Permainan Tradisional Potensial Masuk dalam Kurikulum Sekolah

3 Min Read
Ilustrasi. Permainan tradisional. Foto: JH Kusmargana

Mabur.co – Upaya pelestarian dan penguatan budaya daerah terus dilakukan sejumlah pemerintah daerah melalui jalur pendidikan formal. Salah satu caranya dengan memasukkan unsur budaya lokal ke dalam pembelajaran di sekolah.

Lewat upaya ini generasi muda khususnya anak-anak sekolah tidak hanya mengenal budaya asli mereka dari cerita atau video, tetapi dapat mempraktikkannya secara langsung dalam kehidupan keseharian mereka.

Langkah itu salah satunya dilakukan Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Batang menggagas program “Ketan Budaya” yang merupakan singkatan Kolaborasi Pelestarian Budaya.

Program ini akan mengintegrasikan permainan tradisional atau dolanan anak ke dalam kurikulum pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar (SD).

Ketan Budaya

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Batang, Rabu (17/6/2026) program Ketan Budaya ini lahir dari keprihatinan atas semakin menurunnya minat dan pemahaman anak-anak terhadap budaya lokal di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdikbud Batang, Nurlaili Endahwati mengatakan, pelestarian budaya perlu dilakukan sejak dini agar warisan budaya daerah tidak hilang ditelan zaman.

“Di era sekarang terjadi penurunan pemahaman dan minat anak-anak terhadap budaya lokal, khususnya di Kabupaten Batang. Karena itu, kami perlu mengintegrasikan pelestarian budaya ke dalam kurikulum pendidikan Sekolah Dasar agar budaya lokal kita tidak punah,” ujarnya saat Sosialisasi Kurikulum Pembelajaran Ekstrakurikuler Dolanan Anak di SD Negeri Kasepuhan 3 Batang, Rabu (17/6/2026).

Melalui program tersebut, sedikitnya terdapat 10 jenis permainan tradisional yang akan diperkenalkan kepada peserta didik. Permainan tersebut meliputi congklak, seprengan, sudamanda, yoyo, egrang, owal-awil, gobak sodor, bekelan, nekeran, hingga beber atau dam-daman.

Menurut Nurlaili, permainan tradisional tidak hanya menjadi sarana mengenalkan budaya kepada generasi muda, tetapi juga memiliki nilai pendidikan karakter yang penting bagi perkembangan anak.

“Kami berharap kegiatan ini bisa segera diimplementasikan kepada peserta didik untuk pembinaan karakter anak-anak Sekolah Dasar,” katanya.

Ia menambahkan, sejumlah sekolah sebenarnya telah mulai menerapkan permainan tradisional dalam berbagai kegiatan. Salah satunya SDIT Permata Hati Batang yang memanfaatkan permainan tradisional dalam kegiatan class meeting dan mendapat respons positif dari para siswa.

Sebagai tindak lanjut, Disdikbud Batang juga berencana menggelar Launching dan Festival Dolanan Anak tingkat Kabupaten Batang pada 6 Juli 2026 mendatang.

Kurangi Ketergantungan Gawai

Sementara itu, Kepala Disdikbud Batang Bambang Suryantoro menilai pengenalan permainan tradisional di sekolah menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai sekaligus membangun interaksi sosial yang sehat.

“Dengan adanya inovasi ini harapannya anak-anak dapat terbentuk rasa tanggung jawab, solidaritas yang tinggi, kebersamaan, dan kerja sama yang baik,” ujarnya.

Melalui program Ketan Budaya ini, Pemerintah Kabupaten Batang berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pewarisan budaya kepada generasi muda. 

Dengan begitu, permainan tradisional yang selama ini mulai tergerus perkembangan zaman dapat terus hidup dan menjadi bagian dari karakter dan identitas generasi muda.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment