Mengenal Lebih Jauh “Gerakan Cinta Rupiah”

4 Min Read
A close-up of colorful stacked banknotes fanned out in rows, showing multiple denominations and colors (e.g., euros).
Ilustrasi. Mata uang rupiah (Foto: Mufid Majnun via Unsplash)

Mabur.co – Sejak lama rupiah memang dikenal sebagai salah satu mata uang terlemah di seluruh dunia.

Per hari Minggu saja (12/7/2026), nilai tukar rupiah ke Dollar Amerika Serikat (AS) menyentuh angka Rp18.116, dan menjadi angka terlemah di sepanjang sejarah rupiah.

Oleh sebab itu, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) mulai meluncurkan semacam kampanye khusus, untuk melahirkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mencintai, bangga, sekaligus paham terhadap mata uang rupiah, di tengah berbagai kekurangan yang dimilikinya, termasuk hingga saat ini.

Dikutip dari laman Bank Indonesia, Minggu (12/7/2026), BI bersama pemerintah pun mulai menginisiasi kampanye bernama “Gerakan Cinta Rupiah” (Getar) pada Januari 1998, yang diprakarsai oleh Menteri Sosial di era Orde Baru, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto), sebagai respons atas krisis moneter yang terjadi pada 1997–1998.

Hal ini dilakukan guna menyelamatkan nilai tukar rupiah yang saat itu terus merosot tajam, dengan mengajak masyarakat menukarkan simpanan dollar AS mereka ke dalam bentuk rupiah, yang notabene merupakan mata uang nasional.

Gerakan ini bertujuan untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional, dengan memastikan masyarakat mengenal, merawat, dan menggunakan rupiah secara tepat dalam setiap transaksi di kehidupan sehari-hari.

Adapun “Gerakan Cinta Rupiah” (Getar) memiliki tiga pilar utama, dengan penjelasan sebagai berikut.

1. Cinta Rupiah

Secara umum, “Cinta Rupiah” adalah kemampuan mengenali karakteristik, desain, dan menjaga fisik uang rupiah, agar tidak rusak, dicoret-coret, atau dilipat. Ini juga mencakup kewaspadaan terhadap peredaran uang rupiah palsu di lingkungan masyarakat.

2. Bangga (terhadap) Rupiah

BI juga ingin mengkampanyekan rasa kebanggaan masyarakat terhadap mata uang rupiah dengan menjadikan rupiah sebagai simbol kedaulatan negara yang wajib dihormati.

Selain itu, menggunakan rupiah dalam setiap transaksi juga secara tidak langsung dapat menjaga stabilitas nilai tukar, serta menstabilkan ekonomi nasional.

3. Paham (dengan) Rupiah

Rupiah juga perlu dipahami oleh masyarakat sebagai alat nilai tukar dalam bertransaksi, sehingga harus dibelanjakan secara bijak, dan memahami cara menjaga serta merawat dengan baik. Termasuk soal merawat kestabilan ekonomi nasional melalui mata uang yang satu ini.

Kemampuan ini sangat dibutuhkan oleh setiap warga negara, untuk bisa menciptakan masyarakat yang tidak hanya membelanjakan rupiah dengan seenaknya, tapi juga merawatnya dengan kadar yang semestinya.

***

“Getar” di Era Modern

Jika kemunculan kampanye “Getar” terjadi pada era krisis moneter pada 1997 hingga 1998, maka di era modern saat ini, kampanye yang satu ini lebih menitikberatkan pada kampanye Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah secara spesifik oleh BI.

Fokus utamanya pun ikut bergeser, dari yang awalnya kampanye darurat untuk menyelamatkan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS di masa krisis, kini lebih banyak ditujukan pada panduan literasi keuangan digital, perlindungan kedaulatan ekonomi, dan digitalisasi sistem pembayaran.

Dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat sejak era krisis moneter pada 28 tahun silam, kampanye “Getar” pun ikut menyesuaikan diri, dan tidak lagi kaku pada sosialisasi tentang mata uang rupiah semata.

Melainkan sudah merambah pada aspek-aspek teknis dalam keuangan. Termasuk penggunaan uang digital dan berbagai dampak yang ditimbulkan di dalamnya.

***

Meskipun penerapan kampanye “Getar” terus mengalami perkembangan, namun tetap ada aspek penting yang tidak bisa diubah sampai kapan pun, yakni menerapkan prinsip 5J (Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Dibasahi, dan Jangan Di-stapler).

Prinsip ini memastikan bahwa uang rupiah (fisik) tetap terjaga dan terawat dengan baik, tidak diperlakukan seenaknya oleh sang pemilik. Karena uang rupiah adalah mata uang yang sangat penting, sebagai penjaga stabilitas ekonomi nasional. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar