Mabur.co – Tim nasional Swiss menjadi kejutan usai tampil apik dan berhasil mencatatkan sejarah di ajang Piala Dunia 2026.
Setelah penantian selama 72 tahun, Swiss akhirnya berhasil melangkah ke babak perempat final usai menyingkirkan Kolombia melalui drama adu penalti pada babak 16 besar.
Bermain di Stadion BC Place, Vancouver, Kanada, Swiss memastikan tiket ke delapan besar melalui adu pinalti setelah dipaksa bermain imbang 0-0 di sepanjang waktu normal serta babak perpanjangan waktu.
Keberhasilan ini pun menjadi pencapaian bersejarah bagi Swiss. Bagaimana tidak, terakhir kali mereka mencapai babak perempat final Piala Dunia terjadi pada tahun 1954.
Keberhasilan ini pun membawa Swiss melaju ke babak perempat final untuk menghadapi juara bertahan Argentina pada Minggu (12/7/2026) mendatang.
Budaya Swiss Alat Musik Alphorn
Di balik pencapaiannya di lapangan hijau, masyarakat Swiss selama ini dikenal dengan budaya yang sangat unik dan khas.
Salah satunya adalah alat musik Alphorn, terompet kayu tradisional khas Pegunungan Alpen yang telah menjadi simbol budaya Swiss selama berabad-abad.
Dalam gelaran Piala Dunia 2026 ini, para suporter Timnas Swiss kerap membawa dan meniup alphorn untuk memberikan dukungan kepada tim kesayangannya.
Ukuran alat musik ini cukup besar, suara khasnya sering terdengar di area sekitar stadion, maupun menjelang kick off untuk membangkitkan semangat para pendukung.
Meski tidak sampai dibawa masuk ke dalam area tribun stadion, kehadiran alat musik tradisional yang dimainkan para suporter ini pun menjadi daya tarik tersendiri. Karena menjadi bagian budaya masyarakat Swiss yang dikenalkan kepada seluruh dunia.
Alat Musik Tiup Kayu
Dikutip Reuters dan The Guardian, Rabu (8/7/2026), Alphorn sendiri merupakan alat musik tiup yang terbuat dari kayu dengan panjang lebih dari tiga meter, bahkan bisa mencapai sekitar empat meter.
Pada masa lampau, alat musik ini kerap digunakan para penggembala di Pegunungan Alpen untuk memanggil ternak, atau berkomunikasi dengan desa-desa di seberang lembah, hingga menjadi penanda datangnya malam.
Hal itu karena suaranya yang keras dan bergema sehingga mampu menjangkau jarak hingga beberapa kilometer di kawasan pegunungan.
Hingga kini tradisi memainkan alphorn masih terus dilestarikan masyarakat di Swiss. Setiap tahun, Festival Alphorn Internasional bahkan rutin digelar.
Festival ini diikuti ratusan pemain alphorn dari berbagai wilayah dan menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Swiss.
Berbeda dengan terompet modern, alphorn tidak memiliki katup sehingga hanya menghasilkan nada-nada alami dari deret harmonik.
Karakter inilah yang menciptakan suara lembut, hangat, dan bergema, yang menjadi ciri khas musik tradisional Swiss.
Keberhasilan Swiss melaju ke babak perempat final dalam ajang sebesar Piala Dunia kali ini pun menjadi kesempatan besar mengenalkan alphorn sebagai identitas budaya masyarakat Swiss ke berbagai belahan penjuru dunia.

