Lima Calon Manajer Kopdes dan KNMP Meninggal, Kemhan Ungkap Riwayat Penyakit

8 Min Read
A group of female soldiers in camouflage uniforms seated closely together, many wearing hijabs.
Peserta diklat calon pengelola program KDMP dan KNMP. (Foto: Istimewa)

Mabur.co– Peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP)/Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) 2026 yang meninggal dunia saat pelatihan dasar militer (latsarmil) kembali bertambah. Jumlahnya kini menjadi lima orang.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) buka suara mengenai kasus meninggalnya 5 peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dalam program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Kelima peserta meninggal dunia saat mengikuti latihan bela negara dan manajerial melalui latihan dasar militer (latsarmil) di sejumlah wilayah di Indonesia.

Duka Cita

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia mengatakan, atas nama Kementerian Pertahanan RI, panitia seleksi nasional, dan seluruh penyelenggara program SPPI menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya 5 peserta SPPI KDKMP/KNMP tahun 2026 yang sedang mengikuti latihan.

“Kelima peserta sudah mendapatkan perawatan kesehatan untuk penanganan medis lanjutan yang sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kelima peserta tersebut memiliki karakter dan kondisi medis yang berbeda. Seluruh peserta telah mendapat penanganan medis sesuai prosedur, bak di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit,” jelasnya, dilansir Kemenhan, Sabtu (27/6/2026).

Ketut menjelaskan, peserta pertama yang dilaporkan meninggal dunia adalah Yonanda Muhammad Taufik yang berasal dari Satdik Pusdiklatpur Kodiklatad Baturaja.

Ketika itu, pada Rabu (17/6/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, almarhum mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan di daerah latihan Pusdiklatpur Baturaja dengan berjalan kaki bersama peserta lainnya.

Setelahnya, sekitar pukul 17.17 WIB, pelatih menemukan almarhum mengalami penurunan kesadaran. Alhasil, tim kesehatan satuan segera dipanggil untuk melakukan pemeriksaan, dan almarhum dibawa menggunakan ambulans menuju pos kesehatan satuan pendidikan pada pukul 17.22 WIB.

Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter memutuskan almarhum segera dirujuk ke Rumah Sakit dr Noesmir Baturaja.

Setibanya di rumah sakit, sekitar pukul 18.05 WIB, almarhum langsung mendapatkan penanganan medis. Meskipun telah dilakukan tindakan medis secara intensif, pada pukul 18.33 WIB, dokter menyatakan almarhum meninggal dunia dengan diagnosis cardiac arrest atau henti jantung.

Sementara itu, peserta kedua yang meninggal dunia adalah Anisya Musyarofah dari Satdik Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman Balikpapan.

Awalnya, almarhumah mengikuti kegiatan pembelajaran sesuai jadwal pada Kamis (18/6/2026) sekitar pukul 13.35 WITA.

Almarhumah mengeluhkan sesak napas disertai mual sebelum mengikuti kegiatan. Alhasil, yang bersangkutan dievakuasi ke Pos Kesehatan Dodikjur.

Petugas sempat melakukan pemeriksaan pada sekitar pukul 14.00 WITA. Namun, peserta itu akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit dr R Hardjanto Balikpapan pada pukul 14.05 WIB.

Di rumah sakit, almarhumah terus mendapatkan penanganan medis. Namun, kondisi terus memburuk hingga pukul 18.51 WITA, hasil EKG menunjukkan flat asystole. Pada pukul 19.00 WITA, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia. Berdasarkan keterangan medis, penyebab kematian adalah heat stroke.

Peserta ketiga yang meninggal dunia adalah Novia Ramadani Sitorus dari Satdik Pusbahasa Kodiklat Angkatan Udara. Peristiwa itu bermula ketika peserta mendatangi unit kesehatan dengan keluhan batuk berdahak, sesak napas, dan demam, pada Senin (22/6/2026) pukul pukul 14.30 WIB. Peserta itu kemudian diberikan terapi dan dipantau oleh tim kesehatan.

Keesokan harinya, pada Selasa (23/6/2026) sekitar pukul 06.10 WIB, kondisi peserta itu makin lemah, sehingga langsung dirujuk ke Rumah Sakit Utama dr Esnawan Antariksa. Kemudian bersangkutan kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit, termasuk foto toraks yang menunjukkan tuberkulosis paru aktif, disertai pemeriksaan laboratorium dan perawatan intensif di ruang ICU isolasi.

Pada pukul 15.00 Waktu Indonesia bagian Barat, kondisi pasien mengalami penurunan kesadaran. Tim medis segera melakukan resusitasi jantung paru, namun pada pukul 15.13 Waktu Indonesia bagian Barat, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, almarhumah meninggal dunia akibat tuberculosis.

Keempat, peserta yang meninggal dunia adalah Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satuan Pendidikan Yonparako 465 Halim Perdanakusuma. Kronologi peristiwa itu bermula ketika almarhum datang ke ruang kesehatan pada Kamis (25/6/2026) pukul 14.30 WIB. Keluhannya adalah sesak napas dan lemas.

Saat dilakukan pemeriksaan, kondisi umum yang bersangkutan masih stabil, sehingga diberikan terapi oksigen dan diistirahatkan. Setelah kondisinya membaik, peserta itu kembali mengikuti kegiatan. Namun pada pukul 18.00 WIB, keluhan sesak napas kembali muncul.

Yang bersangkutan segera dibawa ke ruang kesehatan dan pada pukul 18.25 WIB, dirujuk ke IGD Rumah Sakit Angkatan Udara dr Esnawan Antariksa.

Ia menyebutkan, peserta itu sempat menjalani pemeriksaan menyeluruh meliputi pemeriksaan laboratorium, EKG, foto toraks, pemasangan alat bantu napas, hingga perawatan di ICU. Meskipun telah dilakukan tindakan medis, kondisi pasien terus memburuk. Pada Jumat, 26 Juni 2026, pukul 00.28 Waktu Indonesia Barat, dokter menyatakan almarhum meninggal dunia.

Berdasarkan resume medis dan laporan khusus, penyebab kematian berkaitan dengan pneumonia atau infeksi paru-paru yang disertai komplikasi medis. Dalam riwayat kesehatan juga terdapat informasi mengenai hipertensi dan obesitas yang menjadi bagian dari evaluasi medis.

Peserta kelima yang meninggal dunia adalah Nola Dya Sari dari Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Peristiwa itu bermula ketika almarhumah mengikuti kegiatan pembelajaran sosiologi dan teknik perkebunan di dalam kelas tanpa keluhan kesehatan pada Jumat (26/6/2026).

Ketut menyebutkan, sekitar pukul 18.45 WIB, almarhumah mengeluhkan sesak napas disertai badan terasa panas. Tim kesehatan satdik segera memberikan penanganan awal dan merujuk yang bersangkutan ke IGD Rumah Sakit Singkawang.

Setibanya di IGD pada pukul 19.20 WIB, yang bersangkutan langsung mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis. Setelah dilakukan stabilisasi, pasien dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang untuk memperoleh penanganan yang lebih komprehensif.

Sekitar pukul 20.20 WIB, almarhumah tiba di RSUD Abdul Aziz Singkawang dan segera mendapatkan penanganan lanjutan dari tim medis.

Dalam proses penanganan terjadi henti jantung, sehingga dilakukan resusitasi jantung dan tindakan kardioversi. Meskipun berbagai upaya medis telah dilakukan, kondisi pasien tidak dapat dipulihkan. Pasien kemudian dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB.

Almarhumah telah melalui tahapan seleksi kesehatan sebelum mengikuti Latsarmil. Hasilnya, seluruh pemeriksaan itu dinyatakan memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku, dengan catatan kelebihan berat badan.

“Saat ini, hasil evaluasi medis terus didalami untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi yang dialami,” katanya.

Ketut menegaskan, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin telah memberikan arahan untuk memperhatikan penguatan aspek kesehatan peserta.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara berkala, khususnya kepada peserta yang memiliki risiko penyakit.

“Kementerian Pertahanan juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk memperoleh asistensi medis, khususnya dalam upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan penyakit paru serta penyakit menular di lingkungan pendidikan,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment