Mengakhiri Karier Profesional dengan Tandukan di Final Piala Dunia

4 Min Read
Two soccer players clash for the ball during a match: one in blue on the left and a bald man in white on the right.
Zinedine Zidane (putih) menanduk Marco Materazzi (biru) di final Piala Dunia 2006 di Berlin, Jerman. Aksi ini menjadi salah satu momen bersejarah yang pernah terjadi di final Piala Dunia (Foto: REUTERS)

Mabur.co – Setelah berlangsung lebih dari satu bulan, perhelatan Piala Dunia 2026 akan mencapai puncaknya pada akhir pekan ini.

Di mana babak final akan mempertemukan dua raksasa sepakbola antara Spanyol dan Argentina, yang akan bertanding di MetLife Stadium, New York New Jersey, Amerika Serikat, Senin dini hari nanti (20/7/2026).

Dalam sejarahnya, final Piala Dunia selalu melahirkan sejumlah momen unik, yang tidak banyak terjadi di pertandingan-pertandingan kompetisi lainnya, baik di level tim nasional maupun klub.

Salah satu momen yang cukup mengguncang dunia terjadi tepat 20 tahun lalu, yakni di final Piala Dunia 2006 yang mempertemukan Italia dan Prancis di Olympia Stadion, Berlin, Jerman, pada 9 Juli 2006.

Zinedine Zidane, salah satu pesepakbola terbaik asal Prancis yang juga keturunan Aljazair, harus mengakhiri karier sepakbola profesionalnya yang begitu gemilang dengan sebuah tandukan tajam ke arah bek Italia, Marco Materazzi.

Awal Mula Kisah “Tandukan Maut”

Soccer scene: a blue‑kit player lies on the pitch after a fall, with another blue player standing nearby and a white‑kit opponent watching in the background.
Kapten timnas Italia, Fabio Cannavaro, mempertanyakan aksi headbutt (tandukan) yang dilakukan Zidane terhadap Materazzi. (Foto: News Corp Australia)

Dilansir dari laman FOX Sports Australia, Sabtu (18/7/2026), kejadian ini berawal dari sebuah situasi di area kotak penalti pertahanan Italia, di mana percobaan serangan dari Prancis berhasil digagalkan oleh gelandang AC Milan, Gennaro Gattuso.

Materazzi yang bertugas mengawal Zidane dalam situasi serangan tersebut, mencoba menghalangi pergerakannya dengan cara memeluk, sembari mengucapkan sepatah-dua patah kata di tengah-tengah aksi pengawalan.

Dalam keterangannya beberapa tahun setelah kejadian itu, Materazzi berkata bahwa Zidane merasa terganggu dengan cara Materazzi mengawalnya dalam situasi serangan tersebut.

Zidane pun berkelakar bahwa ia akan memberikan kausnya (yang dipakai pada pertandingan final tersebut) kepada Materazzi setelah laga usai.

Namun bek jangkung asal Inter Milan itu justru menjawabnya dengan nada sedikit bercanda, bahwa ia lebih menginginkan adik perempuan Zidane (Lila Zidane) ketimbang kaus yang dikenakan sang kakak di pertandingan malam itu.

Sontak Zidane pun merasa terpancing, dan ia balik menoleh ke arah Materazzi, langsung mengarahkan kepalanya ke dada bek Italia tersebut. Terjadilah tandukan maut ikonik yang menjadi penutup karier Zidane di sepakbola profesional.

Sekitar satu bulan sebelumnya, Zidane juga telah memutuskan gantung sepatu dari klubnya, Real Madrid, di akhir musim 2005-2006.

Dengan kata lain, Zidane telah lebih dulu memutuskan pensiun di level klub, barulah setelah itu pensiun di level tim nasional, dengan membawa Prancis melenggang ke babak final Piala Dunia 2006.

Footballer wearing a white France jersey with number 10 stands on a podium beside the FIFA World Cup trophy on a green pitch, with suited officials nearby
Zinedine Zidane melewati trofi Piala Dunia 2006 setelah diusir keluar lapangan akibat menanduk Marco Materazzi dengan kepalanya. (Foto: REUTERS)

Setelah Zidane diusir keluar lapangan, pertandingan yang memasuki babak extra-time saat itu menjadi semakin sulit bagi Prancis. Mereka pun akhirnya takluk dengan skor 5-3 lewat babak adu penalti, setelah sebelumnya berakhir imbang 1-1 selama 120 menit.

Uniknya, dua gol dalam pertandingan ini juga dicetak oleh dua nama yang terlibat dalam insiden headbutt (tandukan maut) tersebut, yakni Zinedine Zidane serta Marco Materazzi.

Meski diusir keluar lapangan oleh wasit asal Argentina, Horacio Elizondo, Zidane tetap menerima penghargaan sebagai pemain terbaik turnamen (Golden Ball).

Namun ia urung hadir dalam penerimaan award tersebut, yang berlangsung di tengah-tengah perayaan gelar juara yang diraih Italia.

***

Sebuah cara yang sangat tidak biasa bagi seorang maestro sepakbola seperti Zidane, untuk mengakhiri karier sepakbolanya di final Piala Dunia bersama tim nasional Prancis.

Bukan dengan mengangkat trofi yang diidam-idamkannya, melainkan dengan tandukan maut yang terus dikenang dunia, bahkan setelah 20 tahun lamanya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar