Nuryanto, Penangkar Penyu Langka di Pesisir Kulon Progo 

4 Min Read
Man crouching and placing stones to form a circular garden bed or pit in a construction yard with blue crates and scattered materials nearby.
Nuryanto, penangkar penyu langka asal Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co — Memanfaatkan lahan sempit di belakang rumahnya, seorang petani asal Kulon Progo turut berkontribusi di bidang konservasi dengan aktif menjadi penangkar penyu swadaya.

Di sela kegiatannya sebagai petani, ia bahkan rela meluangkan waktu untuk mencari dan menyelamatkan ratusan telur penyu langka yang ada di sepanjang pantai. Untuk ditetaskan, lalu dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Dialah Nuryanto, warga Padukuhan Bugel II, Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. 

Menetaskan Ratusan Penyu Jenis Lekang

Memanfaatkan peralatan sederhana di lahan sempit belakang rumahnya, ia pun mampu menetaskan ratusan penyu jenis lekang (Lepidochelys olivacea) yang dilindungi dan semakin langka keberadaannya.

Man in a red jacket leans into a bright blue plastic tub filled with water in a cluttered yard.
Nuryanto, penangkar penyu langka, sedang melihat penyu kecil. (Foto: JH Kusmargana)

Sebelum menjadi penangkar penyu seperti sekarang, siapa sangka Nuryanto dulu justru adalah seorang pemburu penyu sebagaimana masyarakat pesisir pantai pada umumnya. 

Ia kerap berburu penyu beserta telur-telurnya untuk kemudian dijual atau dikonsumsi, karena dipercaya mampu meningkatkan vitalitas dan menambah stamina pria. 

Dari Pemburu ke Penangkar Penyu

Namun sekitar tahun 2017, semenjak perburuan penyu dilarang pemerintah dan penyu jenis lekang ditetapkan sebagai satwa dilindungi, ia pun berhenti menjadi pemburu, dan justru beralih menjadi penangkar penyu.

Sejak saat itu, ia semakin rutin berburu telur penyu di sepanjang pesisir pantai, bukan untuk dijual atau dikonsumsi, namun untuk dijaga dan ditetaskan agar bisa dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya. 

Hebatnya, semua kegiatan penangkaran telur penyu ini ia lakukan secara swadaya dengan menggunakan uangnya sendiri. Ia bahkan mengaku kerap menyisihkan sebagian uang hari hasil bertani untuk kegiatan ini.

“Jadi kalau sedang musim bertelur, saya rutin mencari sarang di bibir pantai. Biasanya malam hari. Kalau ketemu, langsung saya amankan, agar tidak tersapu ombak atau dimakan binatang predator,” katanya.

Man in a red jacket and green pants points toward a partially built circular stone wall in a yard with blue storage bins and construction materials scattered around.
Nuryanto di area penangkaran penyu langka. (Foto: JH Kusmargana)

Sesampai di rumah, ia lantas mengubur telur-telur tersebut pada lahan pasir di belakang rumahnya agar bisa menetas. Untuk menjaga keamanan telur-telur tersebut ia pun memasang pagar sederhana dari batako.

“Biasanya kalau sudah 50 hari telur akan menetas. Nanti tukik akan keluar sendiri dari dalam pasir. Setelah itu baru saya masukkan ke tempat penampungan,” katanya.

Memanfaatkan bak-bak fiber, Nuryanto kemudian akan memelihara ratusan tukik tersebut hingga berusia 2 -4 minggu sebelum akhirnya dilepasliarkan kembali ke laut.

“Biasanya saya kasih makan potongan daging ikan. Ikannya ya cari sendiri dengan cara menjaring di laut. Kalau tidak dapat, ya terpaksa beli di TPI,” ungkapnya. 

Jika sedang musim bertelur yakni pada musim kemarau bulan Juni-Agustus, Nuryanto mengaku bisa menetaskan hingga sekitar 600 ekor tukik. Setelah cukup umur, tukik-tukik itu kemudian akan dilepasliarkan ke pantai. 

Many juvenile sea turtles clustered in a turquoise containment pool with blue ropes.
Tukik hasil penangkaran yang dilakukan Nuryanto (Foto: JH Kusmargana)

Berkat kemampuannya melakukan penangkaran penyu, Nuryanto pun akhirnya kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan konservasi sepeti seremoni pelepasan tukik di kawasan pantai  Kulon Progo. 

Baik itu oleh pelajar sekolah, mahasiswa, komunitas masyarakat, LSM hingga pemerintah atau instansi swasta. Dari kegiatan inilah ia bisa mengumpulkan donasi untuk menjalankan aktivitas penangkaran. 

Pemerintah Beri Dukungan

Sebagai bagian dukungan terhadap kegiatan konservasi yang dilakukan Nuryanto, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo maupun Provinsi DIY juga telah memberikan dukungan berupa pemberian bantuan fasilitas seperti kolam penampungan. 

Meski tak jarang harus mengeluarkan dana pribadi, Nuryanto mengaku ikhlas. Ia bahkan merasa bangga bisa turut berkontribusi melestarikan keberadaan penyu langka yang memang hidup di sekitar tempat tinggalnya.

“Ya agar bisa tetap lestari dan tidak punah. Sehingga anak cucu bisa tahu dan melihat sendiri penyu itu seperti ini,” katanya. 

Nuryanto hanya berharap agar kegiatan penangkaran penyu yang ia lakukan bisa terus mendapat dukungan dari pemerintah. Sehingga semakin banyak masyarakat mau peduli terhadap kelestarian penyu langka jenis lekang tersebut. ***

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment