“Pentas Rebon” Taman Budaya Yogyakarta Wujudkan Komitmen Pelestarian Tradisi

4 Min Read
Actor in an orange shirt grimaces while gripping vertical bars of a metal cage on a dimly lit stage, conveying distress.
Suasana pementasan Dagelan Mataram "Ghost In Cell" (Foto: Kanal YouTube Taman Budaya Yogyakarta)

Mabur.co – Bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY kembali digelar apresiasi seni, khususnya seni peran atau teater, melalui pertunjukan spesial bertajuk “Pentas Rebon Taman Budaya Yogyakarta” diselenggarakan di Concert Hall TBY, Rabu (1/7/2026).

Tiga pertunjukan utama yang tersaji dalam keseluruhan rangkaian acara, terbagi dalam seni tradisi, komedi, dan teater kontemporer.

Dilansir dari kanal YouTube Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (1/7/2026), berikut adalah sinopsis dari masing-masing pertunjukan tersebut, beserta pesan moral yang terkandung dari setiap cerita yang dibawakan.

1. Kethoprak “Suluk Kang Pungkasan”

Performer sitting on the stage floor in colorful patterned pants and a white sleeveless shirt, gesturing with one hand near a covered prop table.
Suasana pementasan Kethoprak “Sulung Kang Pungkasan” (Foto: kanal YouTube Taman Budaya Yogyakarta)

Pertunjukan kethoprak yang satu ini mengangkat kisah sejarah yang mendalam mengenai sosok Ki Panjang Mas.

Sosok Ki Panjang Mas dalam cerita ini digambarkan sebagai sosok yang selalu mengabdi kepada kerajaan Mataram, khususnya dengan raja Amangkurat I.

Kisah ini kemudian berakhir klimaks, ketika sang raja, Amangkurat I, merasa sangat sedih dan hampir gila setelah kematian Retno Gumilang, yang merupakan istri dari Ki Panjang Mas. Amangkurat pun rela menunggu jasad Retno yang membusuk di atas bukit Gunung Kelir.

Akhirnya, sang raja bermimpi bahwa Retno Gumilang telah bersatu kembali dengan suaminya, Ki Panjang Mas, namun bukan dalam wujud manusia lagi. Hingga akhirnya, Retno Gumilang pun dimakamkan tidak jauh dari makam Ki Panjang Mas.

Melalui pertunjukan ini, para penonton diajak untuk memahami nilai-nilai moral, tantangan melaksanakan kepemimpinan, dan kesetiaan kepada penguasa, yang dikemas melalui drama kethoprak yang menyajikan tontonan, tatanan, sekaligus tuntunan kepada masyarakat.

2. Dagelan Mataram “A Ghost In Cell”

Two performers sit on a stage: a smiling woman with a woven bag, and a serious man in an orange shirt, during a theatre scene.
Suasana pementasan Dagelan Mataram “Ghost In Cell” (Foto: kanal YouTube Taman Budaya Yogyakarta)

Lakon komedi yang satu ini menceritakan kehidupan narapidana (napi) di dalam penjara dengan perspektif yang unik dan menggelitik.

Kisahnya bermula dari stigma sosial yang melekat pada narapidana, namun alurnya kemudian dibelokkan menjadi sebuah komedi satir yang menghibur.

Cerita ini mengeksplorasi kehidupan para napi, yakni Agus, Teguh, dan Hanafi, dengan segala tingkah polah mereka yang lucu, serta mencerminkan kritik sosial terhadap realitas kehidupan saat ini.

Melalui dialog jenaka dan spontan khas Dagelan Mataram, ketiga napi ini mengajak penonton untuk merenung di balik tawa, dan melihat bahwa di balik jeruji besi pun terdapat dinamika manusiawi yang sarat akan pesan tentang kehidupan.

3. Teater “Penggali Kubur”

Man on a dark stage with both arms raised under blue spotlight, performing a theatrical gesture. A table with props sits behind him.
Suasana pementasan Teater “Penggali Kubur” (Foto: kanal YouTube Taman Budaya Yogyakarta)

Pertunjukan teater yang satu ini mengangkat tema kemanusiaan dan sejarah kelam, yang berusaha dikubur sedalam-dalamnya oleh rezim penguasa.

Cerita ini bermula di sebuah pemakaman desa, saat para penggali kubur sedang menyiapkan liang lahat untuk jenazah pria bernama Mulyono.

Kemudian secara tidak sengaja, cangkul mereka mengenai benda ganjil, yaitu sepasang sepatu lars yang berada di atas tengkorak manusia, yang sudah dalam kondisi pecah.

Penemuan ini lantas memicu kegelisahan kolektif, serta memanggil arwah-arwah yang telah gugur di masa lalu, mulai dari korban pembantaian hingga serdadu militer, yang suara-suaranya pernah dibungkam oleh rezim kekuasaan.

Melalui dialog yang absurd, satir, dan dibalut dengan ritual khas panggung, pertunjukan ini menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, guna menegaskan bahwa kematian bukan sekadar peristiwa di kalangan keluarga semata, melainkan juga sebuah arena yang mampu mengungkap kebenaran yang selama ini ditimbun rapat-rapat.

***

Pertunjukan semacam ini akan kembali digelar pada dua bulan ke depan (September), sebagai bagian dari pelestarian seni, memberi wadah bagi para seniman di DIY, sekaligus sebagai regenerasi para sineas muda yang ada di DIY, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar