Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026, Maroko Pernah Abadikan Indonesia dan Sukarno sebagai Nama Jalan

4 Min Read
Street scene with a blue and white street sign reading Rue Soukarno in Arabic and French, over a tree-lined urban avenue with white buildings and parked cars.
Jalan Sukarno di Rabat, Maroko. (Foto: KBRI Indonesia di Rabat)

Mabur.co – Timnas Maroko sukses mencetak sejarah usai memastikan diri lolos ke babak perempat final Piala Dunia 2026 usai menaklukkan tuan rumah Kanada dengan skor telak 3-0 di Stadion Houston, Minggu (5/7) dini hari WIB.

Gelandang Azzedine Ounahi tampil sebagai bintang kemenangan dengan mencetak dua gol, sementara satu gol lainnya dilesahkan Soufiane Rahimi pada masa injury time.

Kemenangan tersebut mengantarkan Maroko mencatatkan rekor sebagai tim di luar Eropa dan Amerika Selatan pertama yang mampu meraih kemenangan terbesar pada fase gugur Piala Dunia. 

Tak hanya itu, Maroko juga menjadi negara Afrika pertama yang mampu menembus babak perempat final dalam dua edisi Piala Dunia secara beruntun setelah sebelumnya mencapai semifinal pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

Di luar urusan sepakbola, Maroko selama ini dikenal memiliki kedekatan hubungan sejarah panjang dengan Indonesia. Bahkan sejak sebelum Maroko meraih kemerdekaannya dari Prancis dan Spanyol pada tahun 1956.

Peran Maroko Sebarkan Islam di Nusantara

Mantan Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Prof. Laode Kamaluddin Ph.D., pernah menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dan Maroko tidak hanya dibangun melalui diplomasi modern, tetapi telah terjalin sejak berabad-abad silam. 

Dikutip situs resmi Unissula, Senin (6/7/2026), Prof Laode menyebut bahwa proses  penyebaran Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari peranan penting sejumlah tokoh ulama asal Maroko.

Salah satu tokoh ulama besar asal Maroko yang sangat dikenal masyarakat di Indonesia adalah Maulana Malik Ibrahim. Ia merupakan salah satu anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. 

Selain itu, penjelajah asal Maroko Ibnu Battutah juga menjadi sosok yang populer di Indonesia. Ia banyak meninggalkan catatan penting mengenai Nusantara melalui kisah perjalanannya yang menjadi referensi sejarah dunia.

Hubungan erat antara Indonesia dan Maroko juga terjalin saat era pemerintahan Presiden Sukarno. Ketika Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955, saat itu Maroko masih berada di bawah penjajahan Prancis. 

Semangat Anti-Kolonial

Semangat antikolonial yang digaungkan Presiden Sukarno dalam konferensi tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi bagi perjuangan rakyat Maroko menuju kemerdekaan.

Setelah Maroko merdeka pada 1956, Presiden Soekarno bahkan menjadi kepala negara pertama di dunia yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Maroko. Berkat dukungan itu, nama Sukarno pun diabadikan sebagai nama jalan vital di Rabat Ibukota Maroko hingga saat ini.

Pada 2 Mei 1960 Sukarno bahkan datang langsung ke Maroko untuk meresmikan jalan dengan namanya sendiri tersebut. Kedatangannya disambut langsung oleh Raja Maroko Mohammed V, Putra Mahkota Moulay Hassan, para pejabat tinggi kerajaan, hingga ribuan rakyat Maroko yang memadati jalan-jalan ibu kota.

Penyambutan itu berlangsung sangat meriah. Pasukan berkuda suku Berber turut dikerahkan dan melepaskan tembakan kehormatan sebagai simbol kegembiraan. Soekarno dan Raja Mohammed V bahkan berdiri bersama di atas mobil terbuka sambil melambaikan tangan kepada masyarakat yang memenuhi sepanjang perjalanan menuju Kota Rabat.

Jalan Sukarno dan Jalan Indonesia

Selain Jalan Sukarno, Maroko juga mengabadikan nama-nama Indonesia di jalanan Ibukota mereka. Antara lain Jalan Indonesia, Jalan Bandung, dan Jalan Jakarta. Nama-nama tersebut menjadi simbol penghormatan masyarakat Maroko terhadap dukungan Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan mereka.

Di Indonesia sendiri nama kota terbesar di Maroko yakni Casablanca juga diabadikan sebagai nama jalan di Jakarta. Hal ini dilakukan sebagai bentuk balasan penghormatan Indonesia kepada Maroko. 

Besarnya pengaruh dan dukungan Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Maroko, juga terlihat dari munculnya ungkapan cukup terkenal di Maroko saat itu, yakni, “Bangsa Indonesia telah memberikan contoh kepada kami bagaimana memperlakukan penjajah.” 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar