Mabur.co- Kotabaru merupakan kawasan permukiman orang-orang Eropa yang dibangun usai Perang Dunia I, atau pada akhir pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921).
Meskipun permukiman itu dikenal dengan Kotabaru, akan tetapi banyak bangunan lawas khas kolonial dan limasan yang masih menghiasi kawasan tersebut.
Arsitektur ala Kolonial dan Limasan
Salah satu bangunan yang masih memperlihatkan kekunoannya ala bangunan kolonial dan limasan adalah Rumah Sakit Bethesda. Rumah sakit ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 70, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Sejarah Rumah Sakit Bethesda tidak dapat dilepaskan dari dinamika zending yang ada di Yogyakarta. Dalam catatan pada Repertorium van Nederlandse zendings- en missie-archieven 1800-1960 diterangkan bahwa rumah sakit yang dibangun di Yogyakarta itu merupakan rumah sakit yang memberikan layanan kesehatan guna mengembangkan misi gereja, yang pada waktu itu dikenal dengan Gereformeerde Kerken.
Gereformeerde Kerken atau lengkapnya Christelijke Gereformeerde Kerken, adalah suatu kelompok gereja Kristen Protestan di Belanda, yang dalam bahasa Inggris disebut Christian Reformed Churches in the Netherlands.
Gedung Petronella menjadi cikal bakal berdirinya Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogya. Saat ini gedung tersebut telah menjadi Cagar Budaya Nasional Kategori Bangunan di Indonesia.
Salah satu rumah sakit tertua di Yogyakarta ini membawa misi kemanusiaan yang panjang, bahkan di awal dibentuknya rumah sakit ini memberikan layanan kesehatan gratis.
Dikutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, Selasa (21/7/2026), lahan pembangunan rumah sakit berada di daerah Gondokusuman dan merupakan hibah dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Nama Petronella diambil dari nama istri seorang pensiunan pendeta bernama Coeverden Andriani, yang turut memberikan bantuan dalam pembangunan rumah sakit tersebut.
Rumah Sakit Pitulungan
Di tengah masyarakat lokal, rumah sakit ini lebih dikenal sebagai “Rumah Sakit Tulung” atau “Pitulungan” sebuah istilah yang merujuk pada sifat sosial rumah sakit tersebut yang memberikan pengobatan gratis bagi siapa pun yang membutuhkan, tanpa membedakan latar belakang.
Kompleks rumah sakit kala itu tidak hanya terdiri dari ruang perawatan dan fasilitas medis, tetapi juga dilengkapi gereja kecil dan pastoran, mencerminkan identitasnya sebagai rumah sakit misi Kristen.
Seiring waktu, Petronella berkembang menjadi pusat rujukan medis dengan dukungan rumah sakit pembantu di desa-desa sekitar.
Namun, masa sulit sempat melanda pada era 1930-an saat dampak krisis ekonomi global dan situasi pasca-Perang Dunia menyebabkan berkurangnya bantuan dana, yang berdampak pada operasional dan pelayanan rumah sakit.
Perjalanan nama rumah sakit ini juga mengalami beberapa perubahan seiring pergantian rezim kekuasaan. Saat pendudukan Jepang (1942–1945), rumah sakit berganti nama menjadi Yogyakarta Tjuo Byoin. Setelah kemerdekaan Indonesia, rumah sakit sempat dikenal sebagai Roemah Sakit Poesat.
Akhirnya, pada 28 Juni 1950, nama Rumah Sakit Bethesda resmi digunakan dan dipertahankan hingga kini. Kata “Bethesda” merujuk pada nama kolam penyembuhan dalam tradisi Kristen, sebagai simbol harapan dan kesembuhan.
Gedung utama Petronella yang berbentuk limasan khas arsitektur Jawa masih berdiri megah di Jalan Jenderal Sudirman No.70, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta.
Sebagai cagar budaya, arsitektur bangunan yang ada menandai peran penting Bethesda dalam sejarah layanan kesehatan di Indonesia.
