Miris, Peringati HUT ke-104, Taman Muda Tamansiswa Hanya Peroleh 5 Siswa Baru

6 Min Read
Stage area of a campus with red-and-white drapes, two flagpoles (Indonesia flags) and a banner reading TAMANSISWA; festive flower arrangements surround the entrance.
Perguruan Tamansiswa di Jalan Tamansiswa Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Setiap 3 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Tamansiswa, perguruan pendidikan yang didirikan Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Perguruan yang menjadi tonggak lahirnya pendidikan nasional itu kini telah memasuki usia lebih dari satu abad.

Namun di balik sejarah dan nama besarnya, Tamansiswa kini justru tengah menghadapi kenyataan yang memprihatinkan. 

Jumlah murid terus menyusut dari tahun ke tahun, bahkan di beberapa jenjang pendidikan hanya tersisa puluhan siswa.

Kondisi tersebut menjadi ironi bagi sekolah yang melahirkan filosofi pendidikan “Tut Wuri Handayani” yang hingga kini menjadi semboyan dunia pendidikan Indonesia.

Di kompleks Perguruan Tamansiswa yang berada di Jalan Tamansiswa, Kota Yogyakarta, masih berdiri lengkap berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Taman Indria (TK), Taman Muda (SD), Taman Dewasa (SMP), Taman Madya (SMA), Taman Karya (SMK), hingga Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

Namun, suasana sekolah tidak lagi seramai masa kejayaannya. Di Taman Muda atau setingkat sekolah dasar misalnya, jumlah siswa yang belajar di tahun ajaran terakhir hanya sekitar 48 orang. Jumlah itu mencakup seluruh siswa dari kelas I hingga kelas VI.

Rinciannya terdiri atas 6 siswa kelas I, 5 siswa kelas II, 4 siswa kelas III, 11 siswa kelas IV, dan 17 siswa kelas VI yang kini telah lulus.

Sementara itu, hingga menjelang tahun ajaran baru 2026/ 2027 ini, jumlah calon siswa yang mendaftar baru mencapai 5 orang.

Kondisi itu jelas sangat memprihatinkan. Mengingat nama Tamansiswa dikenal luas di seluruh Indonesia sebagai perguruan yang didirikan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara.

Ajaran kepemimpinannya sangat terkenal, yakni “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani“, yang berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.

Jumlah Murid Terus Menurun

Pamong atau guru Tamansiswa, Nyi Eni Setyo dan Nyi Yustina Surani, menyebut penurunan jumlah siswa di sekolah Taman Muda ini sudah berlangsung cukup lama.

Menurut mereka, selama sekitar satu dekade terakhir jumlah siswa terus mengalami penurunan meski sekolah rutin melakukan berbagai promosi.

“Kita tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Padahal kita juga rutin melakukan berbagai promosi,” ujar mereka.

Fenomena tersebut, menurut para pamong, sebenarnya juga dialami sejumlah sekolah lain, termasuk beberapa sekolah negeri yang bukan kategori favorit.

Namun, kondisi Tamansiswa terasa lebih memprihatinkan mengingat sekolah ini memiliki sejarah panjang dan nama besar dalam dunia pendidikan nasional.

Di sisi lain, sejumlah sekolah favorit maupun sekolah berbasis agama justru selalu kebanjiran peminat setiap tahun. Bahkan ada salah satu sekolah swasta di Jogja yang untuk bisa masuk harus antre mendaftar hingga bertahun-tahun.

Perubahan Pola Pikir Masyarakat

Para pamong menduga perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu penyebabnya. Banyak orang tua kini lebih memilih sekolah yang dianggap unggul secara akademik atau memiliki basis pendidikan agama yang kuat.

Blue two-story building with a sign reading 'TAMAN MUDA' amid trees in a sunny courtyard near a scooter.
Suasana di Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa (Foto: JH Kusmargana)

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Tamansiswa tidak menjadikan nilai akademik sebagai tujuan utama pendidikan.

Sekolah ini tetap menggunakan kurikulum nasional, tetapi menerapkan ajaran Ki Hajar Dewantara melalui Sistem Among, yaitu konsep pendidikan yang menempatkan guru sebagai pendamping dalam proses tumbuh kembang anak.

Di Tamansiswa, guru tidak disebut guru, melainkan pamong. Tugas pamong bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan mendampingi setiap anak menemukan potensi terbaik dalam dirinya.

Sistem pembelajaran berlandaskan konsep kodrat alam, kodrat zaman, kemerdekaan belajar, serta keseimbangan antara olah rasa, olah cipta, olah karya, dan olah pikir.

“Di dinas sekarang disebut pembelajaran mendalam, tetapi di Tamansiswa sejak dulu dikenal sebagai Sistem Among,” ujarnya kepada mabur.co, Kamis (2/7/2026).

Tidak Menuntut Anak Pintar

Dalam praktiknya, di Tamansiswa siswa tidak dipaksa harus unggul di semua mata pelajaran. Jika seorang anak tidak menyukai matematika, misalnya, sekolah tidak memaksanya menjadi ahli matematika. 

Sebaliknya, pamong akan membantu menggali bakat lain yang dimiliki, baik di bidang seni, olahraga, musik maupun kemampuan lainnya. Karena bagi Tamansiswa, setiap anak memiliki jalan hidup dan potensi yang berbeda.

Selain pembelajaran di kelas, Tamansiswa juga mempertahankan berbagai pelajaran budaya yang kini mulai jarang ditemukan di sekolah lain.

Anak-anak dikenalkan pada dolanan tradisional, tembang Jawa, karawitan, drama, hingga berbagai permainan tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Menurut para pamong, seluruh kegiatan tersebut bertujuan menanamkan nilai kebersamaan, gotong royong, sopan santun, serta kecintaan terhadap budaya bangsa sebagaimana diajarkan Ki Hajar Dewantara.

Sekolah ini juga menerima siswa dari berbagai latar belakang ekonomi, baik keluarga mampu maupun kurang mampu. Termasuk siswa dengan berbagai latar belakang agama atau keyakinan apapun.

Berharap Kembali Menjadi Pilihan Masyarakat

Di tengah semakin ketatnya persaingan dunia pendidikan, Tamansiswa berharap bisa kembali mendapat kepercayaan masyarakat. Para pamong meyakini nilai-nilai pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara tetap relevan hingga saat ini, terutama dalam membentuk karakter generasi muda.

Momentum Hari Lahir Tamansiswa tahun ini pun menjadi pengingat bahwa perguruan yang pernah menjadi pelopor pendidikan nasional tersebut kini tengah menghadapi tantangan besar untuk bertahan.

Di usia lebih dari satu abad, Tamansiswa berharap dapat kembali menjadi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan peserta didik, tetapi juga menjalankan cita-cita Ki Hajar Dewantara untuk memanusiakan manusia melalui pendidikan yang merdeka dan berkarakter.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar