Mabur.co – Tak banyak yang tahu kebun binatang Gembira Loka atau yang saat ini populer disebut Gembira Loka Zoo Yogyakarta merupakan salah satu kebun binatang tertua dan terbesar di Indonesia.
Memiliki luas sekitar 22 hektar, kebun binatang Gembira Loka tidak hanya sekadar menjadi tempat wisata dan rekreasi keluarga, namun juga merupakan pusat edukasi dan konservasi berbagai macam satwa dilindungi.
Terletak di sekitar Sungai Gajahwong, Gembira Loka Zoo juga menjadi ruang terbuka hijau terbesar di kota Yogyakarta. Di mana sekitar 50 persen areanya merupakan hutan lindung, yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan dan paru-paru kota.
Sebelum berkembang pesat seperti sekarang, kebun binatang Gembira Loka ini ternyata memiliki sejarah pendirian yang panjang.
Sebagamana dikutip dalam website resmi Gembira Loka Zoo, gagasan pendirian kebun binatang kebanggaan warga Yogyakarta ini bermula sekitar tahun 1933 atau sekitar 1 dekade sebelum kemerdekaan. Saat itu, raja keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menginginkan adanya tempat hiburan dan taman raya bagi masyarakat Yogyakarta. Rencana tersebut dikenal dengan nama Kebun Rojo atau dalam bahasa Indonesia Kebun Raja.
Perencanaan kawasan ini kemudian dilanjutkan oleh Raja Kraton Yogyakarta berikutnya yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan melibatkan seorang arsitek asal Belanda bernama Ir. Thomas Karsten. Namun akibat dampak Perang Dunia II dan juga pendudukan oleh Jepang, pembangunan Kebun Rojo terhenti.
Setelah Indonesia merdeka, gagasan Kebun Rojo kembali dibahas. Pada 1949, saat ibu kota negara dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta, muncul ide dari pemerintah pusat untuk memberikan tempat hiburan sebagai kenang-kenangan bagi warga Yogyakarta.

Namun realisasi pembangunan kebun binatang ini baru dimulai pada 1953 dengan berdirinya Yayasan Gembira Loka Yogyakarta, sesuai Akta Notaris RM Wiranto Nomor 11 tanggal 10 September 1953. Yayasan ini diketuai oleh KGPAA Paku Alam VIII.
Sebelum memiliki ratusan koleksi satwa seperti sekarang, di masa awal pendiriannya koleksi satwa Gembira Loka Zoo diperoleh secara bertahap. Sejumlah satwa itu antara lain berasal dari sumbangan masyarakat dan pejabat. Penyerahan satwa peliharaan hingga satwa sitaan dari perdagangan ilegal.
Koleksi awal didominasi satwa lokal, seperti rusa, burung, reptil, dan primata. Bahkan beberapa di antaranya seperti macan tutul Jawa hingga macan kumbang didapat dari hasil tangkapan di sekitar kawasan lereng Gunung Merapi setelah hewan tersebut didapati menyerang warga.
Penambahan koleksi satwa secara masif baru dilakukan seiring berjalannya kerja sama antar-lembaga konservasi di era tahun 70-an. Dengan bertambahnya satwa di kebun binatang ini, pada 1978, jumlah pengunjung Gembira Loka semakin meningkat sehingga begitu dikenal masyarakat.
Saat ini, Gembira Loka Zoo juga memiliki fungsi sebagai lembaga konservasi ex situ. Program penangkaran dilakukan untuk satwa tertentu, seperti orangutan, harimau Sumatra, dan gajah Sumatra. Secara keseluruhan total terdapat lebih dari 100 spesies satwa yang dikelompokkan dalam beberapa zona, antara lain primata, reptil, burung, dan mamalia besar yang dipelihara dalam kebun binatang ini.
Selain itu, di dalam kawasan ini juga terdapat Museum Diorama Flora dan Fauna KRKB Gembira Loka. Museum Diorama Flora dan Fauna KRKB Gembira Loka ini menyimpan 1.323 spesimen awetan dari 220 jenis satwa serta 34.747 koleksi tumbuhan yang biasa digunakan untuk kegiatan edukasi dan dokumentasi keanekaragaman hayati.



