Mabur.co– Geplak merupakan kudapan yang terbuat dari kelapa parut dan gula. Kudapan ini banyak dijual di toko oleh-oleh dan pasar tradisional di Yogyakarta.
Jika berkunjung ke Bantul, rasanya belum lengkap tanpa mencicipi geplak manis dari Mbok Tumpuk yang berada di Jalan KH.A Jl. KH Wahid Hasyim Taskombang, Palbapang, Bantul. Dari dapur sederhana, Mbok Tumpuk meracik resep dengan tangan penuh cinta, kini tetap menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta, bahkan dari tahun 1960 hingga sekarang.

Anggit Candrawirawan, sang penerus generasi ketiga (cucu keempat dari Mbok Tumpuk), mengatakan, meneruskan usaha bukanlah hal yang mudah.
Ia harus menghadapi tantangan besar, menjaga kualitas resep asli, sekaligus tetap bertahan di tengah persaingan bisnis kuliner modern.
Usaha Warisan Ibu
“Ini warisan dari simbok atau ibu yang harus dijaga. Kalau bukan kami yang meneruskan, siapa lagi?” ucapnya. Ia merupakan lulusan Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Jurusan Psikologi, saat ditemui di tokonya, Kamis (18/6/2026).
Anggit mengatakan pula, di tengah gempuran bisnis cepat saji dan oleh-oleh modern, Geplak Mbok Tumpuk masih berdiri tegak. Kekuatan ada pada cita rasa konsisten, racikan bumbu tradisional.
“Kunci usaha ini cuma satu yakni konsisten. Kalau dulu simbok jual geplak, ya konsisten di situ sampai orang kenal,” katanya.

Anggit mengatakan lagi, nama Mbok Tumpuk melekat karena memang diambil dari nama asli sang pencipta, Tumpuk. Uniknya, branding ini justru lahir dari pelanggan.
“Orang beli suka bilang, beli geplak Mbok Tumpuk, padahal simbok bikin tanpa mikir soal brand. Ternyata nama itu yang bikin dikenal sampai sekarang,” katanya.

Anggit menjelaskan lagi, untuk harga geplak Rp32.000 (satu besek isi setengah kilo). Tak hanya menjadi usaha keluarga, geplak ini jadi simbol budaya kuliner Bantul.
“Hingga kini, resep asli tetap dipertahankan tanpa banyak modifikasi. Geplak Mbok Tumpuk sebagai bagian penting dari sejarah kuliner Yogyakarta,” katanya.
Menjaga Pelanggan Tidak Mudah
Anggit mengatakan pula, tantangan sekarang adalah menjaga minat generasi muda. Di tengah derasnya tren kuliner baru, menjaga pelanggan agar tetap setia pada produk tradisional seperti geplak bukanlah hal mudah.
Namun justru di situlah tantangan sekaligus peluang. Untuk bertahan, ia memilih fokus pada kualitas, bukan kuantitas.
“Kami nggak punya cabang, hanya toko pusat di Jalan Wahid Hasyim,” katanya.
Anggit menuturkan juga, meski tidak sebesar brand modern, Geplak Mbok Tumpuk berhasil menorehkan prestasi dengan menjadi salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta paling dicari wisatawan.
“Kalau liburan, bisa sehari habis puluhan kilo. Pembelinya dari mana-mana, Jakarta, Surabaya, sampai luar Jawa. Mereka bilang kalau ke Yogyakarta belum lengkap kalau nggak bawa pulang Geplak Mbok Tumpuk,” katanya.
Anggit mengatakan lagi, kesuksesan ini tak lepas dari filosofi sederhana yakni menjaga rasa dan konsistensi.
“Buat saya, sukses itu bukan cuma soal uang. Tapi bisa nerusin warisan simbok, bisa hidup dari hasil usaha sendiri, itu sudah sukses besar,” ucapnya.

