Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, WHO: 1.300 Orang Meninggal Dunia 

3 Min Read
Kondisi suhu di Eropa saat ini. (Foto: World Meteorological Organization)

Mabur.co – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak beberapa hari terakhir diketahui telah mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia.

Dilansir BBC, Rabu (1/7/2026), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan menyebut lebih dari 1.300 orang meninggal dunia diduga akibat suhu udara yang sangat tinggi sejak 21 Juni 2026.

Kementerian Kesehatan Prancis juga melaporkan sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari biasanya sejak Rabu pekan lalu. Sebagian besar korban merupakan warga lanjut usia berusia di atas 65 tahun.

Data tersebut sejalan dengan peningkatan jumlah warga yang meninggal di rumah selama 10 hari terakhir hingga mencapai sekitar 40 persen.

Kelompok lansia, penderita penyakit kronis, serta masyarakat yang tinggal di bangunan tanpa pendingin ruangan menjadi kelompok paling rentan terhadap kondisi suhu ekstrem saat ini.

Di sejumlah negara seperti Jerman, Polandia, dan Republik Ceko, fenomena cuaca ekstrem ini juga memecahkan rekor suhu tertinggi. 

Di Jerman, suhu udara mencapai 41,7 derajat Celsius, menjadikannya hari terpanas yang pernah tercatat untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Sementara itu, Polandia mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah sebesar 40,5 derajat Celsius.

Republik Ceko juga mencetak rekor baru dengan suhu 41,1 derajat Celsius tepatnya di wilayah Doksany, sebelah utara Praha.

Menurut WHO, gelombang panas yang sebelumnya hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini telah mengalami perubahan pola secara drastis akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Kubah Panas

Salah satu penyebab utama cuaca ekstrem kali ini adalah fenomena heat dome atau kubah panas. Fenomena ini terjadi ketika tekanan udara tinggi menjebak udara panas di dekat permukaan bumi.

Udara yang turun kemudian menjadi semakin padat dan panas, sementara kondisi atmosfer yang kering menghambat pembentukan awan sehingga sinar matahari terus memanaskan permukaan tanah.

Akibatnya, suhu udara meningkat drastis selama beberapa hari berturut-turut.

Guna mencegah dampak korban jiwa yang semakin banyak, sejumlah negara di Eropa sendiri saat ini telah mengambil berbagai langkah darurat.

Di Belanda, festival musik Defqon.1 secara resmi telah dibatalkan setelah pemerintah mengeluarkan peringatan kode merah akibat cuaca panas ekstrem.

Sementara di Paris, pemerintah setempat melarang konsumsi minuman beralkohol di ruang publik serta membatalkan pawai kebanggaan (Pride Parade) guna mengurangi beban layanan darurat yang kewalahan menangani dampak suhu tinggi.

WHO pun mendesak seluruh negara di Eropa segera menerapkan rencana aksi kesehatan menghadapi gelombang panas sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.

Menurut Tedros, langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kematian, terutama bagi kelompok rentan, mengingat gelombang panas diperkirakan akan semakin sering terjadi dengan suhu yang semakin ekstrem pada masa mendatang.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar