Tren ‘Marriage is Scary’ di Mata Gen Z, Nikah Muda Bukan Prioritas

3 Min Read
Couple exchanging rings at a wedding table, hands joined near a bouquet and glassware on a decorated table.
Tren marriage is scary viral di media sosial. Tren ini menggambarkan pernikahan yang menakutkan apabila tidak menemukan pasangan yang tepat. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co– Tren marriage is scary viral di media sosial. Tren ini menggambarkan pernikahan yang menakutkan apabila tidak menemukan pasangan yang tepat.

Di tengah banyaknya konten tentang perceraian, konflik rumah tangga, perselingkuhan, hingga beban ekonomi setelah menikah, tidak sedikit anak muda yang mulai mempertanyakan apakah pernikahan masih menjadi tujuan yang diinginkan.

Fenomena ini bukan sekadar tren digital. Dalam banyak kasus, rasa takut menikah muncul dari pengalaman sosial, pengamatan terhadap lingkungan sekitar, hingga kekhawatiran pribadi tentang masa depan hubungan.

Di TikTok, istilah ini sering digunakan sebagai caption untuk video yang menampilkan cerita hubungan yang gagal, pengalaman melihat konflik rumah tangga orangtua, atau kekhawatiran tentang pasangan di masa depan.

Banyak kreator menggunakan frasa marriage is scary untuk mengekspresikan dilema: ingin memiliki hubungan yang stabil, tetapi takut menghadapi kemungkinan buruk setelah menikah.

Algoritma media sosial juga membuat konten bertema hubungan mudah tersebar luas, terutama jika mengandung pengalaman emosional yang relatable bagi banyak orang.

Keputusan Penuh Risiko

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Dr. Sri Muliati Abdullah, M.A., M.Psi., mengatakan, Generasi Z melihat pernikahan sebagai keputusan yang penuh risiko.

Penyebabnya karena gen Z banyak terpapar berita pernikahan yang gagal di medsos. Gagal karena selingkuh, KDRT, konflik dengan mertua, kecemasan ekonomi karena situasi kerja yang tidak pasti.

“Gen Z tidak ingin menikah semata-mata karena usia atau norma sosial, mereka menunggu mendapatkan pasangan yang nyaman, komunikatif sefrekuensi. Namun demikian marriage is scary ini, tidak selalu berarti Gen Z anti-menikah. Mereka ingin pernikahan yang sehat, setara, aman, dan realistis,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).

Portrait of a smiling woman wearing an orange hijab, glasses, and a black blazer with a decorative pin against a dark background.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas  Mercu Buana Yogyakarta, Dr. Sri Muliati Abdullah, M.A., M.Psi. (Foto: Dok Pribadi)

Sri Muliati menekankan bahwa perubahan sosial memengaruhi pandangan Gen Z terhadap pernikahan.

”Karena memang zaman sudah berubah, perubahan sosial, sama pengalaman individu mengalami perubahan, orang memandang perkawinan itu sesuatu yang kompleks,” ucapnya.

Sementara itu, Cici, warga Umbulharjo, Kota Yogyakarta, mengatakan, menargetkan menikah di umur 30-an. 

Kesiapan finansial dan kemampuan memimpin keluarga menjadi faktor penting bagi laki-laki.

“Saya pribadi ingin nikahnya di umur 30-an karena mempertimbangkan beberapa kondisi. Mulai dari finansial dan keluarga. Selain itu, saya juga mempertimbangkan kemampuan sebagai kepala keluarga, karena kami laki-laki harus prepare semuanya,” ujarnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar