Mabur.co – Sebelum pelaksanaan hari raya iduladha atau kurban, yang biasanya dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, umat muslim disarankan untuk melakukan puasa sunnah pada satu hari sebelumnya, yakni tanggal 9 Dzulhijjah.
Puasa sunnah ini dikenal dengan istilah “Puasa Arafah”.
Bagaimana sejarah kehadiran puasa arafah ini, sampai akhirnya ditetapkan sebagai salah satu puasa yang dianjurkan sebelum hari raya kurban? Dan apa saja keutamaan dari puasa arafah ini?
Dilansir dari laman Detik, Selasa (26/5/2026), berikut adalah penjelasan selengkapnya mengenai sejarah dan keutamaan puasa arafah bagi umat muslim.
Sejarah Awal
Puasa Arafah sudah dimulai sejak sejak tahun ke-2 Hijriah, berbarengan dengan turunnya perintah puasa Ramadan. Adapun Puasa ini dinamai Arafah untuk menyertai dan menghormati puncak ibadah haji, di mana jutaan jemaah sedang melaksanakan ibadah wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah.
Dua Peristiwa Penting
Ada dua peristiwa penting yang menandai hadirnya puasa arafah dalam sejarah Islam.
Penyempurnaan Agama: Pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, saat wukuf dalam Haji Wada’ (Haji Perpisahan), Nabi Muhammad SAW menerima wahyu terakhir berupa Surah Al-Ma’idah ayat 3, yang menyatakan bahwa agama Islam telah disempurnakan. Peristiwa ini terjadi di sela-sela khutbah terakhir Rasulullah SAW di hadapan ribuan sahabat.
Puncak Ibadah Haji: Tanggal 9 Dzulhijjah juga menjadi hari di mana jemaah haji dari seluruh dunia berkumpul di Padang Arafah untuk melakukan wukuf. Puasa Arafah pun disunnahkan bagi Muslim yang sedang tidak menunaikan ibadah haji, agar dapat meraih keberkahan yang sama (seperti mereka yang melakukan ibadah haji) di hari yang mulia tersebut.
Keutamaan Puasa Arafah
Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya yang tidak berhaji untuk berpuasa arafah, karena keutamaannya yang sangat besar. Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, puasa di hari tersebut dapat menghapus dosa-dosa selama satu tahun yang lalu, dan juga satu tahun yang akan datang, alias menghapus dosa selama dua tahun berturut-turut.
Selain itu, menurut tradisi mazhab seperti yang diterbitkan oleh Nahdlatul Ulama (NU), pelaksanaan puasa sunnah ini menjadi amalan pengganti bagi mereka yang belum sempat melaksanakan wukuf di Tanah Suci, agar tetap mendapatkan limpahan rahmat dan ampunan Allah SWT di hari tersebut.
***
Puasa arafah memang sangat baik untuk dilakukan, namun jika Anda kebetulan sedang berhalangan (khususnya perempuan), Anda boleh tidak melakukan puasa ini, dan tidak perlu menggantinya sama sekali di hari lain. Karena sifatnya yang hanya sunnah, artinya boleh dilakukan dan boleh juga tidak. (*)

