Bisakah Jamu Berperan Sebagai Obat Tunggal Penunjang Kesehatan Tubuh?

3 Min Read
Kombucha jamu, salah satu ramuan jamu kekinian yang hadir di Festival Nitilaku Jamu 2026 pada bulan Februari 2026. (Foto: Azka Qintory)

Mabur.co – Tanggal 27 Mei diperingati sebagai hari jamu nasional. Peringatan ini pertama kali dicetus oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2008 lalu.

Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam menyelamatkan dan membangkitkan kembali eksistensi jamu yang sempat memudar, sekaligus untuk melestarikan jamu sebagai warisan budaya dan kearifan lokal Nusantara, yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi (jika dikembangkan dengan baik).

Sejak diresmikan oleh presiden SBY pada 27 Mei 2008, jamu telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, hingga akhirnya diakui secara global sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO. pada akhir 2023 silam.

Seiring perkembangan zaman, jamu juga telah dimodifikasi dalam kemasan yang lebih kekinian, terutama untuk menarik minat generasi muda.

Saat ini jamu telah dikembangkan dalam versi kapsul, serbuk instan, jelly, teh celup, hingga varian es krim.

Lantas dengan segala kemajuan yang telah diperoleh hingga saat ini, apakah jamu sudah bisa dikatakan mampu menjadi obat tunggal dalam mengatasi masalah kesehatan yang dialami masyarakat dari segala usia?

Dilansir dari laman Detik, Rabu (27/5/2026), berikut adalah penjelasan selengkapnya mengenai pertanyaan tersebut.

1. Langkah Pencegahan dan Keluhan Ringan

Pada dasarnya, jamu hanyalah bersifat suplemen, alias tambahan. Sehingga jamu tidak dapat dijadikan satu-satunya obat untuk seluruh masalah kesehatan.

Jamu berfungsi sangat baik untuk menjaga stamina, dan tindakan pencegahan untuk penyakit ringan. Namun, untuk penyakit berat atau infeksi, pengobatan medis tetap dibutuhkan sebagai terapi utama.

Jamu juga lebih bersifat sebagai tindakan preventif (pencegahan), seperti meningkatkan imunitas, meredakan pegal linu, mengatasi masuk angin, dan memperbaiki masalah pencernaan ringan.

2. Pendamping Pengobatan Medis

Jamu bisa diminum bersamaan dengan obat resep dokter, namun wajib dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, agar tidak menimbulkan interaksi negatif setelah dikonsumsi.

3. Risiko Penyakit Berat

Untuk penyakit infeksi parah, kelainan organ, kanker, atau kondisi darurat lainnya, Anda tidak bisa mengandalkan jamu sebagai metode pengobatan.

Karena lagi-lagi, jamu lebih bersifat preventif ketimbang kuratif (mengobati). Keterlambatan penanganan medis justru bisa berakibat fatal terhadap kondisi kesehatan Anda.

4. Keamanan dan Dosis

Konsumsi jamu secara berlebihan, terutama jamu serbuk yang tidak terdaftar, juga berisiko membebani organ hati dan ginjal.

Untuk memastikan keamanan penggunaan jamu yang sesuai kondisi kesehatan Anda, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli medis.

***

Meski telah dikemas sedemikian rupa dan sangat menarik, nyatanya jamu tetaplah jamu, yang hanya berfungsi sebagai suplemen sekaligus langkah pencegahan terhadap penyakit tertentu.

Selain itu, jamu juga bukan quick fix atau rocket science yang mampu menyulap kesehatan manusia dengan seketika. Karena pengobatan tercanggih di dunia pun tetap memerlukan proses untuk bisa menyembuhkan pasien sedemikian rupa.

Mengkonsumsi jamu memang baik (sekaligus melestarikan tradisi leluhur), namun menerapkan pola hidup sehat adalah sesuatu yang jauh lebih baik, untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment