Mabur.co – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan melemahnya nilai tukar rupiah mulai dirasakan pelaku usaha bengkel kendaraan di Kabupaten Kulon Progo, DIY. Harga oli dan berbagai suku cadang yang terus merangkak naik membuat banyak pemilik kendaraan memilih menunda perawatan rutin demi menghemat pengeluaran.
Kondisi tersebut dirasakan Prisma Yanu Prawury, pemilik bengkel kendaraan di Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, Kulon Progo.
Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir harga oli mengalami kenaikan cukup tinggi, bahkan mencapai 20 hingga 30 persen.
Lonjakan harga tersebut membuat banyak pelanggan terkejut. Tidak sedikit yang mempertanyakan alasan kenaikan harga yang dinilai terlalu drastis.
“Banyak pelanggan yang kaget. Mereka bertanya kenapa harga oli naik tinggi sekali, bahkan sampai 30 persen. Akhirnya banyak yang memilih menunda ganti oli,” ujar Prisma kepada mabur.co, Jumat (19/6/2026).

Dampaknya langsung terasa terhadap usaha. Jika sebelumnya setiap hari terdapat sekitar 10 pelanggan yang datang untuk servis ringan dan ganti oli, kini jumlahnya menyusut hingga separuhnya. Dalam sehari, hanya empat hingga lima kendaraan yang datang ke bengkelnya.
Penurunan Pelanggan
Penurunan jumlah pelanggan itu juga diikuti perubahan pola perawatan kendaraan. Bila sebelumnya para pemilik kendaraan rutin mengganti oli setiap menempuh jarak sekitar 5.000 kilometer, kini banyak yang baru datang setelah kendaraan mencapai 7.000 hingga 10.000 kilometer.
“Biasanya 5.000 kilometer sudah ganti oli, sekarang banyak yang baru ganti saat 7.000 sampai 10.000 kilometer. Mereka bilang masih dipakai dulu karena kebutuhan rumah tangga juga ikut naik,” katanya.
Menurut Prisma, kondisi tersebut terjadi karena masyarakat saat ini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dibanding biaya perawatan kendaraan. Kenaikan BBM yang diikuti naiknya harga berbagai kebutuhan membuat warga semakin selektif mengatur pengeluaran.

Salah seorang warga, Happy Ayu Fatimah, mengaku terpaksa menunda servis kendaraan agar anggaran rumah tangga tetap tercukupi.
“Sekarang hampir semua kebutuhan naik. Jadi untuk servis kendaraan kadang ditunda dulu. Yang penting kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi,” ujarnya.
Ia berharap kondisi ekonomi dapat segera membaik sehingga harga berbagai kebutuhan, termasuk oli dan suku cadang kendaraan, bisa kembali stabil.
Harapan serupa juga disampaikan Prisma. Menurutnya, jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya masyarakat yang terbebani, namun pelaku usaha bengkel kecil juga akan semakin kesulitan mempertahankan usahanya.
“Harapannya ekonomi bisa kembali normal dan harga-harga lebih stabil. Kalau masyarakat sudah tidak terlalu terbebani, mereka juga tidak akan ragu untuk melakukan perawatan kendaraan seperti biasa,” katanya.

