1 Suro ala UI, Refleksikan Penyelarasan Diri

3 Min Read
Group of people in traditional clothing walking at night, one man lighting a torch while others carry staffs and instruments.
Kegiatan ritual budaya bertajuk “Malam Tirakat, Hening, dan Menyelaraskan Diri” di Selasar Makara Art Center UI, Senin (15/6/2026) malam. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Universitas Indonesia (UI) memperingati malam 1 Suro atau 1 Muharam 1448 Hijriah dengan menggelar ritual budaya bertajuk “Malam Tirakat, Hening, dan Menyelaraskan Diri” di Selasar Makara Art Center UI, Senin (15/6/2026) malam. 

Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Kebudayaan UI bersama Urban Spiritual Indonesia, Komunitas Makara, dan Program Studi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI itu menjadi ruang refleksi sekaligus upaya mengembalikan makna luhur malam 1 Suro yang selama ini kerap dipersepsikan secara keliru.

Berbagai rangkaian kegiatan digelar dalam suasana khidmat, mulai dari senandung kidung Jawa, jamasan pusaka, doa dan refleksi awal tahun, meditasi, tapa bisu di tepi danau, hingga menikmati bubur Suro bersama. Sejumlah tokoh budaya, dosen, mahasiswa, dan pegiat budaya juga turut hadir dalam kegiatan ini.

Direktur Kebudayaan UI, Dr. Ngatawi Al Zastrouw, mengatakan peringatan 1 Suro yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam memiliki makna kultural sekaligus spiritual yang mendalam.

Kecerdasan Budaya

Menurutnya, penyatuan kalender Jawa dan Hijriah oleh Sultan Agung merupakan bentuk kecerdasan budaya yang berhasil mempertemukan tradisi dan agama tanpa menghilangkan identitas masing-masing.

“Perayaan tahun baru Jawa yang bersamaan dengan Hijriah tidak hanya mencerminkan pergantian waktu, tetapi juga mencerminkan karakter budaya Nusantara yang moderat dan toleran. Sedangkan secara spiritual, malam 1 Suro merupakan momentum menggali dan menghidupkan religiusitas melalui berbagai laku reflektif seperti muhasabah, meditasi dan sejenisnya,” ujar Zastrouw sebagaimana dikutip dari rilis yang diterima Mabur.co.

Pendiri Urban Spiritual Indonesia, Dr. Turita Indah Setyani, menuturkan malam 1 Suro merupakan waktu yang tepat untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari dan kembali mendengarkan suara hati. Melalui meditasi yang dipimpinnya, peserta diajak melakukan tafakur dan mendekatkan diri kepada Tuhan, sekaligus mengevaluasi perjalanan hidup yang telah dilalui.

“Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kita membutuhkan ruang hening untuk kembali pulang pada kesadaran diri dan mendekat kepada Sang Sumber Kehidupan. Dengan begitu, manusia dapat melepaskan kegaduhan batin dan membuka lembaran baru kehidupan dengan lebih arif dan bijaksana,” katanya.

Sementara itu, Pakar Kebudayaan Jawa FIB UI, Dr. Ari Prasetiyo, menilai makna 1 Suro saat ini mengalami pergeseran. Jika dahulu masyarakat Jawa memaknai malam tersebut sebagai momentum penyucian dan evaluasi diri, kini justru banyak dipersepsikan sebagai malam yang identik dengan hal-hal mistis dan menakutkan.

“1 Suro sebelumnya merupakan hari yang baik karena masyarakat Jawa melakukan introspeksi setelah menjalani kehidupan selama setahun. Namun seiring waktu, makna itu bergeser menjadi negatif. Film-film horor secara tidak langsung ikut memvalidasi anggapan bahwa 1 Suro adalah malam yang angker dan membawa sial,” ujarnya.

Karena itu, Ari mengajak masyarakat untuk mengembalikan makna 1 Suro sebagai momentum memperbaiki diri.

“Marilah di malam 1 Suro ini kita melakukan evaluasi diri. Jadi dosen, jadilah dosen yang baik. Jadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang baik. Jadi pejabat, jadilah pejabat yang baik. Jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang baik,” katanya.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment