Antagonisme “state dan deep state” seperti yang diisyaratkan oleh Menhan Sjafrie Syamsudin (4 Juni 2026) adalah tanda politik. Artinya ada ketegangan yang tajam ketika faktor ekonomi, khususnya melemahnya rupiah terhadap dolar, menjadi katalis.
Negara formal (state) berusaha menjaga stabilitas melalui kebijakan moneter Bank Indonesia, intervensi fiskal, dan diplomasi ekonomi.
Namun, jaringan tersembunyi (deep state)—yang terdiri dari oligarki, aparat, dan elite politik—memanfaatkan krisis ini untuk memperkuat posisi mereka, baik melalui spekulasi mata uang, penguasaan sektor strategis, maupun pengaruh politik di balik layar.
Antagonisme Struktural terjadi, state berupaya tegakkan transparansi, profesionalisme birokrasi, dan legitimasi demokrasi. Deep state pertahankan status quo dengan korupsi sistemik, pengaruh aparat, dan tekanan oligarki ekonomi.
Melemahnya rupiah tingkatkan inflasi dan menekan daya beli rakyat. State coba menenangkan publik, tetapi deep state justru mengambil keuntungan dari volatilitas pasar, memperdalam jurang antara kepentingan rakyat dan elite.
Ketika kebijakan negara dianggap gagal, legitimasi pemerintah formal melemah. Deep state memanfaatkan momentum ini untuk menekan atau menggoyang stabilitas politik, sehingga antagonisme laten berpotensi pecah menjadi konflik terbuka.
Tekanan ekonomi, berupa Rupiah melemah, dapat menyebabkan inflasi naik. Akibatnya kepercayaan publik terhadap negara menurun.
Eskalasi politik dapat terjadi karena Deep state memperkuat pengaruh, state berusaha mempertahankan kontrol. Tujuannya adalah konflik terbuka dapat terjadi jika kompromi gagal, antagonisme berubah menjadi krisis politik atau instabilitas sosial.
Melemahnya rupiah bukan sekadar isu ekonomi, melainkan pemicu yang memperuncing antagonisme antara state dan deep state. Negara formal berusaha menjaga legitimasi demokrasi, sementara jaringan tersembunyi memanfaatkan krisis untuk memperkuat dominasi.
Krisis ekonomi mempercepat transformasi antagonisme laten menjadi konflik nyata, sehingga stabilitas politik Indonesia bergantung pada kemampuan state menahan tekanan internal sekaligus mengendalikan pengaruh deep state. ***

