Gobel dan Ilomato

2 Min Read
Smiling man in batik shirt seated in an office with an Indonesian Garuda emblem on the wall to his right.
Rachmat Gobel. Foto: rri.co

Ketika melakukan studi tentang Thayeb Muhammad Gobel pada 1994-1997, saya membuat teorisasi bahwa kewiraswastaan tokoh perintis elektronika Indonesia ini adalah keinginan kuat mencapai tempat paling terhormat di dalam sistem sosial Gorontalo.

Itulah yang disebut ‘Ilomato’. Seperti terlihat dalam laporan berjudul ‘Gobel, Budaya dan Ekonomi’ —yang saya tulis bersama Imam Ahmad, Didik J Rachbini, Ketut Mardjana dan Imam Ahmad untuk LP3ES— di bawah marga Gobel relatif tak dikenal dalam gugus kemarahan Gorontalo.

Marga Gobel baru ‘bersinar’ ketika Thayeb berhasil mencetak nama ‘National Gobel’ bagi produk elektronika hasil kerja samanya dengan industriawan Jepang Matsushita akhir 1970-an. Abdul Hamid, ikut serta dalam studi Gobel di atas.

Untuk itulah Thayeb berhak mendapat ‘Ilomato’ —penghargaan tertinggi adat Gorontalo.

Rachmat, putra Thayeb Muhammad Gobel, mengikuti jejak sang ayah —dengan cara sempurna. Di samping tegak pada jalur industrialisasi, Rachmat terjun ke panggung hubungan ekonomi internasional yang menjadi penghubung Indonesia dan Jepang.

Dan, seperti sang ayah yang terjun ke dalam dunia politik melalui PPP, Rachmat mengintegrasikan diri ke dalam Partai Nasdem —pimpinan Surya Paloh. Sejak muda, Paloh memang dekat dengan ayah Rachmat, Thayeb —hampir menjadi ‘anggota keluarga’.

Memperjuangkan HB Jassin Menyandang Gelar Pahlawan Nasional

Puncak karir politik Rachmat adalah menjadi wakil ketua DPR dan Menteri Perdagangan. Dalam posisi pimpinan DPR, Rachmat mengajak saya, Hamid Basyaib, Ridwan Monoarfa dan beberapa lainnya memperjuangkan kritikus sastra HB Jassin memperoleh gelar pahlawan nasional. Seperti ditulis Hamid Basyaib, usaha ini belum berhasil.

Hari ini, Jumat, 10 Juli 2026, saya turut mengantar Rachmat Gobel ke pemakamannya di Kalibata.

Tempat pemakaman ini sekaligus memberi status Ilomato bagi Rachmat. Sebab, ia disemayamkan di taman makam para pahlawan Indonesia.

Bersama Nasihin Masha —penulis beberapa buku tentang Rachmat Gobel— di pemakaman ini, saya merasakan denyut sejarah bagaimana ayah dan anak menemukan jalan ‘Ilomato’ yang sama. Walau berbeda tempat berbaring.

Share This Article
Avatar photo
PENULIS
Cendekiawan Muslim, Tokoh HMI, Peraih Achmad Bakrie Award, Kolomnis
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar