Mabur.co- Salah satu hal penting yang perlu dihargai dari skena budaya di Kota Yogyakarta adalah pembukaan ruang seni.
Ary’s Wabi Sabi Cafe and Gallery menjadi salah satu ruang baru di tengah keberadaan ekosistem seni Indonesia kini.
Pengelola Ary’s Wabi Sabi Cafe and Gallery, Lully Tutus, menuturkan, ide awal membuat kafe sekaligus ada galerinya karena melihat banyak seniman muda yang terutama mau lulus SMSR, mau lulus ISI.
Mereka kesulitan mencari art space yang sesuai, karena rata-rata galeri besar dan mahal.
“Saya pingin bikin tempat yang memang di sini enggak terlalu besar. Tapi bagi mereka itu bisa untuk menjadi tempat pameran yang layak. Mereka juga bisa menemukan tempat yang sesuai dengan budget yang tidak mahal. Terus bisa juga untuk karya-karya kecil,” ujarnya, Jumat (10/7/2026).

Lully mengatakan pula, anak-anak yang mau lulus untuk skripsi biasanya mencari tempat agak susah. Kalau pameran bersama tidak apa-apa, tapi kalau pameran tunggal agak kesulitan buat mereka.
Ruang Apresiasi Karya Anak Muda
“Jadi saya membuat ini untuk mengapresiasi anak-anak muda karena mereka nyari tempat juga tidak gampang. Karena kalau tidak ada nama, setiap galeri tidak mau menerima. Kebanyakan anak-anak ISI dan SMSR. Saat saya tanyakan mereka terkendala budget dengan kondisi zaman sekarang. Kalau pameran bersama bisa patungan. Tapi kalau untuk yang pameran tunggal, mereka tanggung sendiri, kecuali mereka punya sponsor. Kalau mereka belum punya pengalaman nyari sponsor sangat sulit,” katanya.
Menurut Lully, membuka galeri tidak hanya untuk acara yang terkait dengan seni lukis saja. Ke depan akan menghadirkan wayang kulit. Lebih bernilai kebudayaan Jawa.
“Maka saya ingin melestarikan kebudayaan Jawa. Kalau kita tidak peduli budaya bangsa siapa lagi. Karena kalau kita sendiri enggak nguri-uri nanti generasi selanjutnya sudah sangat sulit,” paparnya.

Menurut Lully pula, Wabi Sabi artinya keindahan dalam ketidaksempurnaan. Karena Indonesia sedang diuji-coba sampai sedemikan rupa. Sampai detik ini pun hidup makin sulit. Apa-apa naik, gaji tetap UMR.
“Wabi Sabi itu konsepnya seperti alam. Seperti kayu, batu, bambu, meskipun dia bisa tidak kuat dan rapuh tetapi ada indahnya. Namun kalau dibikin sedemikian rupa dijadikan sesuatu yang sangat indah juga bisa kuat,” ucapnya.
Lully mengatakan, semoga ke depan juga bisa memberi warna event budaya, khususnya di Kota Yogyakarta. Semoga nantinya sampai di ranah global.
Posisi Strategis di Suryodiningratan
Mengingat posisinya juga ada di jalan utama perkembangan seni kontemporer, yakni di sumbu jalan Suryodiningratan, Tirtodipuran.
Di sumbu atau sekitar wilayah ini banyak galeri seni juga. Bagi Indonesia, keberadaan satu galeri saja amatlah penting. Utamanya bagi kesejahteraan seniman dan industri kreatif. Sekaligus bagi citra Kota Yogyakarta sebagai pusat perkembangan seni kontemporer.
Bagi Lully, setidaknya ada lebih dari 70-an ruang seni di Kota Yogyakarta dari yang sifatnya formal akademis, formal bisnis, sampai ruang alternatif di luar formalitas.
“Padahal Kota Yogyakarta berisi lebih dari 10.000 seniman yang terus menyosialisasikan karya-karyanya. Jadi berapa pun penambahan ruang seni adalah kebutuhan pokok bagi perkembangan eksistensi dan kesejahteraan seniman,” ucapnya.

