Mabur.co – Event budaya tahunan terbesar di Yogyakarta, tradisi Saparan Bekakak kembali digelar di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Jumat (17/7/2026) sore.
Ribuan warga nampak antusias memadati sepanjang jalur kirab hingga kawasan situs Gunung Gamping untuk menyaksikan salah satu tradisi budaya tertua di Yogyakarta tersebut.
Namun, ada yang berbeda dalam prosesi pelaksanaan tradisi Saparan Bekakak tahun ini.
Prosesi rayahan atau perebutan gunungan yang selama ini menjadi bagian paling dinanti masyarakat ternyata mengalami sedikit perubahan.
Warga Tak Berebut Gunungan Secara Langsung
Jika pada tahun-tahun sebelumnya warga bisa memperebutkan sejumlah uba rampe baik itu nasi ketan maupun hasil bumi berupa buah-buahan dan sayur-sayuran secara langsung, tahun ini seluruh prosesi dilakukan dari balik pagar.
Perubahan terjadi saat iring-iringan rombongan tiba di kompleks Gunung Gamping.
Setelah sepasang boneka bekakak bersama gunungan hasil bumi memasuki area inti, pintu pagar langsung ditutup. Masyarakat, kecuali petugas dan awak media, tidak diperkenankan masuk ke lokasi ritual penyembelihan.

Usai prosesi penyembelihan selesai, masyarakat yang telah menunggu sejak lama pun tidak lagi dapat berebut langsung uba rampe seperti nasi ketan maupun hasil bumi secara langsung.
Pasalnya rayahan dilakukan oleh petugas atau pun tamu khusus yang berada di dalam pagar. Merekalah yang kemudian melemparkan isi gunungan dari balik pagar kepada warga yang berdesakan di luar area.
Sehingga warga pun hanya bisa mengangkat tangan untuk menangkap buah, sayuran, maupun uba rampe yang dilemparkan ke arah mereka.
Warga Kecewa
Akibat perubahan mekanisme tersebut, tak sedikit warga mengaku kecewa karena tidak lagi bisa mengikuti prosesi rayahan seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan banyak pengunjung pulang tanpa memperoleh uba rampe hasil rayahan.
Meski demikian, Pemerintah Kalurahan Ambarketawang menegaskan perubahan itu dilakukan demi keselamatan pengunjung.
Pada pelaksanaan sebelumnya, pintu masuk kompleks yang sempit kerap menjadi titik penumpukan massa saat masyarakat berebut masuk.
Kondisi itu menyebabkan sejumlah warga, termasuk anak-anak dan lansia, terjatuh bahkan hampir pingsan. Situasi berdesakan juga dinilai rawan dimanfaatkan pelaku pencopetan.

Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, mengatakan keputusan menggelar rayahan dari dalam pagar merupakan hasil evaluasi penyelenggaraan tahun sebelumnya.
“Karena itu kami memutuskan prosesi rayahan dilakukan dari dalam pagar agar kejadian berdesakan seperti sebelumnya tidak terulang lagi,” ujarnya.
Meski mekanisme prosesi rayahan berubah, antusiasme masyarakat dalam tradisi ini nampak tetap tinggi. Ribuan warga tetap memadati kawasan Gunung Gamping hingga prosesi berakhir.
Tak sedikit dari warga bahkan berhasil membawa pulang sejumlah uba rampe yang dipercaya dapat memberikan tuah dan keberkahan.
“Dapat buah dan sayur-sayuran. Ini mau saya bawa pulang ke rumah untuk dimasak dan dimakan sekeluarga. Biar dapat berkah,” ujar salah seorang warga yang hadir.
