Mabur.co – Beberapa waktu belakangan, dunia pendakian kembali dibuat ramai dengan munculnya polemik pembukaan jalur pendakian Gunung Merapi.
Setelah hampir delapan tahun ditutup, masyarakat lereng Merapi khususnya di wilayah dusun Plalangan, Samiran, Selo, Boyolali, mendesak agar pendakian kembali dibuka secara terbatas.
Mereka menuntut pembukaan jalur tersebut dengan sejumlah alasan. Selain untuk menggerakkan perekonomian warga sekitar, pembukaan jalur resmi juga diperlukan untuk meminimalisir resiko akibat banyaknya pendaki liar atau pendaki ilegal selama ini.
Di sisi lain, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sendiri bersikukuh untuk tetap menutup jalur demi keselamatan seluruh pihak.
Mengingat saat ini status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga) berdasarkan rekomendasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Polemik pembukaan jalur pendakian Gunung Merapi ini sendiri mencuat setelah muncul berbagai unggahan di media sosial yang mengabarkan jalur pendakian Merapi akan kembali dibuka oleh warga.
Salah satu sosok yang gencar mendorong pembukaan jalur pendakian Gunung Merapi ini adalah Bakat Setiawan, seorang warga lokal yang juga dikenal sebagai relawan SAR Barameru di kawasan Lereng Merapi.
Ia melalui akun Instagramnya @Laharbara kerap memposting sejumlah narasi yang mendorong agar pihak TNGM segera membuka kembali jalur pendakian resmi Gunung Merapi via Selo Boyolali.
Ia bersama sejumlah warga lokal lainnya termasuk komunitas lereng Merapi, juga telah merancang skema pembukaan terbatas dengan sejumlah aturan ketat.
Diantaranya pendakian hanya diperbolehkan sampai kawasan Pasar Bubrah, durasi pendakian dibatasi maksimal 24 jam, hingga seluruh pendaki wajib didampingi pemandu resmi.
Menurut warga, skema tersebut dinilai mampu menjadi jalan tengah antara aspek keselamatan dan pemulihan ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada aktivitas wisata pendakian Gunung Merapi.
Pada unggahan terakhirnya pada Rabu (01/07/2026) hari ini Lahar Bara bahkan telah memposting video yang menunjukkan adanya rombongan warga lereng Gunung Merapi berjumlah hampir 50-an orang mendaki dan berada di kawasan Pasar Bubrah.
Pendakian itu mereka lakukan sebagai bagian persiapan untuk melakukan pembukaan jalur pendakian mandiri. Dalam postingan yang viral itu, mereka bahkan siap menawarkan pendampingan bagi masyarakat yang ingin mendaki Gunung Merapi.
“Kami warga lereng Merapi via Selo siap mendampingi pendakian anda dengan nyaman dan penuh pengalaman,” ujar salah seorang warga.
Meski warga lereng Gunung Merapi nekat untuk membuka jalur pendakian secara mandiri, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sendiri menegaskan jalur pendakian Gunung Merapi masih ditutup hingga waktu yang belum ditentukan.
Hal itu disampaikan melalui siaran pers tertanggal 29 Juni 2026 sebagai respons atas maraknya konten media sosial yang mengajak masyarakat melakukan pendakian maupun mengabarkan pembukaan jalur Merapi.
Lewat surat resmi yang diunggah di akun Instagram @btn_gn_merapi, TNGM menegaskan, pendakian telah tidak direkomendasikan sejak 22 Mei 2018 dan hingga kini status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga) sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)/BPPTKG.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 19–25 Juni 2026, BPPTKG menyatakan aktivitas Merapi masih tergolong tinggi dengan erupsi efusif dan suplai magma yang terus berlangsung.
Kondisi tersebut masih berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas di sektor selatan-barat daya dan tenggara.
Selain itu, lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif diperkirakan masih dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak, sehingga jalur pendakian melalui New Selo hingga Pasar Bubrah dan puncak dinilai berada dalam kawasan yang membahayakan keselamatan pendaki.
TNGM menegaskan penutupan jalur pendakian dilakukan semata-mata untuk mematuhi rekomendasi otoritas vulkanologi sekaligus menjaga keselamatan masyarakat.
Meski demikian, beberapa jalur wisata alam atau soft trekking, seperti Objek Wisata Alam (OWA) Kalitalang, tetap dapat dikunjungi karena berada di luar radius bahaya.
Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya terkait pembukaan pendakian dan selalu mengikuti informasi resmi dari BPPTKG maupun TNGM.

