Pujangga kharismatik asal Mandailing Natal, Sumatra Utara, Sutan Takdir Alisjahbana (STA), namanya begitu melegenda dalam khazanah kebudayaan Indonesia.
Di media digital aneka karya sastranya mudah ditemui. Termasuk juga karya sinema yang mengangkat karyanya yang karib dijumpai di YouTube.
Belakangan nama STA naik daun lagi karena sedang ramai diperbincangkan. Jika masih hidup, STA barangkali tidak merasa harus dibela, tapi mengapa orang ramai harus membela dirinya? Harus memilih dan mengangkatnya sebagai pahlawan nasional?
Jika membaca rekam jejak kiprah STA dalam khazanah intelektual Indonesia, maka yang tertemui memang banyaknya karya spektakuler, misalnya saja terkait buku-buku karyanya.
Pesona STA begitu memukau, tidak saja pada zamannya berkiprah, namun hingga hari ini. Buku-buku STA pun mampu hadir sebagai penanda zaman.
Salah satu buku STA yang monumental misalnya, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia pernah dipakai sebagai buku bacaan wajib di sekolah-sekolah pada masa Orde Baru berjaya. Begitu juga novelnya Layar Terkembang.
Pencapaian Pemikiran STA
Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Begitu pula dengan STA ia menjadi penting karena tonggak pemikirannya.
Ternyata, diam-diam, STA termasuk orang yang setuju soal adopsi semangat kebudayaan Barat yang dikembangkan di Indonesia sebagai bagian pergaulan internasional. Oleh sebab itu, STA menolak pandangan yang cenderung hanya bersifat tradisionalis.
Selain itu, tonggak pemikiran STA lainnya ia dianggap sebagai pembaharu bahasa dan sastra Indonesia. Misalnya saja STA dianggap telah melakukan sosialisasi berbahasa Indonesia yang baik melalui majalah Pujangga Baru. STA pun dianggap sebagai peletak dasar cara berbahasa Indonesia yang lebih modern.
Sebagai orang yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Nasional (Unas), STA juga telah meletakkan pencapaian mengenai peran manusia yang lebih kompleks, peran manusia yang luas, yang tidak hanya berbasis kearifan lokal, namun juga adaptif terhadap teknologi dan sains. Dikenal juga dengan istilah transhumanity.
Belakangan juga, saya menelusuri karya STA berupa puisi yang ada di media sosial. Salah satu yang saya temukan adalah berjudul Pohon Beringin ini.
POHON BERINGIN
Kenangan kepada Solo
Tinggi melangit puncakmu bermegah,
Melengkung memayung daunmu bodi.
Berebut akar mencecah tanah,
Masuk membenam ke dalam bumi.
Lemah mendesir daunmu bernyanyi,
Gemulai berbuai dibelai angin,
Nikmat lindap menyerak di kaki,
Mengundang memanggil leka berangin.
Nampak beta berkumpul kelana,
Letih semadi berjuang tiada,
Melunjur kaki menyandar kepala,
Menanti nasib damai bahagia.
Ya Allah, ya Rabbana,
Turunkan badai datangkan taufan,
Rubuhkan tumbangkan pohon perkasa,
Pelindung lelah, pengiba insan.
Rebahkan terbangkan jangan tiada,
Bersihkan bumi dari segala
Tempat terlengah tempat terlena
Tempat terhanyut dalam tiada
Lama sudah tani menanti,
Gelisah tangan memegang bajak,
Tiada tertahan hati gembira,
Hendak meluku membalik tanah.
Kuning permai benih bernas
Menanti memecah menyerbu hidup,
Girang berbunga girang berbuah
Di dalam hujan disinar suria.
25 September 1935
Perhatikan tahun penciptaan puisi tersebut. Lalu kulik tahun lahir STA di angka 1908. Artinya, puisi itu ia tulis pada usia 27. Saya berefleksi secara sederhana, soal cara berbahasa di era itu. Ketika dibaca dalam perspektif kekinian ternyata cara berbahasa STA sudah cukup lincah.
Cara menyusun dan meletakkan diksi yang ia bangun menunjukkan bahwa penguasaan bacaannya di usia muda memang sudah matang. Ini salah satu pelajaran penting yang bisa dipetik dari buah karya dan buah pemikiran STA bagi generasi era kini.
Transformasi nilai penting keberadaan STA bagi generasi era kini adalah juga pada kegigihannya menciptakan terobosan peran. Peran sosial dan edukatif melalui literasi, menerbitkan majalah misalnya, perlu ditiru. Apalagi di era kini, banyak platform yang bisa digunakan sebagai ruang sosialisasi pemikiran.
Sudah saatnya generasi di era kini kembali mengulik tokoh yang layak sebagai panutan di era yang kian bias dari kebenaran. STA adalah sosok yang cemerlang yang gigih berkarya dengan tetap menjunjung tinggi nasionalisme keindonesiaan dalam karya-karyanya!
Sudah saatnya STA menjadi pahlawan nasional Indonesia baru! ***

