Produk Kerai Bambu Angkat Nilai Jual Komoditas Desa

3 Min Read
Man crouching on a wooden deck, smoothing or cleaning bamboo planks beside a tiled wall.
Seorang pekerja sedang menyelesaikan pembuatan kerai. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Berkecimpung di dunia bisnis bukanlah hal mudah. Apalagi jika awalnya terbiasa menyandang status sebagai pegawai orang, tanpa perlu mengkhawatirkan kerasnya persaingan dalam dunia bisnis.

Namun, tekad kuat Wiwit Budi Wicaksono, warga Ngrenak Kidul, Sidomoyo, Godean, Sleman, mengalahkan ketakutannya pada sengitnya kompetisi di dunia bisnis.

Mengawali karirnya sebagai pegawai di sebuah perusahan mebel sejak tahun 2006, Wiwit mengasah jiwa dagang yang ia miliki hingga hampir 5 tahun lamanya.

“Dulu di mebel sekitar 5 tahun dari tahun 2006 terus jaga counter handphone di daerah Gejayan,” ujarnya, Minggu (2/8/2026).

Craftsman wearing gloves holds a large bamboo screen with a crane design in a workshop.
Wiwit Budi Wicaksono, warga Ngrenak Kidul, Sidomoyo, Godean, Sleman, memperlihatkan kerai bambu buatannya. (Foto: Setiaky A KusumA)

Menurut Wiwit, awal membuka usaha finishing, assembling, dan packing kerai bambu pada 2014.

Komoditas Desa

Kerai bambu merupakan komoditas di desanya, ia hanya berusaha mengembangkan komoditas tersebut agar meningkat daya jualnya.

“Saya kan tidak produksi saya cuma finishing, assembling, packing, dan beberapa teman istilahnya saya ajak untuk produksi. Kalau ukir kan ada rekanan sesama UKM perajin bambu gitu, ada dari Magelang,” terangnya.

Wiwit menuturkan, kerai tersebut menggunakan bahan dasar bambu wulung yang didapat dari Purworejo, Kulon Progo, bahkan Sedayu.

Dengan daya tahan mencapai 2 tahun, kerai ia jual dengan harga bervariasi mulai dari Rp170 ribu hingga Rp450 ribu, tergantung dari desain motif.  

“Desain ini kita googling, kalau umumnya kerai polos, cuma untuk pengembangannya kadang ada yang by request pesanannya, nanti mau minta yang gambar apa. Cuma kalau kita sendiri kita tawarkan gambar yang sudah kita punya, paling gambar seperti motif daun,” katanya.

Wiwit menjual kerai hasil kerajinannya tak hanya secara offline tetapi juga online melalui berbagai media sosial.

Tak pelak ini membuat konsumennya tersebar hingga ke pelosok Indonesia.

“Kalau pasarannya kita rata-rata malah ke luar kota. Lebih dari 50% pembeli kita di luar kota, kalau biasanya Bandung, Jakarta, Lampung, Makassar, Dompu, NTB, NTT juga ada,” ucapnya.

Alasan Wiwit tak ekspor adalah karena permintaan dalam negeri yang terbilang masih cukup banyak. Di Yogyakarta sendiri bisa mencapai 300 lembar per bulan.

Setiap bulannya, bisa mengantongi omzet sebesar Rp15 juta. Ini dibeberkan Wiwit telah cukup memenuhi kebutuhan mengingat usaha kerai merupakan usaha pokok yang ia jalani.

“Ke depan saya berharap usaha ini bisa mendapatkan hati di lebih banyak konsumen, tak hanya konsumen rumahan, tetapi hingga ke industri perhotelan yang kiranya membutuhkan kerajinan kerai,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar