Mabur.co- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan seiring menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga pangan nasional, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas strategis.
Dalam perdagangan Selasa (19/5/2026), rupiah ditutup melemah 38 poin ke level Rp17.705 per dolar AS.
Mata uang Garuda bahkan sempat terperosok hingga 70 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.680 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha kecil di berbagai daerah. Salah satu sektor yang paling terdampak ialah perajin tahu dan tempe yang masih bergantung pada bahan baku kedelai impor.
Produsen Tercekik
Perajin Tempe Murni Merek Ibu Nur Cahyo yang berada di Warungboto, Kota Yogyakarta, Toni mengatakan, meroketnya harga kedelai impor memang mencekik produsen.
“Saya tidak bisa menaikkan harga, sebab kalau saya menaikkan harga, konsumen dipastikan mengeluh. Kalau mau menaikkan harga itu susah, pelanggan banyak yang tidak mau,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (19/5/2026).
Toni mengatakan, untuk menyiasati hal tersebut, saya memilih untuk mengurangi ukuran tempe menjadi lebih kecil. Beruntungnya para konsumen yang merupakan penjual di Pasar Sentul, Pasar Demangan, dan para pengusaha warung makan memaklumi hal tersebut.
“Produksi tempe rumahan miliknya bisa menghabiskan hingga dua ton kedelai impor. Dalam sehari ada sekitar 70-80 kilogram tempe yang bisa dibuat. Harga yang ditawarkan bervariatif sesuai ukuran. Mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 10.000 per lembar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta Sri Riswanti menyatakan, pihaknya akan segera melakukan pemantauan terkait dengan harga kedelai di pasar tradisional, untuk memastikan stok kedelai impor masih dalam batas aman atau tidak ada penimbunan.
“Saya tidak bisa berbuat banyak terkait dengan pengendalian harga kedelai impor. Lantaran merupakan salah satu komoditas yang penanganannya di tingkat pusat,” ujarnya saat dikonfirmasi mabur.co.




