Sistem Among, Model Pendidikan Warisan Ki Hajar Dewantara, Utamakan Proses Belajar Bukan Hasil

4 Min Read
Ki Hajar Dewantara adalah pahlawan nasional yang memiliki peran besar bagi pendidikan Indonesia. Jasanya di bidang pendidikan, membuatnya diberi gelar Bapak Pendidikan Indonesia. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Sebagai salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia, Perguruan Tamansiswa tetap setia mempertahankan konsep pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara hingga saat ini.

Di tengah banyaknya sekolah yang berlomba menerapkan sistem pendidikan modern dengan orientasi pada capaian akademik dan hasil belajar, Tamansiswa justru mempertahankan pendekatan yang lebih menitikberatkan pada proses tumbuh kembang siswa.

Konsep tersebut dikenal sebagai Sistem Among, sebuah pendekatan pembelajaran yang menempatkan anak sebagai subjek utama pendidikan, yakni manusia merdeka yang tumbuh sesuai potensi, minat, dan bakatnya masing-masing.

Dalam bahasa Jawa, “among” berarti mengasuh, merawat, atau menjaga. Filosofi itulah yang diterapkan dalam proses pendidikan di Tamansiswa. Guru tidak disebut sebagai guru, melainkan pamong, yakni sosok yang bertugas mendampingi, membimbing, sekaligus menjadi teladan bagi setiap siswa.

Pamong tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membantu anak mengenali karakter, minat, bakat, serta potensi terbaik yang dimilikinya.

Bagi Tamansiswa, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai rapor atau prestasi akademik. Lebih dari itu, pendidikan dipandang sebagai proses menuntun anak agar mampu berkembang sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.

Sistem Among Kedepankan Kemerdekaan Belajar

Pamong Tamansiswa, Nyi Eni Setyo, menjelaskan bahwa Sistem Among pada dasarnya mengedepankan kemerdekaan belajar.

Dalam praktiknya, setiap anak dipandang sebagai pribadi yang unik sehingga tidak semua siswa harus unggul pada mata pelajaran yang sama.

Menurutnya, apabila seorang anak mengalami kesulitan dalam mata pelajaran matematika, tetapi memiliki bakat di bidang seni, olahraga, atau musik, maka sekolah akan membantu mengembangkan kemampuan tersebut, bukan memaksanya menguasai seluruh bidang secara sama rata.

 “Setiap anak memiliki jalan hidup yang berbeda. Tugas pamong bukan memaksakan semua anak menjadi sama, tetapi membantu mereka menemukan potensi terbaiknya. Kita hanya menemani dan mendampingi,” ujarnya.

Filosofi tersebut sejalan dengan ajaran Ki Hajar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan harus menuntun, bukan memerintah atau memaksa. Guru diibaratkan sebagai orang yang menyiram dan memupuk tanaman agar dapat tumbuh subur sesuai kodrat dan karakter masing-masing.

Empat Unsur Utama Sistem Among

Dalam Sistem Among, proses pembelajaran berpijak pada empat unsur utama, yaitu olah pikir, olah rasa, olah karya, dan olah cipta.

Keempat aspek tersebut harus berkembang secara seimbang agar siswa tumbuh menjadi manusia yang utuh, tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, sosial, serta memiliki karakter yang kuat.

Konsep ini juga berlandaskan prinsip kodrat alam dan kodrat zaman.

Kodrat alam mengajarkan bahwa pendidikan harus memperhatikan karakter, lingkungan, serta kondisi tempat anak tumbuh.

Sementara kodrat zaman menekankan bahwa pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri maupun nilai-nilai budaya bangsa.

Karena itu, Tamansiswa hingga kini masih mempertahankan berbagai pembelajaran berbasis budaya, seperti dolanan tradisional, tembang Jawa, karawitan, drama, hingga permainan tradisional yang mengajarkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan kepada sesama.

Bagi Tamansiswa, kegiatan budaya tersebut bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan bagian penting dalam membentuk karakter siswa.

Seluruh filosofi itu sejalan dengan semboyan Ki Hajar Dewantara yang sangat terkenal, yakni “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Artinya, di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.

Prinsip tersebut hingga kini masih menjadi pedoman setiap pamong Tamansiswa dalam mendampingi siswa.

Pamong tidak mendominasi proses belajar, melainkan hadir sebagai pendamping yang memberi ruang kepada setiap anak untuk tumbuh, belajar, dan menemukan jalan hidupnya sesuai kemampuan, minat, dan cita-citanya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar