Melestarikan Budaya itu Penting, Tapi Menjaga Kesehatan Juga Tak Kalah Penting

3 Min Read
Elderly man in white robes sitting cross‑legged on a colorful rug, speaking into a microphone in an outdoor space with plants nearby and water bottles on the ground.
Budayawan Fajar Suharno (Foto: Azka Qintory)

Mabur.co – Kegiatan melestarikan budaya memang menyenangkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang benar-benar menyukainya, sekaligus menggelutinya sebagai bagian dari mata pencaharian sehari-hari.

Namun, masih banyak orang yang lupa menjaga kesehatan tubuh dan pikirannya, ketika melakukan aktivitas pelestarian kebudayaan tersebut.

Untuk itulah, Dinas Kebudayaan DIY bersama Kelingan Garden & Cafe dan budayawan Fajar Suharno, berinisiatif menyelenggarakan kegiatan “Sambang Komunitas”, beberapa waktu lalu, sebagai salah satu upaya untuk dapat melestarikan kebudayaan, sambil tetap menjaga kesehatan diri.

Karena kegiatan pelestarian budaya juga tidak akan mampu berjalan optimal, apabila tubuh tidak fit, dan pikiran juga kurang rileks.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar Suharno yang telah berusia 81 tahun, sempat menimba ilmu di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, Jawa Barat, tentang bagaimana melakukan gerak olah tubuh yang tepat, untuk dapat menjaga kesehatan meski sudah berusia senja.

“Saya bukanlah seorang paramedis, saya juga bukan dokter, saya bukan sarjana biologi, tapi saya hanya sebagai murid di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, yang pernah mengajarkan kepada saya tentang menjaga kesehatan melalui gerak olah tubuh, yang masih terus saya praktekkan sampai saat ini,” tutur Fajar Suharno, dalam pemaparannya di Kelingan Garden & Cafe, belum lama ini.

Salah satu aspek yang turut menjadi perhatian seorang Fajar Suharno adalah pernapasan. Karena pernapasan adalah aktivitas alami manusia yang dilakukan setiap harinya, tanpa pernah diajarkan oleh siapapun.

Namun, apabila pernapasan terhambat atau mengalami masalah, seluruh aktivitas bisa terganggu, masuk rumah sakit, bahkan sampai meninggal dunia. Padahal ketika masih sehat, aktivitas bernapas seperti dianggap enteng begitu saja, lantaran sudah biasa dilakukan sejak lahir.

“Menurut saya napas itu adalah sesuatu yang bukan main (pentingnya untuk manusia). Padahal selama ini kita menganggap napas adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Napas itu sesuatu yang sudah diterima dan tidak perlu dipersoalkan. Sementara dalam mekanisme berlatih (yang diajarkan di PGB Bangau Putih), ternyata napas memegang peranan yang sangat penting terkait bagaimana kita menjalani hidup ini,” sambung Fajar.

Di akhir acara, Fajar pun memberikan praktik langsung bagaimana menerapkan gerakan relaksasi olah tubuh yang bisa dilakukan di rumah, hanya dengan memanfaatkan badan sendiri.

Seluruh gerakan tersebut cukup dilakukan sekitar 15 sampai 20 menit setiap harinya, agar para budayawan, sastrawan, dan sejenisnya bisa tetap sehat dan bugar dalam menjalani aktivitas pelestarian budaya di manapun dan kapanpun. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment