Mabur.co – Ribuan warga memadati kawasan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk menyaksikan tradisi acara Saparan Bekakak, Jumat (17/7/2026) sore.
Sejak siang masyarakat dari berbagai daerah mulai berdatangan memenuhi sisi jalan yang menjadi jalur kirab sepanjang kurang lebih 5 kilometer, mulai dari kantor Kalurahan Ambarketawang, hingga finis di situs petilasan Gunung Gamping.
Tidak hanya warga masyarakat sekitar, sejumlah wisatawan dari luar Yogyakarta hingga mancanegara juga tampak antusias menyaksikan setiap rangkaian prosesi acara.
Rute Kirab
Kepadatan pengunjung terlihat di sepanjang rute kirab di antaranya seperti Jalan Wates, sekitar Pasar Gamping, Ring Road Barat, hingga Jalan Gunung Gamping.

(Foto: JH Kusmargana)
Tak sedikit warga bahkan rela datang lebih awal demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan pawai dan karnaval budaya yang terdiri dari iring-iringan gunungan hasil bumi, prajurit bregada, atraksi ogoh-ogoh, hingga sepasang bekakak atau boneka pengantin yang menjadi simbol utama tradisi tersebut.
Saat kirab mulai berlangsung, warga nampak langsung mengabadikan momen langka tersebut dengan merekamnya dengan menggunakan telepon genggam mereka.
Anak-anak, orang dewasa hingga lansia tampak antusias dan tak ingin ketinggalan menyaksikan tradisi ratusan tahun yang hanya terjadi setiap setahun sekali itu.
Lestarikan Adat Istiadat
Salah seorang pengunjung, Agus asal Temon, Kulon Progo, bahkan rela jauh-jauh datang bersama keluarga demi bisa menyaksikan acara Saparan Bekakak ini. Selain sebagai hiburan, ia juga mengaku datang untuk ikut melestarikan budaya dan adat istiadat yang ada.
“Sudah 2 tahun terakhir ini selalu datang. Buat hiburan sama keluarga sambil ikut nguri-uri budaya yang ada,” katanya.

Pengunjung lainnya, Margono, asal Godean bahkan mengaku sudah datang sejak Kamis malam kemarin, untuk mengikuti rangkaian tradisi acara Saparan Bekakak ini. Termasuk melihat pertunjukan kesenian wayang kulit serta jatilan.
“Saya sudah sejak kemarin datang ke sini. Karena mau lihat jatilan dan wayangan di lapangan dekat kalurahan. Tiap tahun mesti ikut tradisi ini,” katanya.
Iwan, warga asli Jakarta, yang baru pertama kali datang mengaku kagum, melihat tradisi semacam ini. Selain tidak pernah ditemui di tempat asalnya, tradisi semacam ini juga dinilai sangat menarik sebagai tontonan dan hiburan.
“Saya asli Jakarta. Kebetulan baru setahunan tinggal di sini. Jadi ini baru pertama kali lihat. Bagus keren. Di Jakarta tidak pernah ada tradisi semacam ini. Semoga bisa terus dilestarikan,” katanya.
Magnet Turis Asing
Tak hanya menjadi daya tarik bagi masyarakat lokal, tradisi Saparan Bekakak juga mampu menjadi magnet bagi sejumlah turis asing asal mancanegara. Nampak sejumlah bule juga turut datang untuk menyaksikan dan mengabadikan tradisi ini.

Salah satunya, Anna, turis asal Australia. Ia mengaku sengaja datang ke tempat ini karena penasaran dan ingin menyaksikan langsung tradisi Saparan Bekakak ini.
“Kebetulan saya tahu ada tradisi ini melalui internet. Sehingga saya datang ke sini untuk melihatnya langsung. Bagi saya sangat menarik. Apalagi saya juga baru pertama kali melihatnya,” ungkapnya.
Tingginya antusiasme masyarakat untuk hadir dalam kegiatan ini, menjadi bukti bahwa tradisi Saparan Bekakak masih memiliki daya tarik luar biasa di tengah era modern saat ini.
Selain menjadi upaya pelestarian budaya warisan leluhur, tradisi ini juga mampu menjadi magnet wisata untuk menarik ribuan pengunjung untuk datang dan mengenal lebih dekat kekayaan budaya di Yogyakarta.
