Kain Tak Hanya Pelindung Tubuh, Kain bagi Leluhur Penanda Kehadiran di Dunia

9 Min Read
Three men seated in a seminar room pose for a photo; wood-paneled walls and a projection screen visible in the background.
Dari kiri ke kanan: Agni Malagina, S.S., M.Hum, Founder Kesengsem Lasem, Kepala Museum Batik Lasem, Prof. Matthew Isaac (Profesor dari University of Connecticut), dan Daniel Haryono, B.A., M.Hum, Direktur Museum Ullen Sentalu. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Semenjak keberadaan masyarakat kuno Nusantara, kain bermakna melebihi fungsi pelindung tubuh semata. Kain bagi para leluhur adalah penanda kehadiran mereka di dunia ini.

Kain membalut tubuh dalam keseharian, saat berladang, melaut, bersembahyang, bermain, berpesta, hingga berduka.

Group of diverse people standing together for a group photo at an indoor event, many in batik and with lanyards in a conference room setting.
Para peserta seminar berfoto bersama dengan narasumber. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Kain pun membungkus raga mulai menyambut kelahiran baru, hingga ujung hayat disemayamkan bersama bumi. Kain diwarisi dari satu generasi ke generasi yang baru, tersimpan di dalam lipatannya, doa, harapan dan segenap pengetahuan tentang bernilainya silsilah kehidupan. Kain mengendapkan pengetahuan tentang masa lalu, sekaligus pesan keterhubungan hingga di masa yang akan datang.

Sebagai bagian dari rangkaian Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 yang bertajuk “Nusa Wastra Living Patterns of Nusantara,” Museum Negeri Sonobudoyo, Selasa (7/7/2026), menyelenggarakan Seminar “Wastra Bercerita, Kisah di Balik Kain-kain Tradisional Nusantara”.

Acara di Gedung Panji, Museum Negeri Sonobudoyo Unit 1 tersebut menghadirkan ahli di bidangnya yakni, Prof. Matthew Isaac (profesor dari University of Connecticut) yang membahas mengenai wayang, zodiak beker, dan gringsing.

Kemudian Daniel Haryono, B.A., M.Hum (Direktur Museum Ullen Sentalu) yang membahas batik di Jawa dan pengaruhnya dari India serta Cina. Lalu Agni Malagina, S.S., M.Hum (Founder Kesengsem Lasem dan Kepala Museum Batik Lasem) yang membahas hikayat akulturasi dalam kain batik pesisiran.

Direktur Museum Ullen Sentalu, Daniel Haryono, B.A., M.Hum, mengatakan, batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII. Ditulis dan dilukis pada daun lontar.

Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman, lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber, dan sebagainya.

“Melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini,” ucapnya, Selasa (7/7/2026).

Sejarah Batik Terkait Majapahit

Daniel mengatakan, sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya.

Pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

“Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing,” ucapnya.

Daniel menjelaskan, sebelum kebudayaan Jawa atau dalam arti luas Indonesia mendapat pengaruh dari India, bangsa Indonesia telah mengenal 10 butir budaya asli atau local culture. Di antara 10 butir itu adalah membatik.

“Datangnya pengaruh kebudayaan India sekitar abad ke-4 atau ke-5 Masehi, membawa dampak pula pada kebudayaan Jawa. Kebudayaan India antara lain memperkaya variasi motif desain ragam hias yang ada, yang dapat dilihat di relief candi-candi.

Pengaruh tersebut menyebabkan motif-motif batik juga berkembang. Sebelum masuknya pengaruh India, batik mempunyai tiga macam motif dasar yaitu motif geometrik berupa garis-garis, baik garis lurus, lengkung, maupun pengulangan garis, lalu motif flora atau tumbuh-tumbuhan, dan motif binatang.

Berarti yang namanya membatik dari sisi teknologi itu secara hipotetis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia pada masa-masa sebelum pengaruh kebudayaan India datang di Indonesia. Sebelum abad ke-4 atau ke-5,” ucapnya.

Profesor dari University of Connecticut, Prof. Matthew Isaac menjelaskan, zodiak beker berasal dari Suku Tengger, yang secara lokal dikenal sebagai prasèn. Wadah perunggu kuno yang memuat ukiran rasi bintang zodiak dan lambang pewayangan.

“Benda bersejarah ini terkait erat dengan sistem kalender tradisional Tengger dan dipercaya sebagai warisan spiritual dari zaman Majapahit,” katanya.

Budaya Kuno Bali

Matthew mengatakan, sedangkan kain gringsing merupakan salah satu warisan budaya kuno Bali yang sampai saat ini masih bertahan eksistensinya.

Kain Gringsing sendiri merupakan satu-satunya tenun ikat ganda asal Indonesia.

“Gringsing diambil dari 2 kata, yaitu gring yang berarti sakit dan sing yang berarti tidak. Secara harfiah, kain gringsing dimaknai sebagai kain magis yang membuat pemakainya terhindar dari hal-hal buruk. Konon, kain gringsing merupakan pemberian Dewa Indra. Dewa pelindung manusia dalam agama Hindu,” katanya.

Matthew menjelaskan, kain gringsing dipercaya mengandung kesaktian Dewa Indra yang mampu menyembuhkan penyakit. Kain tenun gringsing termasuk sebagai kain tenun yang langka. Penguasaan teknik tenun gringsing hanya dapat ditemukan di tiga tempat dunia, yaitu India, Jepang, dan Indonesia.

Mathhew mengatakan, keduanya sampai sekarang masih dipercayai di Bali dan Tengger  di Jawa Timur yang digunakan untuk upacara.

“Kedua-duanya merupakan produk dari zaman Majapahit,” katanya.

Matthew mengatakan lagi, sedangkan wayang adalah salah satu bentuk seni tradisional yang berasal dari Indonesia. Kesenian wayang meliputi seni pertunjukan, seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan seni perlambang.

“Wayang kulit adalah salah satu bentuk wayang yang paling terkenal. Wayang kulit aslinya ditemukan dalam budaya Jawa dan Bali di Indonesia. Pertunjukan wayang kulit seringkali berkaitan dengan tema utama kebaikan melawan kejahatan,” katanya.

Sementara itu, Founder Kesengsem Lasem dan Kepala Museum Batik Lasem, Agni Malagina, S.S., M.Hum, mengatakan, hikayat akulturasi dalam wastra itu terjadi sangat intens karena pertukaran budaya. Di mana Indonesia dulu Nusantara itu negara silang budaya karena perairan dilewati banyak bangsa dalam jalur maritim.

“Akulturasi dalam wastra itu sangat nyata, tidak hanya dalam motif sebenarnya tapi  bagaimana rantai nilai pembuatan kain batik itu sebenarnya juga sudah akulturasi dari awal. Mulai dari bahannya impor kain dari Inggris, dari India, kemudian dipekerjakan oleh siapa saja artisannya, pemiliknya, motif-motifnya yang diserap dari mana-mana. Kemudian menjadi motif yang dipadukan dengan motif lokal bermotif pedalaman, keraton, ada Tionghoa, Eropa, muslim, Jawa, dan seterusnya itu menjadi sebuah cerita akulturasi,” ucapnya.

Agni mengatakan, belum lagi bicara aspek hilir, di mana kemudian dipasarkan, disalurkan ke berbagai wilayah Nusantara dan negara-negara sekitar di Asia Tenggara. Bagaimana kemudian kebudayaan berkain batik itu dilakukan di Malaysia, di Singapura, ini sebuah kisah akulturasi yang patut dirayakan di acara pameran wastra.

“Saat ini generasi muda bisa menyukai kain atau wastra atau tekstil Indonesia tradisional. Perlu kita dorong karena sebagai warisan budaya takbenda ada pesan bagaimana kita mentransmisikan nilai penting,” katanya.

Pelestarian dan Edukasi Batik Pesisir Jawa

Agni mengatakan pula, Museum Batik Lasem merupakan salah satu museum khusus yang berperan penting dalam pelestarian dan edukasi batik pesisir Jawa. Khususnya batik Lasem yang terkenal dengan warna merah khas.

”Kehadiran museum ini memperkaya khazanah budaya Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sekaligus menjadi ruang pembelajaran sejarah batik yang memiliki pengaruh lintas budaya,” katanya.

Agni mengatakan lagi, Museum Batik Lasem adalah museum khusus yang berfokus pada sejarah, motif, dan perkembangan batik Lasem. Khususnya konsep “Tiga Negeri” yang merepresentasikan perpaduan budaya Jawa, Tionghoa, dan Eropa.

“Museum ini menjadi wadah untuk memahami batik tidak hanya sebagai kain, tetapi juga sebagai media ekspresi budaya dan sejarah sosial masyarakat Lasem,” ucapnya.

Agni menjelaskan, Lasem berada di Kabupaten Rembang Jawa Tengah, tepatnya di pantai utara. Dulu salah satu pelabuhan ramai di Lasem juga bagian dari Kerajaan Majapahit paling barat dari wilayah Majapahit dan dipimpin oleh Brelasem.

“Kami punya tradisi yang terkait sama Majapahit dan juga Legong Lasem di Bali. Jadi ini sebuah kisah multikultural yang kemudian muncul dalam kain. Dipercaya oleh warga Lasem bahkan Kabupaten Rembang tentang bagaimana asal-usul batik. Salah satunya ada hubungannya dengan Cheng Ho. Ada tokoh namanya Binangun dengan perempuan istrinya, Nalini dari Campa, yang juga mengajarkan motif-motif batik dan membatik untuk masyarakat lokal sampai kemudian menjadi besar,” ucapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar