Mabur.co – Setahun lalu, Fila Ishakim, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah drastis. Pria 24 tahun asal Bantul itu harus kehilangan salah satu kakinya setelah mengalami kecelakaan pada 2025.
Sempat terpuruk dan kehilangan semangat, kini ia justru berdiri di arena pertandingan sebagai atlet anggar paralimpik dan berhasil membawa pulang medali perak.
Prestasi itu diraih Fila dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) III NPCI DIY 2026. Yang lebih mengejutkan, ia baru mengenal olahraga anggar sekitar tiga bulan lalu.
Awalnya, Fila tidak pernah membayangkan akan menjadi atlet. Setelah menjalani masa pemulihan pascaamputasi, ia diajak seorang teman bergabung dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Dari berbagai cabang olahraga yang dikenalkan, anggar langsung menarik perhatiannya.
Suka Olahraga Tarung
“Saya memang suka olahraga yang sifatnya tarung dan kompetitif, jadi tertarik mencoba anggar,” ujarnya.
Keputusan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Dengan tekun berlatih selama tiga bulan, Fila memberanikan diri mengikuti kejuaraan pertamanya. Hasilnya di luar dugaan. Ia sukses meraih medali perak.
Bagi Fila, medali tersebut bukan sekadar pencapaian olahraga, tetapi simbol kebangkitannya setelah sempat merasa putus asa akibat kehilangan kaki.

Menurutnya, bergabung dengan NPCI telah memberinya banyak perubahan positif. Selain menjaga kebugaran fisik, latihan rutin juga membantu memulihkan kondisi mental dan menumbuhkan kembali rasa percaya diri. Ia pun bangga bisa membawa nama keluarga dan Kabupaten Bantul di arena pertandingan.
Tak hanya itu, dunia olahraga juga memberinya lingkungan pertemanan baru yang saling mendukung dan menguatkan.
Tetap Semangat Meski Amputasi
Sebelum mengalami kecelakaan, Fila gemar bermain bola voli. Meski amputasi membuatnya tidak lagi bisa menjalani olahraga tersebut seperti dulu, semangatnya untuk tetap aktif tidak pernah padam. Anggar kini menjadi jalan baru baginya untuk terus berprestasi.
Kisah Fila menjadi salah satu potret semangat yang mewarnai Kejurda III NPCI DIY 2026. Di tengah persaingan ratusan atlet disabilitas dari lima kabupaten dan kota di DIY, ia membuktikan bahwa kehilangan anggota tubuh bukan berarti kehilangan masa depan.
Hanya dalam waktu tiga bulan menekuni anggar, ia sudah mampu berdiri di podium dan membuka lembaran baru dalam hidupnya.
