Mabur.co – Di tengah gegap gempita euforia Piala Dunia 2026, kabar duka justru datang menyelimuti dunia sepak bola Palestina.
Hal itu setelah penjaga gawang Timnas Palestina, Saleem Al-Ashqar, dilaporkan tewas akibat ditembak pasukan bersenjata Israel dalam sebuah operasi militer di Gaza.
Kematian Al-Ashqar dikonfirmasi oleh Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) dan turut diberitakan Al Jazeera pada Kamis (2/7/2026).
Dilansir dari media Gulfnews, Saleem meninggal hanya lima bulan setelah menikah. Ia meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung anak pertama mereka.
Picu Duka Mendalam
Kematian Saleem Al-Ashqar memicu duka mendalam di kalangan komunitas sepak bola Palestina. Berbagai penghormatan mengalir di media sosial, mengenang karirnya yang berakhir tragis.
Tak hanya itu kematian Saleem juga menambah panjang daftar pesepak bola Palestina yang menjadi korban konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina di wilayah tersebut.
Menurut PFA, hingga saat ini sudah lebih dari 1.000 atlet Palestina meninggal sejak perang di Gaza kembali meningkat pada Oktober 2023. Korban tidak hanya berasal dari kalangan pemain sepak bola, tetapi juga pelatih, wasit, hingga berbagai pegiat olahraga lainnya.
Selain menewaskan puluhan ribu warga Palestina, konflik itu juga menghancurkan berbagai infrastruktur termasuk fasilitas olahraga seperti stadion, lapangan latihan, dan fasilitas olahraga yang selama ini menjadi tempat pembinaan atlet muda.
Kematian Saleem Al-Ashqar juga mengingatkan atas peristiwa kematian mantan pemain Timnas Palestina lainnya yang juga gugur akibat konflik.
Pada Agustus 2025 lalu, mantan pemain tim nasional Palestina Suleiman Al-Obeid, yang dijuluki “Pele Palestina”, juga dilaporkan tewas akibat tembakan Israel di Jalur Gaza.
Dalam keterangannya saat itu, Asosiasi Sepak Bola Palestina menyebut penyerang berusia 41 tahun tersebut menjadi korban ketika pasukan Israel menargetkan warga yang sedang menunggu bantuan kemanusiaan di Gaza bagian selatan.
Kematian Suleiman Al-Obeid sempat memicu perhatian dunia sepak bola internasional, termasuk bintang Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah. Salah mempertanyakan unggahan belasungkawa yang dibuat UEFA di media sosial X.
UEFA saat itu menulis, “Selamat tinggal Suleiman Al-Obeid, ‘Pele Palestina’. Seorang talenta yang memberi harapan kepada banyak anak, bahkan di masa-masa tergelap.”
Merespons unggahan tersebut, Salah pun mempertanyakan penyebab kematian sang pemain.
“Bisakah Anda memberi tahu kami bagaimana dia meninggal, di mana, dan mengapa?” tulis Mohamed Salah melalui akun X miliknya.
Pernyataan itu kemudian menjadi sorotan luas dan memicu diskusi mengenai dampak konflik terhadap dunia olahraga.
Di saat jutaan penggemar menikmati kemeriahan Piala Dunia 2026, sepak bola Palestina kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Akankan peristiwa ini dianggap sebagai “sesuatu” yang penting dalam gelaran ajang turnamen sepakbola terbesar Piala Dunia 2026? Baik itu oleh FIFA, tim peserta, pemain ataupun para suporter masing-masing negara? ***

