Mabur.co – Tak bisa dipungkiri, kecanggihan teknologi telah membawa dampak yang begitu besar terhadap peradaban manusia hingga saat ini.
Salah satu perubahan yang cukup masif juga terjadi pada permainan tradisional anak-anak.
Jika dahulu anak-anak (usia 6-17 tahun) kerap menghabiskan waktu luangnya dengan bermain bersama teman-temannya di lapangan terbuka, seperti bermain Gobak Sodor, Congklak, Delikan (petak umpet), dan sebagainya, maka untuk saat ini, anak-anak lebih banyak berkumpul untuk bermain dengan ponsel pintar (gadget) masing-masing, dan fokus “menunduk” selama berjam-jam tanpa boleh diganggu, termasuk oleh teman di sebelahnya sekalipun.
Padahal, bermain game di ponsel tentu saja akan menghilangkan unsur interaksi antarsesama manusia, membuat mereka lebih egois (mementingkan bermain ponsel ketimbang ngobrol dengan orang-orang di sekitarnya), serta membuat leher maupun anggota badan lainnya menjadi lebih mudah lelah, akibat minim bergerak, dan masih banyak lagi.
Meski demikian, permainan tradisional ternyata tidak sepenuhnya benar-benar punah, jika beberapa pihak bisa mengadopsi keduanya ke dalam satu bentuk yang lebih kreatif.
Penyatuan Permainan Tradisional dan Kecanggihan Teknologi
Ya, permainan tradisional dan kecanggihan teknologi pada dasarnya juga bisa disatukan sedemikian rupa, untuk dijadikan sebuah model permainan baru, yang tetap kekinian namun tidak sepenuhnya menghilangkan unsur interaksi antarmanusia di dalamnya, dan seterusnya.
Karena bagaimanapun, kecanggihan teknologi adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari atau ditolak begitu saja di zaman sekarang. Sehingga manusia tetap harus mampu beradaptasi dengan semua kecanggihan tersebut.
Permainan Tradisional dalam Bentuk Digital
“Kalau kita perhatikan, sebenarnya gadget itu sendiri adalah produk budaya (budaya teknologi), Jadi untuk zaman sekarang dan yang akan datang itu, teknologi akan lebih banyak menjadi permainan yang dianggap lazim untuk anak-anak. Karena permainan tradisional sekarang itu, posisinya lebih ke gaming (dalam versi digital),” ucap seniman asal Bantul, Tedi Kusyairi, saat dihubungi mabur.co, Sabtu (6/6/2026).
Dengan menggabungkan permainan tradisional dengan kecanggihan teknologi modern, setidaknya nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam permainan tradisional akan tetap terjaga, namun tetap dikemas dengan cara yang menarik dan mudah diterima oleh generasi muda.
“Kalau kita bisa lebih jeli dan kreatif dalam melihat peluang yang ada, saya rasa permainan tradisional tetap bisa diimplementasikan dalam bentuk yang lain (lebih modern),” tambah Tedi.
Salah satu permainan tradisional yang sudah tersedia dalam versi digital adalah Congklak/Dakon. Aplikasi game ini turut menghadirkan papan congklak dalam versi digital, di mana pemain dapat memindahkan biji secara virtual. (*)

