa juga jadi karya perhiasan yang bagus. Kemudian ada dari bahan stainlees steel yang berbentuk ring foka belli, bahwa perhiasan itu bisa jadi karya di ruang publik,” ungkapnya.

Sementara itu seniman Alvi Lufiani yang menampilkan sembilan karya produksi 2026, mengungkapkan, selama ini masyarakat tahunya perhiasan sebagai penanda status sosial.

Jadi kalau semakin banyak pakai perhiasan bisa disebut ‘kaya’ dan perhiasan itu dihargai dari materialnya, seperti emas, perak, platinum, padahal sebenarnya perhiasan itu filosofi, muatan dan fungsinya banyak, dan menjadi medium berekspresi para senimannya atau pembuatnya.

“Kalau saya sendiri mengapresiasi nilai material, seperti karya berjudul ‘Menghargai Kawat’ menjadi sebuah perhiasan yang kalau menurut saya itu keren,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *