Malioboro Leather, Tas Kulit Memikat dari Yogyakarta

5 Min Read
Shelf of leather bags in brown and black at a market stall, with a handwritten sign reading 'Kerajinan Kulit Khas Yogya' in the background.
Malioboro Leather. Nama ini telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu produsen tas kulit terkemuka di Yogyakarta, dikenal dengan produk-produk yang terbuat dari kulit sapi autentik berkualitas tinggi. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Cinderamata khas Yogyakarta sebenarnya sangat beragam, tak hanya batik. Salah satunya berbagai produk kerajinan berbahan dasar kulit seperti di pusat oleh-oleh Teras Malioboro (TM) 2, di jalan Ketandan Kulon, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Di tengah hiruk-pikuk bisnis tas kulit di Indonesia, ada satu nama yang muncul sebagai pionir dalam menghadirkan kualitas dan desain yang unik: “Malioboro Leather”.

Nama ini telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu produsen tas kulit terkemuka di Yogyakarta, dikenal dengan produk-produknya yang terbuat dari kulit sapi autentik berkualitas tinggi.

Pedagang Malioboro Leather, Winasis  mengatakan, Malioboro Leather adalah brand tas kulit asli yang sudah terkenal di Teras Malioboro.

Nama lapak ini terinspirasi dari jalan Malioboro, pusat kota Yogyakarta yang kaya akan seni dan budaya. Sebelum berjualan di Teras Maliooro, ia berjualan di Selasar Malioboro.

Berbahan Kulit Sapi

“Produk saya dari dulu adalah produk custom handmade (barang yang dibuat secara khusus dan personal oleh perajin). Benar-benar kerajinan yang dibuat oleh perajin Yogyakarta sendiri dari lembaran kulit sapi sampai menjadi sebuah produk. Meskipun banyak pesaing mencoba meniru, mereka selalu gagal karena tingkat kesulitan tertentu yang tidak dapat dicapai oleh perajin lain,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, Kamis (18/6/2026)

Portrait of a man in a black T-shirt with an orange graphic, standing in a narrow outdoor alley and looking at the camera, smiling subtly.
Pedagang Malioboro Leather, Winasis. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Winasis mengatakan, tas dari “Malioboro Leather” memiliki kisaran harga mulai dari Rp500.000 hingga Rp1.500.000, tergantung pada ukuran dan kompleksitas desain.

Setiap tas yang keluar dari tangannya dipastikan memiliki kualitas yang berbeda dan estetika yang unik, menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah kulit menjadi produk yang bernilai tinggi.

“Tas-tas kulit dari Malioboro Leather semakin berkilau (glossy) seiring penggunaan yang bertambah lama. Lebih dari itu, kulit yang digunakan memiliki sifat tahan api, sehingga memberikan keamanan tambahan kepada pemiliknya,” ucapnya.

Winasis mengatakan, Malioboro Leather tidak sekadar sebuah merek tas, tetapi sebuah warisan seni dan keahlian dalam mengolah kulit menjadi produk yang memikat dan bernilai tinggi.

“Dengan fokus pada kualitas, keunikan desain, dan pelayanan kustomisasi yang superior, lapak ini terus mengukuhkan posisinya di pasar domestik maupun internasional sebagai pemimpin dalam industri tas kulit di Yogyakarta,” katanya.

Winasis menuturkan, untuk tingkat pembeli dilihat dari grafik saat ini sangat menurun. Untuk tahun pertama, kedua dan ketiga bagus.

Masuk tahun keempat dan kelima berkurang. Berkurangnya pembeli dan pengunjung mungkin ada masalah dengan di tempat parkiran. Tamu sekarang juga sudah jarang lagi ke Malioboro. Ini semenjak Malioboro direlokasi atau apa.

“Saya juga enggak tahu seperti itu. Kalau soal persenan untuk pedagang tahun sekarang hampir 35 persen. Sedangkan tahun kemarin juga sama. Tetapi bagusnya di kuartal 1, 2, dan 3 itu. Entah orang itu masih penasaran dengan produk atau memang akses ke Malioboro lebih gampang. Saya juga enggak tahu kalau itu. Semenjak parkiran di Senopati dan Taman Pintar dipindahkan ke Ngabean membuat orang jadi malas untuk ke Teras Malioboro 2 ini. Karena jarak parkir kendaraan ke sini sangat jauh,” katanya.

Indoor market stall displaying hanging leather bags and patterned garments; shelves hold belts, purses, and sandals behind a fabric backdrop.
Tas dari “Malioboro Leather” memiliki kisaran harga mulai dari Rp500.000 hingga Rp1.500.000, tergantung pada ukuran dan kompleksitas desain. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Winasis mengatakan pula, dulu saat masih ada parkiran Abu Bakar Ali tingkat pembelinya bagus.

”Saya berharap kepada pemerintah agar dipikirkan parkir buat tamu-tamu yang akan berkunjung ke Teras Maliooro 2. Untuk Teras Malioboro ini, harus ada evaluasi, agar Teras Malioboro ini menjadi ramai. Menjadi destinasi wisata Yogyakarta lagi. Saya berharap untuk pedagang kaki lima yang di luar itu ditertibkan. Kita dulu itu jualan di Malioboro, di Selasar Malioboro. Nah, setelah kita di lokasi ke teras-teras Malioboro seperti ini, kita masuk ke teras seperti ini.

Di sana itu bukannya berganti tapi cuma mundur ke dalam toko. Mereka memang enggak jualan di Selasar Malioboro. Tapi tokonya yang dibuat jualan. Untuk para pelaku penjual sama seperti kami. Di selasar Malioboro sekarang  juga ada yang jualan bakpia. Malah bahan barang dan harga lebih komplit dan lebih murah di sana. Kita kalau kalahnya di sana, sekarang saingan kita itu teman-teman kita sendiri,” katanya.

Winasis menjelaskan, harus ada aturan main (SOP) untuk pedagang maupun UMKM yang jualan di Selasar Malioboro.

“Kalau orang sudah belanja di toko Selasar Malioboro dengan barang-barang yang sama seperti kita, otomatis untuk masuk ke dalam Teras Malioboro dan melihat barang yang sama juga di sini, itu akan susah kami bersaing,“ katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment