Kalis Mardiasih Terbitkan Novel Edukatif Spektakuler ‘Makamkan Ibu di Samping Ayah’

5 Min Read
Woman in a pink hijab and glasses proudly holding a book outdoors, with a table of books in the background.
Kalis Mardiasih, aktivis yang dikenal berani menyuarakan isu-isu terkait perempuan mengenalkan novel perdananya berjudul “Makamkan Ibu di Samping Ayah”. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Kalis Mardiasih, aktivis yang dikenal berani menyuarakan isu-isu terkait perempuan mengenalkan novel perdananya, berjudul “Makamkan Ibu di Samping Ayah”.

Novel debutan Kalis “Makamkan Ibu di Samping Ayah” yang diterbitkan oleh Shira Media Sleman-Yogyakarta tahun 2026 tersebut, sempat memantik pertanyaan, ada apa dengan judul itu?

Bukankah sudah menjadi hal yang wajar jika istri wafat dimakamkan di sebelah makam almarhum suaminya, mengapa harus ditegaskan, apakah sebagai wasiat bagi anak keturunannya?

Front and back covers of a blue novel titled'Makamkan Ibu di Samping Ayah' by Kalís Mardiasih, with illustrations of a scooter, chairs, clothes, and rooftops.
Novel ‘Makamkan Ibu di Samping Ayah’ mencoba menggambarkan setiap karakter yang di dalamnya menanggung luka versi masing-masing. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Kalis mengatakan, memulai proses penulisan novel berawal dari luka generasional dalam keluarga Indonesia yang selama ini jarang disuarakan.

Luka generasional, dalam psikologi dikenal sebagai intergenerational trauma, suatu kondisi di mana dampak psikologis dan pengalaman traumatis seseorang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seringkali tanpa disadari oleh siapa pun dalam keluarga itu.

“Novel ‘Makamkan Ibu Di Samping Ayah’ mencoba menggambarkan setiap karakter yang di dalamnya menanggung luka versi masing-masing. Aji sebagai anak sulung yang sejak remaja memikul beban layaknya orang dewasa. Vikra sebagai anak tengah memilih jadi pendiam, dan Lini sebagai anak bungsu, tumbuh tanpa kenangan apa pun bersama ayah kandungnya,” tuturnya, Senin (22/6/2026).

Menurut Kalis, permintaan tersebut memaksa tiga anaknya Aji, Vikra, dan Lini untuk menghadapi masa lalu yang selama ini tersimpan rapat.

Enam Sudut Pandang

Mereka harus menelusuri kembali berbagai rahasia keluarga, konflik yang tak terselesaikan, serta luka yang membentuk kehidupan masing-masing. Menggunakan enam sudut pandang berbeda.

“Saya menghadirkan narasi yang kompleks dan realistis. Setiap tokoh digambarkan memiliki sisi rapuh sekaligus kekeliruan, tanpa pembagian tegas antara pihak yang sepenuhnya benar maupun sepenuhnya salah,” katanya.

Bagi Kalis, di dalam novel tersebut, ibu yang digambarkan keras dan ambisius, ternyata menyimpan kerentanan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Ayah yang pergi, ternyata membawa alasan yang jauh lebih kompleks dari versi yang selama ini diceritakan kepada anak-anaknya.

“Ini novel bukan tentang siapa yang benar atau salah, ini novel tentang apakah kita sanggup melihat orang-orang yang menyakiti kita sebagai manusia dan apa yang ingin kita lakukan dengan pemahaman itu,” ujarnya.

Kalis menuturkan, novel ini juga menghadirkan potret orang tua yang tidak hitam-putih. Sosok ibu yang keras dan ambisius ternyata menyimpan luka serta kerentanan yang tidak pernah diungkapkan.

Di sisi lain, ayah yang meninggalkan keluarga juga memiliki alasan yang jauh lebih rumit dibandingkan narasi yang selama ini dipercaya anak-anaknya.

Menurut Kalis, yang pasti novel tersebut bukan tentang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. 

“Saya sengaja tidak menyodorkan siapa yang salah,” tegasnya.

Kalis kembali menegaskan, novel tersebut tentang apakah kita sanggup melihat orang-orang yang menyakiti kita sebagai manusia dan apa yang ingin kita lakukan dengan pemahaman itu.

Kalis mengatakan lagi, tema yang diangkat dalam ‘Makamkan Ibu di Samping Ayah’ dinilai relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Kesehatan Mental Keluarga

Dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan mengenai luka generasional, pola asuh yang tidak sehat, hingga kesehatan mental dalam keluarga, semakin banyak muncul di berbagai platform digital Indonesia.

“Melalui novel ini, saya menawarkan ruang refleksi yang lebih mendalam dibandingkan diskusi singkat di media sosial,” katanya.

Kalis mengajak pembaca menelaah persoalan pengampunan, batas antara memahami dan membenarkan kesalahan, serta kemungkinan memperbaiki hubungan keluarga yang telah retak.

Dikenal luas sebagai penulis, aktivis, dan kolumnis yang konsisten mengangkat isu perempuan, keluarga, dan kesetaraan, Kalis menjadikan novelnya sebagai langkah baru dalam perjalanan kepenulisannya.

“Setelah lama dikenal melalui esai dan tulisan opini, ia kini memilih medium fiksi untuk menyampaikan gagasan dan refleksi sosial yang selama ini menjadi perhatian utamanya. Novel ‘Makamkan Ibu di Samping Ayah’ terbit setebal 142 halaman dalam kategori fiksi sastra Indonesia dan drama keluarga,” katanya. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment