Usia 74 Tahun, Nelayan di Kulon Progo Setia Menantang Ombak Ganas

5 Min Read
Two colorful traditional fishing boats pulled onto a dark-sand beach beside a simple shelter, with the sea and waves in the background and a cloudy sky.
Kawasan kampung nelayan di Pantai Congot Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Meski telah berusia 74 tahun, Mbah Darno, seorang nelayan asal Kalurahan Jangkaran, Temon, Kulon Progo masih aktif melaut untuk menghidupi keluarganya.

Ganasnya ombak pantai selatan Jawa, tak sedikit pun pernah membuat nyalinya ciut. Angin Muson Timur serta ombak ganas setinggi satu dua meter, seolah sudah menjadi sahabatnya sehari-hari. 

“Gelombang saat ini masih cukup tinggi. Banyak nelayan memilih libur. Tapi rencana besok saya mau turun melaut. Target ikan bawal putih. Karena memang saat ini sedang musim,” ujarnya, saat ditemui Mabur.co Minggu (14/6/2026).

Nelayan Senior

Dari ratusan nelayan yang ada di wilayah pesisir Kabupaten Kulon Progo, Mbah Darno memang dikenal sebagai nelayan senior. Ia bahkan merupakan salah satu nelayan paling tua yang masih aktif melaut.

Meski menjadi nelayan paling senior, keberanian dan kemampuan Mbah Darno sebagai pencari ikan di laut lepas, tak kalah dengan nelayan lainnya yang mayoritas masih berusia di bawah 50 tahun. 

Begitu pun dengan kondisi fisiknya yang nampak masih sangat bugar. Meski telah menginjak usia kepala 7. Di usia yang hampir mencapai 3/4 abad, tubuhnya juga masih terlihat tegap dan berotot, seolah menolak dimakan usia.

Older man in a blue long-sleeve shirt sits relaxed on a bamboo bench inside a simple shelter made of bamboo and corrugated metal.
Darno 74 tahun nelayan asal Pantai Congot Kulon Progo (Foto: JH Kusmargana)

“Saya pertama kali melaut sekitar umur 22-23 tahunan. Saat itu saya jadi nelayan di Tegal,” ujarnya.

Darno mengaku, memilih profesi sebagai nelayan, karena potensi hasil keuntungan yang menjanjikan. Menurutnya, hasil bekerja sebagai nelayan jauh melebihi profesi lain yang pernah ia jalani mulai dari petani, buruh, tukang kayu, atau pun tukang batu.

“Saya hanya beberapa tahun jadi nelayan di Tegal. Karena di sana banyak pesaing, sehingga hasil tangkapan menjadi minim. Akhirnya saya memilih pindah ke sini (Pantai Congot),” katanya.

Pelopor Nelayan di Pantai Congot

Selain istrinya memang warga asli Kulon Progo, Darno mengaku, memilih menjadi nelayan di pantai Congot karena saat itu belum banyak warga memilih profesi sebagai nelayan. Sehingga bisa dibilang ia merupakan salah satu pelopor nelayan di pantai Congot ini. 

“Memang karena pantai Congot ini merupakan wilayah laut lepas (samudra), tantangannya jelas jauh lebih tinggi. Tapi dari sisi hasil tangkapan ikan, juga jauh melimpah,” katanya. 

Saat sedang musim ikan, Darno mengaku, bisa mendapatkan keuntungan sangat besar hanya dalam satu hari melaut. Bahkan hingga mencapai Rp50 juta dalam satu hari.

“Kalau musim sedang bagus, misalnya musim ikan bawal, saya hanya melaut sekitar 3 jam. Berangkat pukul 06.00 pagi, pulang pukul 9.00 siang. Itu kapal sudah dipenuhi ikan. Bisa sampai 2 ton. Padahal bawal itu harganya Rp40 ribu per kilogram,” bebernya.

Row of colorful small fishing boats on a dark sandy beach with a forest in the background.
Sejumlah perahu nelayan bersandar di Pantai Congot (Foto: JH Kusmargana)

Selain ikan bawal, Darno maupun nelayan lainnya juga kerap mencari lobster sebagai ikan target buruan. Lobster ini menjadi favorit nelayan karena harganya yang sangat tinggi yakni mencapai Rp400 ribu per kilogramnya.

“Kalau pas lagi musimnya ya senang. Bisa dapat penghasilan lumayan.  Tapi kalau ikan sedang sulit, walau seharian melaut pun satu ekor tidak dapat,” katanya.

Selama puluhan tahun menjadi nelayan di pesisir laut selatan, Darno mengaku, sangat beruntung belum pernah mengalami halangan atau kecelakaan fatal di laut.

Ia mengaku hanya pernah sekali terjebak ombak dan tersesat di laut selama sehari semalam.

“Untungnya saat itu saya masih bisa selamat. Karena tak sedikit nelayan lain yang meninggal akibat tergulung ombak atau tersesat selama berhari-hari di laut hingga kehabisan bekal dan tidak mendapat pertolongan,” katanya. 

Selain risiko yang setiap saat mengancam, tantangan lain yang juga harus dihadapi Darno sebagai nelayan pantai selatan adalah cuaca buruk dan gelombang tinggi. Jika cuaca sedang tidak bersahabat seperti itu biasanya ia dan nelayan lain memilih libur melaut. 

“Kalau cuaca benar-benar sedang tidak bersahabat ya terpaksa libur melaut. Kadang bisa berminggu-minggu hingga beberapa bulan. Kalau sudah seperti itu ya cari pekerjaan lain misal bertani,” katanya. 

Dari awalnya hanya menjadi anak buah kapal yang ikut nelayan lain, kini Darno sudah menjadi salah satu nelayan yang cukup dipandang dan disegani. Ia bahkan memiliki sejumlah kapal yang rutin disewakan pada nelayan lainnya. 

Tak hanya itu, ia juga telah berhasil mendidik belasan warga sekitar menjadi nelayan. Termasuk anak dan cucunya sendiri.

Yakni dengan mengajarkan segala kemampuannya mulai dari navigasi, mengemudikan perahu, membaca gelombang, serta mengambil keputusan krusial demi keselamatan saat momen-momen tertentu.

“Belum kepikiran kapan akan berhenti melalut. Tapi saya senang sudah ada yang meneruskan profesi ini, seperti anak dan cucu saya. Mungkin beberapa tahun lagi,” katanya. 

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment