Rupiah Kian Melemah, Pengaruhi Pola Konsumsi Masyarakat - Mabur.co

Rupiah Kian Melemah, Pengaruhi Pola Konsumsi Masyarakat

Mabur.co– Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (18/5/2026) siang, belum mampu keluar dari tekanan.

Di pasar spot, pada Senin (18/5/2026) siang, rupiah berada di posisi Rp17.677 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi pada akhir perdagangan, Jumat (15/5/2026), yang berada di Rp17.597 per dolar AS, rupiah tercatat melemah sekitar 0,45 persen.

Mata uang ringgit Malaysia menjadi mata uang  dengan pelemahan terbesar di Asia setelah turun 0,57 persen.

Won Korea Selatan juga mengalami pelemahan, yakni sekitar 0,45 persen.

Diikuti oleh rupiah Indonesia yang amblas 0,45 persen dan rupee India juga melemah 0,33 persen.

Dolar Taiwan juga menjadi mata uang  yang bergerak melemah dengan 0,3 persen dan baht Thailand melemah 0,2 persen terhadap dolar AS.

Kemudian, yen Jepang juga mengikuti rupiah dengan melemah 0,16 persen terhadap dolar AS.

Dolar Singapura melemah 0,05 persen, yuan China melemah 0,02 persen terhadap the greenback.

Sementara itu, dolar Hong Kong menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia  setelah terkerek 0,03 persen.

Diikuti, peso Filipina yang sukses berbalik arah dan menguat tipis 0,01 persen di tengah hari ini.

Di tengah gejolak tersebut, kelompok kelas menengah dinilai menjadi pihak yang paling rentan merasakan dampaknya.

Pelemahan rupiah bukan lagi sekadar angka di layar perdagangan, melainkan ancaman nyata terhadap daya beli, tabungan, investasi, hingga rasa aman ekonomi masyarakat yang selama ini hidup dalam kondisi serba cukup, tetapi belum memiliki bantalan finansial yang kuat.

Dampak Langsung Menerpa Kehidupan Ekonomi

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito, S.S., M.Si., mengatakan, pelemahan rupiah membawa dampak langsung terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat, terutama kelompok kelas menengah di wilayah perkotaan.

Kenaikan berbagai biaya kebutuhan hidup membuat masyarakat harus menghitung ulang pengeluaran rumah tangga dan menyesuaikan berbagai rencana hidup yang sebelumnya telah disusun.

“Kondisi tersebut perlahan memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama untuk kebutuhan sekunder yang mulai dikurangi demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga,” ujarnya saat dikonfirmasi mabur.co, Selasa (19/5/2026).

Arie mengungkapkan tekanan ekonomi global yang terjadi saat ini semakin memperbesar kerentanan ekonomi domestik Indonesia.

Konflik geopolitik internasional, termasuk perang antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya, dinilai turut memengaruhi kenaikan harga minyak dunia dan berbagai biaya kebutuhan di dalam negeri.

Situasi ini membuat negara menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kemampuan subsidi bagi masyarakat.

“Dampak dari kondisi global tersebut dalam jangka pendek dinilai paling cepat dirasakan kelompok kelas menengah dan masyarakat bawah,” ungkapnya.

Arie, mengatakan, tekanan ekonomi yang terus berlangsung dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas apabila tidak segera diantisipasi.

Masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya tidak lagi terbatas pada persoalan ekonomi rumah tangga semata.

Situasi tersebut dapat memengaruhi stabilitas sosial karena masyarakat mengalami penurunan rasa aman terhadap kondisi hidup mereka.

Kerentanan itu, menurutnya, akan semakin besar apabila fondasi ekonomi nasional tidak cukup kuat menghadapi tekanan global yang berkepanjangan.

“Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *