Mabur.co – Tanggal 21 Juni merupakan salah satu momentum penting dalam sejarah musik dunia. Karena tanggal ini merupakan peringatan hari musik internasional, yang telah ditetapkan sejak 1982 oleh Menteri Kebudayaan Perancis saat itu, Jack Lang, bersama komposer sekaligus jurnalis musik, Maurice Fleuret.
Sejak dulu hingga saat ini, musik telah berkembang dengan cukup pesat, termasuk setelah hadirnya berbagai platform digital yang bisa diakses di seluruh dunia. Hal itu membuat kesempatan untuk terkenal dan meraup pundi-pundi menjadi lebih luas dari sebelumnya.
Namun ada satu hal yang nyaris tidak pernah berubah sejak dulu, bahkan sebelum hari musik internasional itu ditetapkan, yakni kemunculan lagu-lagu bertemakan cinta kasih sayang terhadap lawan jenis (khususnya percintaan anak muda).
Ya, lagu-lagu bertema cinta masih menjadi produk yang paling laku di pasaran, termasuk di era platform digital seperti sekarang. Semua orang bisa dengan mudah larut dalam lantunan lirik serta musik bertema percintaan, meskipun dirinya sendiri belum pernah mengalami isi atau konteks lagu yang dinyanyikan tersebut, yang penting hanya menikmati lirik maupun musiknya sedemikian rupa.
Padahal, masih banyak topik atau tema-tema lainnya yang cukup menarik untuk dijadikan lagu, termasuk tema-tema yang sedang hangat dibicarakan saat ini, misalnya tentang masalah ekonomi, peperangan, atau bahkan politik sekalipun.
Apalagi dalam situasi seperti sekarang, setiap orang juga butuh hiburan melalui lagu yang membahas tema-tema yang lebih kontekstual sesuai kehidupan sehari-hari, tidak hanya urusan percintaan semata. Terlebih urusan percintaan biasanya hanya ditujukan kepada kalangan remaja atau anak-anak muda, yang sedang dalam masa-masa kasmaran terhadap lawan jenis, dan sebagainya.
Dilansir dari laman Hipwee, Minggu (21/6/2026), berikut adalah sedikit ulasan mengapa lagu-lagu bertema cinta kasih sayang masih mendominasi pasaran, baik di skala nasional maupun internasional.
Pengalaman Emosional yang Bersifat Universal
Tak bisa dipungkiri, cinta adalah pengalaman manusia yang paling mendasar, dan selalu menjadi gejolak yang tak akan pernah padam ditelan waktu. Meskipun seiring waktu, tentu saja pengalaman cinta yang dirasakan bukan lagi terhadap lawan jenis atau semacamnya, melainkan lebih kepada mencintai diri sendiri (self-love), mencintai lingkungan, mencintai negara, dan sebagainya.
Karena cinta merupakan pengalaman pribadi yang akan selalu hidup, di situlah lagu-lagu bertema cinta juga selalu terasa relate (terkait dengan perasaan individu), meskipun praktiknya seringkali “berlebihan” (karena jumlahnya yang terlalu dominan, dan kebanyakan hanya berupa cinta terhadap lawan jenis).
Komersialisasi Industri yang Masih Mendukung
Selain soal pengalaman emosional yang bersifat universal, industri musik di seluruh dunia pun masih memandang lagu-lagu bertema cinta sebagai “makanan empuk” yang dapat selalu diolah sedemikian rupa dari waktu ke waktu, tanpa pernah merasa usang, basi, atau ketinggalan zaman, dan seterusnya.
Salah satu contohnya adalah ketika lagu dari Dewa 19 berjudul “Pupus” (single dari album “Cintailah Cinta”) yang dirilis pada tahun 2002, namun masih terus dinyanyikan oleh banyak orang, termasuk hingga saat ini. Padahal lagu tersebut bisa dibilang “sudah usang”, karena sudah tidak lagi hits, dan sudah berlalu 24 tahun sejak pertama kali dirilis.
Namun, lagu ini masih menjadi andalan bagi banyak hotel, kafe, mall, karaoke, maupun penyanyi-penyanyi lokal tertentu, sebagai lagu yang dibawakan setiap harinya. Salah satunya karena lirik-liriknya yang dianggap masih relevan dengan kondisi percintaan di zaman sekarang, musiknya yang mudah diterima dan enak didengarkan, dan seterusnya.
***
Momentum hari musik internasional setidaknya bisa menjadi semacam alarm sederhana, bahwa dunia juga membutuhkan kemasan lagu dengan topik yang lebih universal, dan tidak hanya berfokus pada tema percintaan anak muda terhadap lawan jenis semata.
Meskipun tema tersebut juga bersifat universal dan tidak lekang oleh zaman, namun masih banyak tema menarik lainnya yang tetap bisa menghibur banyak orang, sekaligus mendatangkan cuan yang cukup besar. Asalkan dikemas dan dipromosikan dengan baik, melalui personal branding yang unik dan mudah dikenali orang lain. (*)

